Sabtu dalam Masa Biasa XXIV

17 September 2011
1Tim 6: 13-16  +  Mzm 100  +  Luk 8: 4-15
 
 
 
 
Lectio :
Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan:
"Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"
Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.
Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."
 
 
Meditatio :
'Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti'.
Memang sulit mengerti kehendak Tuhan itu; di satu pihak Tuhan Allah menghendaki, agar semua orang beroleh selamat, tetapi ternyata tidak semua orang diberi karunia untuk mengenal rahasia Allah, malahan sengaja memang dibuatNya demikian,  agar sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Mengapa Tuhan tidak membuka rahasia Kerajaan Allah itu kepada semua orang? Bukankah Dia telah memanggil, Dia telah memilih, Dia telah menentukan  dan Dia telah mengasihiNya. Itu hak priviligi Tuhan. Namun kiranya harus tetap kita mengerti bahwasannya: Tuhan Yesus memberikan hal yang satu dan sama kepada semua orang, tetapi dengan cara yang berbeda, kepada yang satu diberikanNya secara cuma-cuma, yakni kasih karuniaNya, tetapi kepada yang lain harus mendapatkannya dengan perjuangan, paling sedikit merenungkannya terlebih dahulu, hendak mengambilnya atau tidak.
Inilah arti perumpamaan itu:
'Benih itu ialah firman Allah.
Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.
Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.
Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.
Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan'.
Kebanyakan kita sulit mengatakan dan juga sulit mengakui, kita ini berada di wilayah mana, malahan jujur kita harus mengakui bahwa kita berada di wilayah abu-abu; tanah kehidupan kita tidaklah menentu. Suatu saat tanah kehidupan kita ini, bagaikan tanah yang subur dan menghasilkan banyak buah, kita begitu getol dalam berdoa dan berdoa, kita pun tak enggan-enggan berbagi kasih kepada sesame, kita merasakan sungguh betapa besar kasih Allah, kita puja dan kita puji sang Empunya kehidupan ini. Namun di hari siang bolong, keinginan untuk membangun tempat perlindungan yang aman begitu menguat dan tak terbendung; kita menutup diri karena kuatir akan adanya pencuri dan berkurangnya harta benda yang kita miliki; atau sebaliknya dan sebaliknya.
Bukan untuk mengadili, sepengetahuan kita, di antara kita ini: banyakkah yang telah menjadi tanah subur dan menghasilkan banyak buah? Bukankah juga di antara kita ini termasuk orang-orang, yang banyak menerima anugerah secara cuma-cuma, sebagaimana dikatakan di atas tadi? Kiranya orang yang menerima banyak juga hendaknya berani memberi banyak pula, sebagaimana diceritakan dalam Injil yang kita renungkan kemarin. Dan kiranya yang tidak boleh dilupakan, hendaknya kita semakin berpaut kepadaNya, hanya kepadaNyalah kita berunduk diri; keberserahan diri kepadaNya akan mendatangkan keselamatan. Paulus dalam bacaan pertama tadi meneguhkan: 'turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya, yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin'.
 
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, Engkau selalu menabur benih-benih sabdaMu dalam diri kami; dan menghendaki agar kami semakin hari semakin tumbuh segar dan menghasilkan banyak buah. Tuhan, tambahkanlah iman kami kepadaMu, agar kami semakin menjadi orang-orang yang tahu berterima kasih kepadaMu atas kasih karunia yang Engkau limpahkan kepada kami, dan semoga kami semakin menyadari bahwa ucapan terima kasih kami menambah keselamatan diri kami sendiri.
Santo Albertus, engkau begitu menaruh perhatian kepada para karmelit dalam menghayati usaha hidup sempurna. Engkaupun menggariskan hidup yang berkenan kepada Bapa di surge,  dengan hanya berlandasakan Kitab Suci, dan engkau menggoreskannya dalam regula Karmel. Doakanlah para karmelit agar mereka semua, kami semua, semakin menghayati sabda dan kehendak Tuhan Yesus sebagaimana tersurat dalam Kitab Suci, sehingga kami semua kedapatan setia sampai akhir hidup kami. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Terima kasih Tuhan!
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening