Sabtu dalam Masa Biasa XIX

13 Agustus 2011
Yos 24: 14-29  +  Mzm 16  +  Mat 19: 13-15
 
 
 
Lectio :
Suatu hari orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.
 
 
 
Meditatio :
'Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga'.
Tegas Yesus kepada para muridNya, sebab mereka melarang dan memarahi orang-orang yang membawa anak-anak kecil datang kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka. Entah alasan apa, sehingga mereka melarang anak-anak datang kepada Yesus. Apakah mereka merepotkan? Yang jelas mereka, anak-anak ini,  termasuk orang-orang yang tidak diperhitungkan, kelas dua (Mat 14: 21).  Yesus membiarkan anak-anak datang kepadaNya, lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka.
Yesus malahan mencontohkan bahwa 'orang-orang yang seperti inilah yang empunya Kerajaan Sorga', sebab memang tak dapat disangkal kejujuran dan kepolosan hati anak-anak menyenangkan hati orangtua; kepercayaan dan kebergatungan diri kepada orangtua membuat hati orangtua semakin terpaut kepada mereka. Semuanya ini juga pasti menyenangkan hati Tuhan, sang Empunya kehidupan. Mereka itu menjadi empunya Kerajaan Surga, karena memang mereka membiarkan diri dikuasai dan dibimbing oleh Tuhan, sang Raja kehidupan; pengetahuan mereka hanya mengenai Dia yang berkuasa atas hidup. Setiap orang harus berani bertindak seperti mereka, anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus ini, dalam mengolah kehidupan ini.
Pengalaman anak yang dihidupi oleh orangtuanya sulit memisahkan seorang anak dari  dekapan  kasih ibu. Seorang anak akan selalu memandang seseorang yang selalu menggendong dan menyayanginya, seseorang yang menyapa dan memberinya senyum, seseorang yang setia mendengarkan jeritan dan membantu dirinya meraup sesuatu, seseorang memberinya minum dan sesuap makanan. Seorang anak akan selalu memandang seseorang yang mengasihinya!
(Keterlaluan juga, sebagaimana disitir dalam Injil kemarin mereka orangtua yang ingin bercerai hanya supaya bisa kawin lagi).
Ketika Israel ditantang oleh Yoshua: 'sekarang juga, jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!'. Secara serentak bangsa itu menjawab: 'Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain! Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui, TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kami pun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita'.
          Yosua pun mengingatkan: 'tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu. Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu'.
          'Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah', seru bangsa Israel dengan penuh semangat, karena memang merasakan sungguh Tuhan Allah yang mendampingi umatNya.
          Kitapun adalah orang-orang yang merasakan kasih setia Tuhan Yesus tentunya.
 
Seorang anak pernah mengadu:
Saya sungguh-sungguh dikasihi oleh kedua orangtua, ketika saya berada dalam kandungan. Kehadiranku sungguh-sungguh dirasakan. Setiap saat kedua orangtuaku menyayangiku; aku rasakan sungguh, mereka membelai aku; tangan-tangan kasih selalu memeluk aku. Ibu selalu memilih pola makan yang terbaik untuk aku. Dia selalu membuat gerakan-gerakan badan yang menyehatkan. Dia membuat aku sungguh-sungguh hidup bahagia. Mereka benar-benar mempersiapkan  aku memandang dunia nyata dalam terang cahaya matahari.
Kelahiranku membahagiakan keluarga! Tiga bulan aku dalam dekapan ibu. Aku sungguh anak mama.
Sesudah itu, ibu mundur dari padaku, aku menjadi anak oma sekitar dua tahunan.
Aku sudah mulai banyak bergerak, aku pun menjadi anak suster.
Semenjak duduk di bangku esde, aku sudah menjadi anak sekolah.
Kedua orangtuaku tetap memantau dan memantau aku, mereka memberi aku livingcost, karena memang mereka menghendaki aku jadi anak pandai.
Sekedar pengaduan anak, kelas dua.
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, Engkau tidak melarang anak-anak datang kepadaMu. Kejujuran mereka malahan membahagiakan Engkau. Semoga kami pun membiarkan orang-orang yang Engkau kasihi datang kepadaMu, malahan kamilah yang berani menghantar mereka melewati kerumunan banyak orang.
Yesus, jadikanlah orang-orang yang jujur kepadaMu. Amin.
 
Contemplatio :
          Biarkanlah mereka datang kepadaKu.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening