Kamis dalam Masa Biasa XXIV

15 September 2011
Ibr 5: 7-9  +  Mzm 33  +  Yoh 19: 25-27
 
 
 
 
Lectio :
Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
 
 
Meditatio :
'Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena'.
Tiga orang ibu dengan setia berdiri menemani Yesus yang tergantung di salib, sedangkan para murid yang telah dipanggil, dipilih dan disayangiNya, banyak yang meninggalkan dan tidak menemaniNya. Dalam duka dan aneka persoalan hidup yang pahit dan tidak menyenangkan, kaum ibu lebih tabah dan setia. Kaum perempuan memang lebih mempunyai hati dalam memberi makna kehidupan; amatlah tepat bila memang kaum perempuan mendapatkan ibu kehidupan.
Amat tepatlah, kalau bunda Gereja hari ini memperingati Maria Berdukacita, karena memang Maria sungguh-sungguh mengerti dan memahami sang Putera yang diutus Bapa di surge; Maria yang pernah mendampingi Yesus di Betlehem dan terus menemani Anaknya yang terkasih itu, kini dengan tetap tegar dan setia berdiri di sampingNya. Maria memang tidak berdaya, dia pun tidak mempunyai keinginan dan kekuatan untuk membela Anaknya, sebagaimana yang pernah hendak dilakukan Petrus (Mat 16: 23), tetapi Maria begitu menaruh hati kepada Anaknya, yang hendak menyelesaikan tugas yang dipercayakan Bapa kepadaNya.
Maria bergembira, ketika Yesus dengan tangisan sukacita datang ke dunia; Dia datang sebagai seorang Anak Manusia yang manis dan mungil, tetapi tanpa daya sebagai seorang bayi kecil. Kini Maria berduka, karena Yesus, Anaknya, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama, 'mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Bapa, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan'. Sebagai seorang ibu, amat wajar bila jiwa Maria berduka bersama dengan Anaknya, tetapi dengan tabah dan setia Maria mengikut Anaknya, karena dia tahu benar siapakah Yesus anaknya ini (Luk 1: 30-38). Secara manusiawi Yesus disalibkan dan tampak secara kasad mata, tetapi pada saat itulah juga Yesus sang Putera ditinggikan dan dimuliakan, sebagaimana kita renungkan kemarin. Maria tahu bahwa 'sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya'.
'Ibu, inilah, anakmu!'.
Itulah yang dikatakan Yesus ketika melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya. Yesus meminta Maria supaya mendampingi anak-anaknya, karena memang Maria lebih berpengalaman dalam belajar tentang kehidupan ini. Maria mempunyai hati di dalam hidupnya. Dan di lain pihak, Yesus juga berkata kepada murid-murid-Nya: 'inilah ibumu!', yang memang mengajak para murid untuk berani belajar kepada sang ibu, seorang yang pernah ditantang untuk menerima diriNya, ketika hendak datang;  hanya orang-orang yang mempunyai iman percaya akan kasih Allah akan berani berkata 'aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu'.
'Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya' adalah tanda kemauan para murid menerima kehendak Yesus yang menyerahkan para muridNya, seluruh Gereja, umat yang disayangiNya, untuk belajar kehidupan dari ibuNya.
 
 
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus,  Engkau dicintai oleh Maria, ibuMu yang setia. Dia pun turut berduka, karena mengingat dosa-dosa kami. Namun semuanya itu mengundang belaskasihMu kepada kami, karena memang Engkau maharahim dan murah hati, dan Engkau menghendaki kami selamat.
Maria ibu yang baik, doakanlah kami. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Ibu, inilah, anakmu!'.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening