Minggu Pekan Biasa XXIX

16 Oktober 2011
Rom 4: 13.16-18  +  Mzm 105  +  Luk 12: 8-12
 
 
 
 
Lectio :
Suatu hari orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.
Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
 
 
Meditatio :
'Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan menga
'Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?'
Sebuah pertanyaan yang diajukan orang-orang Farisi untuk menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Sebab ternyata orang-orang Farisi ini bukanlah pembayar pajak yang setia, mereka memang tidak mau membayar pajak, kalau pun mereka membayar tidaklah dengan rela hati. Disinyalir, mereka beranggapan: bukankah segala yang kita miliki ini adalah pemberian Tuhan dan harus dikembalikan kepadaNya? Mengapa harus kita berikan kepada para penjajah, orang-orang yang tak mengenal Tuhan itu? Itulah kemunafikan orang-orang Farisi, karena  tak dapat disangkal pada waktu itu orang-orang Farisi adalah hamba-hamba uang; uang dan uang, itulah pikiran mereka sehari-hari, dan mereka amat pelit dalam memberi; tak ada jiwa sosial dalam diri mereka.
Persetujuan Yesus membayar pajak berarti Dia seorang yang pro-penjajah, layaklah kalau Dia nanti dihukum. Dia bukan seorang nasionalis! Bukan seorang pembela kaum tertindas. Sebaliknya, kalau Dia menolak membayar pajak, tinggal memberitahukan dan melemparkan Dia ke tangan para penjajah.
Yesus bukan Orang bodoh! Dia tahu yang ada dalam benak manusia (Mzm 139). Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu, lalu berkata: 'mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu'. Setelah Yesus menunjukkan mata uang yang ada pada waktu itu, berkatalah Yesus kepada mereka: 'berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah'.
Pernyataan Yesus ini amat tegas, sebagai anggota masyarakat wajiblah setiap orang memberikan apa yang menjadi hak pemerintah atau pimpinan lokal, di mana kita berada. Terlebih bagi kita yang hidup sekarang ini, ada aturan-aturan main dalam hidup bersama, kita wajib memberikannya. Seperti teguran kepada orang-orang Farisi, hendaknya kita  pun jangan menjadi orang-orang yang gila akan harta benda, tenggelam dalam urusan duniawi. Kita memerlukan uang dalam hidup sehari-hari, tak dapat disangkal, tetapi hendaknya kita tidak tenggelam di dalamnya, karena memang hidup tidak ditentukan oleh uang. 'Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada' (Mat 6: 21).
Lalu apa yang memang wajib kita berikan kepada Tuhan Allah, karena memang adalah hak Allah? Tentunya bukanlah harta benda yang kita miliki. Satu-satunya yang di luar kemampuan kita menguasainya adalah hidup kita sendiri. Hidup adalah hak Allah yang diberikan kepada kita, kita diminta untuk menikmatinya dan mensyukurinya. Tidak ada yang lain! Ucapan syukur dan terima kasih yang selalu kita lambungkan kepada Tuhan sungguh-sungguh akan meringankan hidup ini. Betapa besarnya aneka persoalan hidup yang kita miliki, betapa besar tanggungjawab kita terhadap keluarga dan komunitas, betapa beratnya pekerjaan yang kita tanggung, tetapi kalau kita berani bersyukur kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan, maka jiwa dan hati kita akan merasakan sukacita dan damai.
Ucapan syukur itu tidak ubahnya seperti nafas kehidupan, yang ringan, murah, dapat diperoleh di mana-mana, tak ada larangan untuk bernafas, tidak diperjualbelikan, kebebasan yang sebebas bebasnya untuk bernafas dan bernafas. Demikianlah ucapan syukur kita kepada Tuhan. Bernafas meringankan hidup, demikianlah ucapan syukur kita kepada Tuhan. Terlebih lagi kalau kita selalu sadar mengatakan Tuhanlah Empunya kehidupan, Tuhan Allah sang Pencipta dan Pemilik kehidupan ini.
Hanya ucapan syukur yang wajib kita berikan kepadaNya, walau ternyata harus kita sadari bahwa sembah bakti dan ucapan syukur kita tidak menambah kemuliaan Tuhan sedikit pun. Ucapan syukur dan terima kasih kita malahan mendatangkan keselamatan bagi kita dalam hidup kita. Inilah hidup! keberanian seseorang bersyukur kepada Tuhan menandakan bahwa dia menomersatukan Tuhan dalam hidupnya.
Paulus dalam bacaan kedua juga mengajak kita untuk berani beryukur dan bersyukur kepada Tuhan. 'Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita'. Paulus pun mengajak kita untuk berani mensyukuri keberhasilan dan keindahan hidup yang dinikmati orang lain.
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami selalu berani bersyukur dan bersyukur kepadaMu atas rahmat dan kasihMu. Semoga kami selalu berani bersyukur kepadaMu, bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatan dan tingkah laku kami.  Amin.
 
 
Contemplatio :
'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah'.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening