Rabu dalam Masa Biasa XXII

31 Agustus 2011
Kol 1: 1-8  +  Mzm 52  +  Luk 4: 38-44
 
 
 
Lectio :
Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.
Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.
Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus." Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.
 
 
Meditatio :
'Engkau adalah Anak Allah'.
Pernyataan ini bukanlah pernyataan iman kepercayaan, melainkan sebuah pernyataan pengetahuan dari kuasa kegelapan akan Yesus Kristus, yang juga kita renungkan dari Injil kemarin. Sekali lagi kuasa kegelapan itu mengetahui Yesus dengan tepat dan benar, dan mereka takut dan gentar terhadap Yesus.  Mereka mengetahui tetapi tidak percaya dan bertobat. Siapakah mereka itu?  Masih adakah sekarang ini? Yesus malahan melarang mereka menyampaikan pengetahuan mereka. 'Yesus  dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias'. Kita pun tidak akan diijinkan oleh Yesus untuk mewartakan pesan-pesan Kitab Suci, kalau memang kita tidak percaya kepadaNya. Pewartaan kebenaran adalah kelanjutan dari penerimaan diri akan kebenaran itu; pewartaan sabda Tuhan perwujudan iman seseorang; tanpa iman akan Kristus, tiada gunanya seseorang mewartakan sabda. Semuanya itu hanya kebohongan belaka dan kemunafikan hidup. Bagaimana seseorang  hendak memberikan sesuatu, kalau memang dia tidak mempunyai apa-apa.
Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka.
Banyak orang menahan Yesus, karena mereka  melihat dengan mata kepala sendiri apa yang telah dilakukan Yesus di tengah-tengah mereka. Dia telah mengajar dengan penuh kuasa dan Dia mampu mengadakan mukjizat, yang memberikan sukacita. Keberadaan Yesus di tengah-tengah kota kami, akan membuat kota kami termashyur dan kudus. 'Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus', tegas Yesus kepada mereka. Pemberitaan Injil, pewartaan kabar sukacita dan penyampaian kehendak Allah Bapa di surge  adalah fokus perutusan Yesus, dan bukannya penyembuhan orang-orang sakit. Mukjizat penyembuahan mengajak setiap orang untuk semakin berpaut kepada Tuhan sang Empunya kehidupan ini. Memberhentikan Yesus di Kapernaum berarti membatasi gerak karya penyelamatan kepada segala bangsa, membatasi dan melarang orang-orang untuk menikmati keselamatan Allah.
Demikian juga memberhentikan pewartaan kabar sukacita dan adanya ketidakmauan keluarga atau komunitas untuk berbagi kasih berarti menutup kemungkinan orang lain beroleh selamat. Komunitas yang sibuk dengan dirinya sendiri, karena memang telah mengalami banyak karunia yang indah dan mulia, tetapi membiarkan anggotanya berdiam diri dan tidak berbagi keselamatan kepada sesamenya akan mendatangkan kecaman dan tulah dari Yesus sendiri. Khorazim dan Kapernaum  (Luk 10: 13-15) adalah kota-kota yang mengingatkan kita untuk semakin berani membuka diri kepada kehendak dan kemauan Tuhan Yesus. Tuhan Allah menghendaki semua orang beroleh selamat dan kita diundang ambilbagian di dalamnya.
Paulus dalam surat kepada umat di Kolose, sebagaimana kita renungkan  dalam bacaan pertama juga, mengajak kita untuk berani mengevaluasi sejauhmana kita telah ambil bagian dalam tugas perutusan itu. Ucapan syukur Paulus menanyakan kembali sejauhmana umat yang telah mendapatkan kabarsukacita itu menghayati benih-benih iman dan kasih yang telah ditaburkan dalam diri mereka. Ketidakberanian kita untuk bertanya kembali dan mengunjungi orang-orang yang ada di sekitar kita berarti memberhentikan Yesus untuk tinggal di Kapernaum.
Kata Paulus kepada umat di Kolose, orang-orang yang telah mendengarkan kabarsukacita: 'kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu, karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil, yang sudah sampai kepada kamu. Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia, demikian juga di antara kamu sejak waktu kamu mendengarnya dan mengenal kasih karunia Allah dengan sebenarnya'.
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, Engkau selalu menyampaikan kehendak Bapa yang menyelamatkan kepada kami. Engkau menghendaki semua orang beroleh selamat. Semoga kemauanMu itu juga semakin menjadi kesadaran bagi kami untuk berani ikutserta dalam berbagi kasih dalam karya penyelamatan. Tak jarang, ya Tuhan, kami memperkenyang diri kami sendiri, baik dalam hal rohani dan jasmani, dan melupakan sesame kami yang berkekurangan dan memang harus kami bantu.
Ya Yesus, semoga perayaan Idul Fitri yang kami nikmati hari ini semakin menambah semangat kami untuk berani berbagi kasih kepada sesame; kami ingin kembali kepada fitrah dan jati diri kami yang penuh kasih seperti Engkau sendiri. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus'.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening