Selasa dalam Masa Biasa XXV

20 September 2011
Ezr 6: 14-20  +  Mzm 122  +  Luk 8: 19-21
 
 
 
 
Lectio :
Suatu  kali ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya: "Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau." Tetapi Ia menjawab mereka: "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya."
 
 
Meditatio :
'Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya'.
Sepintas jawaban Yesus ini mengecilkan hati ibu dan saudara-saudaraNya; seperti Yesus tidak mau mengakui keluargaNya. Boleh saja kita berpendapat begitu, terlebih-lebih bila kita arahkan kepada Maria, ibu Yesus; namun tentunya harus kita mengerti juga Maria malahan seorang murid Yesus yang paling setia. Maria adalah ibu dan sekaligus murid Yesus yang paling setia. Maria adalah satu-satunya orang yang menerima Yesus dalam pangkuannya ketika Dia lahir di Betlehem dan dialah pula yang menerima Yesus dalam pangkuannya, ketika Yesus diturunkan dari salib. Pieta, adalah sebuah patung yang melukiskan semuanya itu dengan indahnya.
Jawaban Yesus ini disampaikanNya ketika 'suatu  saat ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak' dan seseorang memberitahukan kepada-Nya: 'ibu dan saudara-saudaraMu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau'. Jawaban Yesus malahan membuka kesempatan bagi setiap orang untuk menjadi saudara-saudari Yesus, sebagaimana kehendak Bapa  sendiri, yang memang hanya dimungkinkan dengan mendengarkan  sabdaNya. Sebab mendengarkan sabda Allah adalah hokum wajib bagi setiap orang yang mau mengikuti Kristus. 'Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia' (Luk 9: 35). Ibu dan saudara-saudariNya adalah mereka yang mau dan berani mendengarkan diriNya, mendengar ajaran dan perintah-perintahNya, karena memang itulah kehendak Allah Bapa. Hanya sabda Tuhan yang menyatukan kita dengan banyak orang dalam Tuhan Yesus. Ada banyak aneka komunitas, tetapi hendaknya sabda dan kehendak Tuhan yang menjadi perhatian utama, bukan renungannya, bukan kotbahnya, bukan puji-pujiannya, bukan pula nubuat dan kesaksiannya; sebagaimana sabda itu kekal abadi, demikian pula komunitas yang melandaskan diri pada sabda dan kehendak Tuhan. Komunitas yang hanya suka menyitir Kitab Suci, tetapi tidak menjadikan sabda Tuhan sebagai perhatian utama, komunitas akan bersifat popular dalam sejarah Gereja.
Hal lain yang kiranya juga perlu kita renungkan adalah keberanian Yesus menerima setiap orang menjadi saudara dan saudariNya. Dia tidak memandang muka, mereka berasal dari mana, apa pekerjaannya, bagaimana perilaku mereka sebelum-sebelumnya. Keberanian untuk mendengarkan sabda Tuhan dan melakukannya menyatukan mereka semua dalam realitas surgawi. Keberanian Yesus menerima setiap orang, kiranya juga menjadi keberanian kita untuk menerima setiap orang yang hendak masuk komunitas kita, karena adanya kerinduan mendengarkan sabda Tuhan. Bagiku hidup adalah untuk Tuhan Yesus, sebagaimana dikatakan Paulus kemarin
Bacaan pertama menceritakan pengalaman umat Israel yang disatukan kembali setelah berada dari pembuangan; mereka bersatu dan masih mengingat segala yang  dikehendaki Tuhan, sebagaimana tersurat dalam Kitab Suci. Mereka 'melakukan ibadah kepada Allah yang diam di Yerusalem, sesuai dengan yang ada tertulis dalam kitab Musa'. Berkat sabda Tuhan mereka tidak dimakan oleh waktu. Mereka umat Israel tetap ada dan bersatu, karena sabda Tuhan.
 
 
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, mendengarkan firmanMu menyatukan kami, dan berkat firmanMu itu Engkau mengangkat kami menjadi putera-puteri Bapa di surge, sebagai saudara dan saudariMu. Semoga kami semakin merasakan persaudaraan yang memang Engkau limpahkan kpada kami. Yesus buatlah hati kami peka akan kehadiranMu. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya'.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening