Jumat dalam Masa Biasa XXII

2 September 2011
Kol 1: 15-20  +  Mzm 100  +  Luk 5: 33-39
 
 
 
Lectio :
Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum." Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa."
Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."
 
 
Meditatio :
'Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum'.
Begitulah protes orang-orang Farisi kepada Yesus. Yesus pun sepertinya juga tidak mengingatkan mereka, malahan membiarkan mereka tidak berpuasa sepertinya. Berpuasa dan sembayang adalah kewajiban agama yang sudah dipraktekkan turun-temurun dalam perdaban sejarah Israel. Yesus dan bersama para muridNya sebagai komunitas baru membuat sesuatu kebiasaan yang  bertentangan dengan cara hidup agama yang benar. Mereka tidak bersalah menegur dan mengingatkan komunitas Yesus!
'Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?', tegas Yesus kepada mereka. Sepertinya mereka mempunyai kebiasaan baru, tidak bergantung pada kebiasaan lama. Kalau sekarang ini mereka tidak berpuasa, mohon dipahami, 'tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa'. Berpuasa tidak ditentukan oleh masa tertentu, melainkan  situasi dan kondisi yang berperan. Mereka semua, para murid tidak berpuasa, karena memang mereka sedang bersama dengan sang Kehidupan itu sendiri. Hidup para murid dalam pantauan langsung oleh sang Mesias. Tuhan Yesus pasti akan menegur mereka, bila mereka melawan kehendak dan kemauan Allah. Dalam Injil Minggu kemarin, Yesus dengan tegas menegur keras Petrus, yang hanya memikirkan diri sendiri (Mat 16: 21-27), dan tidak mau mengutamakan kehendak Allah. Dalam praktek kehidupan bersama Yesus, teguran yang disampaikan kepada para muridNya hanya berkaitan dengan kehendak Allah, dan bukannya pada hal-hal praktis dan kecil berkenaan dengan hidup sehari-hari.
Berpuasa tidak perlu dilakukan bila seseorang tinggal bersama sang Pengantin, tetapi setiap orang wajib berpuasa bila dirinya merasa ditinggalkan dan jauh dari sang Pengantin. Sahabat mempelai laki-lakitak mungkin disuruh berpuasa,bila  mempelai itu bersama mereka, tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, mereka akan berpuasa. Sebab jauh dari Yesus berarti lepas bebas dari kendali sang Empunya kehidupan, sebaliknya kita tidak berdiam diri, kita diajak berusaha untuk mengendalikan diri, agar hati dan budi kita tetap terarah kepadaNya. Berpuasa, bukanlah soal makan dan minum, tetapi lebih pada pengendalian diri seseorang untuk mengarahkan dirinya hanya kepada Tuhan Allah. Kita harus mampu mengendalikan hidup! Inilah berpuasa.
Berpuasa bukan karena sekarang ditentukan sebagai masa puasa, berpuasa adalah kemauan hati untuk mengendalikan diri. Berpuasa tidak seperti seorang yang mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua, atau mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua.
Gereja umat Allah juga mempunyai masa puasa yakni masa Prapaskah yang menyambut dan mempersiapkan perayaan Paskah. Puasa dilihat sebagai keberanian untuk memanggul salib, sebagaimana dilakukan Kristus sendiri telah melakukannya demi keselamatan seluruh umat manusia. Seluruh umat diajak untuk berani menderita bersama Yesus dengan aneka penyangkalan diri; sebab dengan berpuasa seseorang diajak mengendalikan diri dari pelbagai keinginan tak teratur, yang memang sering menjauhkan manusia dari sang Khaliknya. Tantangan kehidupan bukanlah hanya terletak dalam aneka makanan dan minuman; makanan dan minuman hanyalah sebagian kecil dari aneka tantangan kehidupan yang harus dikendalikan. Puasa mengingatkan setiap orang untuk mampu menguasai diri dan mengarahkannya kepada hanya kepada Tuhan Kristus yang memang member kehidupan.
Kiranya pengenalan kita akan Yesus Kristus akan semakin menyemangati kita untuk berani mengendalikan diri dan berserah diri kepadaNya.
          Paulus dalam bacaan pertama menyampaikan kidung pujian kepada Kristus Tuhan. Katanya:
'Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus'.
 
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, Engkau Gambar Allah yang tidak kelihatan, dalam Engkaulah segala sesuatu diciptakan. Semoga berkat pengenalan kami kepadaMu , kami semakin tertarik kepadaMu, dan mampu mengendalikan diri kami dalam naungan kasihMu.
Yesus, berkatilah dan dampingilah saudara-saudari kami yang sakit. Mereka terpaksa harus berpuasa, harus mengurung diri di rumah saja, bahkan harus berbaring karena sakit. Semoga pengendalian diri mereka ini semakin memunculkan pertobatan dan semakin berani menaruh harapan hanya kepadaMu. Yesus berkatilah mereka semua. Amin.
 
 
Contemplatio :
Kita harus mampu mengendalikan hidup!
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening