Senin Pekan Biasa XXVI

26 September 2011
Zak 8: 1-8  +  Mzm 102  +  Luk 9: 46-50
 
 
 
 
Lectio :
Suatu hari timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar."
Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu."
 
 
Meditatio :
'Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku'.
Penegasan Yesus ini diberikan menanggapi pertengkaran di antara murid-muridNya tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Dan memang selama ini Yesus tidak pernah menyebut Petrus sebagai seorang ketua, hanya saja nama Petrus disebut pertama kali dalam deretan para Rasul.
'Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar', sambung Yesus. Seorang murid menjadi terbesar dari antara yang lain, karena memang dia diperkenankan menyambut Tuhan Bapa di surge, yang mengutus Yesus, yang ada hadir secara nyata dalam diri Yesus, 'Aku ada dalam Bapa dan Bapa ada dalam Aku' (Yoh 14: 11), yang memang secara sederhana dapat ditemukan dalam diri mereka yang kecil, 'sebab apa yang kamu lakukan untuk saudaraku yang paling hina ini, engkau melakukannya untuk aku' (Mat 25: 40). Dialah orang terbesar, karena mendapat kesempatan menyambut Bapa, sang Empunya kehidupan, dialah seorang ciptaan yang diijinkan menerima kehadiran sang Tuhan Pencipta. Dialah yang terbesar, yakni dia yang berani menyambut dan menerima anak kecil dalam kasih Allah.
'Menyambut anak kecil' begitu ditegaskan oleh Yesus, karena memang tidak semua orang berani dan begitu rela menyambut dan menerima orang-orang yang tak berdaya, mereka yang tidak mempunyai nama, orang-orang yang hanya bisa meminta bantuan, mereka yang rewel dan merepotkan saja, mereka yang lemah dan sakit, mereka yang miskin dan bersengsara, juga orang-orang yang tidak sepihak dan bahkan berlawanan. Apa untungnya melayani mereka? Kita tidak mendapatkan apa-apa, malahan kita harus mengeluarkan biaya, mengorbankan tenaga dan waktu, dan menaruh perhatian kepada mereka! Namun memang hanya dalam namaNya yang adalah kasih, seseorang dapat melakukan semuanya ini dalam sukacita dan tanpa beban sedikitpun. 'Tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatnya' (Yoh 15: 13). Keagungan hanya dapat ditemukan, bukan dalam kehebatan nama dan karya, melainkan hanya dalam kesederhanaan dan kasih.
Mereka yang tidak ada di luar komunitas kita dan tidak sepihak dengan kita adalah orang-orang yang harus kita perhatikan dan kita kasihi. 'Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu' tegur Yesus kepada Yohanes. Kesombongan hidup dalam komunitas menghinggapi diri Yohanes. Kebanggaan diri sebagai anggota kamunitas itu baik memang, tetapi tindakan yang berlebih-lebihan, karena merasa komunitas sendiri lebih baik dan paling baik, malahan meremehkan komunitas-komunitas lain, adalah sebuah tindakan yang tidak terpuji; karena memang tiada kasih di dalamnya. 'Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita',  inilah kesombongan komunitas!
Keindahan Sion dan kotanya Yerusalem tidaklah ditampakkan, karena ditopang oleh kekuatan dan bentengnya yang kokoh, melainkan karena kehadiran Tuhan Allah sendiri yang menerima semua umat yang dikasihiNya. Dia tidak membedakan satu dengan lainnya. Zakharia dalam bacaan pertama menggambarkan: 'beginilah firman TUHAN: Aku akan kembali ke Sion dan akan diam di tengah-tengah Yerusalem. Yerusalem akan disebut Kota Setia, dan gunung TUHAN semesta alam akan disebut Gunung Kudus. Akan ada lagi kakek-kakek dan nenek-nenek duduk di jalan-jalan Yerusalem, masing-masing memegang tongkat karena lanjut usianya. Dan jalan-jalan kota itu akan penuh dengan anak laki-laki dan anak perempuan yang bermain-main di situ. dan Aku akan membawa mereka pulang, supaya mereka diam di tengah-tengah Yerusalem. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran'. Kemajemukan komunitas-komunitas di Yerusalem semakin menyenangkan hati Tuhan.
 
 
Oratio :
 
Yesus, ajarilah kami mengungkapkan keberundukan diri kami kepadaMu itu dalam pergaulan kami sehari-hari. Kerajinan kami dalam doa dan mendengarkan sabdaMu, hendak kami ungkapkan dalam kasih terhadap sesame yang ada di sekitar kami.
Yesus, bantulah kami selalu. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Siapakah yang terbesar di antara kita?
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening