Selasa dalam Masa Biasa XVIII

2 Agustus 2011
Bil 12: 1-13  +  Mzm 51  +  Mat 15: 1-2.10-14
 
 
 
Lectio :
Suatu hari datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: "Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan." Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka: "Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."
Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?" Jawab Yesus: "Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang."
 
 
Meditatio :
'Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan'.  
Pertanyaan itulah yang diarahkan oleh beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus. Mereka itu para ahli kitab, tetapi yang dipersoalkan adalah tradisi nenek moyang, yakni soal tidak membasuh tangan sebelum makan, dan bukan persoalan kitab suci.  Adalah hal yang amat kecil sebenarnya, yakni membasuh tangan sebelum makan, dan bukannya persoalan utama dalam praksis adat istiadat. Namun sepertinya mereka, orang-orang Farisi dan ahli Taurat ini, sengaja mempersoalkan hanya untuk mencobai Yesus.
'Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang', tegas Yesus. Najis adalah ketidakpantasan seseorang di hadapan Tuhan, karena memang dia berlumuran dosa. Dan dosa seseorang itu pasti berasal dari dalam hati, dan bukannya dari luar; segala sesuatu yang dari luar mungkin hanya penggerak atau pemicu munculnya dosa dan kesalahan yang timbul dari dalam diri seseorang. Saya mau berdosa atau tidak, adalah keputusan hati yang diambil secara sadar, tahu dan mau untuk melakukan atau tidak. Kata-kata yang keluar dari mulut seseorang bersumber dari dalam pikiran dan hati manusia.  Kata-kata yang berhiaskan kemarahan dan kebencian, kebohongan dan tipuan, dan semua yang mengumbar hawa nafsu membuat seseorang najis di hadapan Tuhan.
Sebaliknya, seseorang yang menjadi sakit, karena tangannya kotor dan tidak membasuhnya terlebih dahulu sebelum makan, tidak membuat dia menjadi najis di hadapan Tuhan. Dia hanya sembrono dalam urusan kesehatan. Sakit parah yang diidap seseorang tidak membuat dia berdosa di hadapan Tuhan, malahan kita harus membantu dia supaya sehat kembali, malahan kita harus mendoakan dia agar semakin tabah dan sabar menanggung salib yang dipanggulnya itu. Sakit dan penyakit tidak mengurangi keberadaan seseorang berjumpa dengan Tuhan; maaf, termasuk kekudusan gereja sama sekali tidak dinajiskan oleh kehadiran seorang perempuan yang sedang sakit bulanan. Perempuan mengalami semuanya itu, bukan karena bunda salah mengandung; itu adalah kodrat manusia.
'Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?' komentar para muridNya kepada Yesus. Karena memang ucapan Yesus tadi sungguh-sungguh menampar mereka, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, karena mereka mengajarkan semua hal yang berkaitan dengan adat isitadat nenek moyang, dan bukannya isi dari Kitab Suci; dan mereka sendiri tidak paham dan mengerti betul apa yang diajarkan. Apa yang mereka persoalkan menunjukkan kemampuan para ahli Kitab dan orang-orang Farisi. Mereka tidak mewartakan sabda Allah, melainkan hanya menyampaikan pengetahuan-pengetahuan yang ada dalam benak pikiran mereka.
Suatu refleksi bagi para pewarta sabda: apa yang mereka wartakan dalam pengabaran Injil? Sabda dan kehendak Tuhan atau segala pengetahuan yang mereka miliki? 'Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit' (Yes 5: 20); yang semua disampaikan demi kenyamanan diri? Seorang pewarta harus menyampaikan kehendak Tuhan, entah itu manis atau pahit menurut kita. Sayangnya kita sendiri umat, juga tidak kritis dalam mendengarkan sabda; bukan sabda yang kita ingat, tetapi: dia lucu, suaranya menggelegar, suaranya lembut, orangnya menarik, pengetahuannya luas, dsb.dsb; tak dapat disangkal memang kharisma seseorang dan teknik penyampaian amat mendukung dalam karya pewartaan, tetapi hendaknya tidak mengaburkan pesan dan kehendak Tuhan Yesus, yang harus disampaikan. Segala keterbatasan sang pewarta malahan mengajak kita semakin berani menerima keberadaan orang lain apa adanya. Mengkatai-katai seorang nabi akan menurunkan tulah nabi, sebagaimana dialami Harun dan Miryam yang diceritakan dalam bacaan pertama tadi.
'Setiap tanaman yang tidak ditaam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang'. Untunglah kita mempunyai  seorang Guru yang benar dan setia, yakni Kristus Yesus, sebab memang hanya melalui Dia akan sampai kepada Bapa (Yoh 14: 6).
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus, Engkau menerima kami apa adanya. Engkau tidak memperhitungkan dosa dan keselahan kami, asalkan kami berani datang dan datang kepadaMu. Murnikanlah hati dan budi kami, agar kami kedapatan layak dan pantas di hadapanMu, dan bukanlah menjadi seorang najis. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Yesus sucikanlah hati kami
 
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening