Selasa dalam Masa Biasa XXII

30 Agustus 2011
1Tes 5: 1-11  +  Mzm 27  +  Luk 4: 31-37
 
 
 
Lectio :
Suatu hari Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa.
Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya.
Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: "Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar." Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.
 
 
Meditatio :
'Banyak orang takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa'.
Itulah yang terjadi pada saat Yesus mengajar banyak orang di Kapernaum, sebuah kota di Galilea. Banyak orang terkagum-kagum karena pengajaranNya. PerkataanNya penuh kuasa, karena memang Yesus menyampaikan kehendak Allah. Aku tidak menyampaikan kata-kataKu sendiri, apa yang Kudengar dari BapaKu, itulah yang Aku sampaikan kepadamu (Yoh 8: 26). Setiap pewarta sabda akan sungguh-sungguh didengarkan oleh umatnya dan benar-benar membawa dan mampu menghantar banyak orang untuk memuji dan memuliakan Allah Bapa di surge, kalau dia menyampaikan sabda dan kehendak Tuhan, dan bukannya kata-katanya sendiri. Pewarta sabda tidaklah bertugas untuk membuat orang bergembira dan bertepuktangan, melainkan benar-benar menyampaikan kebenaran, sebagaimana yang kita renungkan kemarin bersama santo Yohanes Pembaptis. Janganlah gentar memberitakan terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!
'Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah'.
Kekaguman umat Allah menjadi kegentaran kuasa kegelapan. Semakin banyak orang berpaling dan kagum kepada Allah semakin besar kegelisahan kuasa kegelapan. Sebab kuasa kegelapan mengenal baik keluhuran, keagungan dan kemuliaan kuasa Allah, sebab hanya Allah yang menyelamatkan, dan hanya kepada Dia, setiap orang memang harus  merundukkan diri. Karena itu, tiada henti-hentinya kuasa kegelapan mengalihkan perhatian umat beriman dari Allah. Dengan segala daya tarik dan tipu muslihatnya, kuasa kegelapan berusaha untuk menarik dan menarik sebanyak-banyaknya orang dari kuasa kasih Allah. Kuasa kegelapan tidak menghendaki manusia selamat.
'Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah', teriak seseorang yang kerasukan setan; sebuah teriakan yang menampakkan ketidakberdayaan, sebuah teriakan yang mengakui bahwa: di hadapan Allah kita tidak bisa berbuat apa-apa, Dialah Penguasa kehidupan. Kuasa kegelapan mengakui dirinya kalah, lumpuh dan tidak mampu berbuat apa-apa di hadapan Tuhan Yesus. Yesus tidak memarahi orang yang kerasukan setan, karena memang dia bisu dan tuli hatinya; sebaliknya dengan keras Yesus menghardik setan itu: 'diam, keluarlah dari padanya!'.  Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya.
Memang benarlah,  semua orang takjub, lalu berkata-kata: 'Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar'.
Ada dua pesan yang kita ambil Injil hari ini. Pertama, kalau kuasa kegelapan saja takut, mengaku kalah dan merunduk di hadapan Tuhan sang Penguasa kehidupan, sungguh aneh dan bodoh, walau itulah kenyataan hidup, kalau ternyata masih ada orang-orang yang tidak mau merundukkan dan berserah diri kepadaNya. Bahkan ada orang-orang yang sudah menyatukan diri dalam GerejaNya, tetapi masih berani-beraninya mereka menoleh daripadaNya dan melirik kepada kuasa-kuasa kegelapan yang memamerkan keindahan yang plastik dan semu.
          Kedua, sebagaimana kuasa kegelapan yang tidak menghendaki kita umat Allah semakin berpaut kepada Allah, Paulus dalam bacaan pertama tadi, dengan bertitiktolak pada kasih Kristus mengajak kita, katanya: 'saudara-saudariku, kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. Kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadarlah. Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia. Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan'. Orang yang berjaga-jaga adalah orang yang kagum dan terpesona kepada Kristus, dia merindukan kehadiranNya, dia merindukan sapaanNya, karena hanya dalam Dia kita merasakan sungguh makna hidup ini. Dengan bertambahnya waktu dan berhembusnya angin, kita semakin merindukan selalu bersama denganNya.
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, Engkau selalu menyampaikan kehendak Bapa yang menyelamatkan kepada kami. Kalau dalam Injil diceritakan tadi banyak orang kagum akan pengajaranMu yang penuh kuasa, demikianlah kami seharusnya dalam mendengarkan sabdaMu; hanya saja kami ini lemah dan sering jatuh. Kami malahan ingin segala terjadi secara cepat dan instan. Yesus, teguhkanlah kami. Amin.
 
Contemplatio :
          'Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah'.
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening