Minggu Pekan Biasa XXX

23 Oktober 2011
Kel 22: 21-27  +  1Tes 1: 5-10  +  Mat 22: 34-40
 
 
 
 
Lectio :
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
 
 
Meditatio :
'Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?'.
Sebuah pertanyaan yang disampaikan seorang ahli Taurat, yang memang dimaksudkan untuk menjebak Yesus. Kemungkinan besar sebagai seorang ahli, dia pasti mengetahui jawaban atas pertanyaan yang diajukan itu; lihat aja Kitab Ulangan bab 6 ayat 5  dan Kitab Tobit bab 4. Namun pertanyaan itu sengaja diberikan kepada Yesus dengan maksud untuk mengetahui apakah memang Yesus menguasai hokum Taurat atau tidak; sebab Dia, Orang Nazaret ini, sering mengajarkan hal baru yang tidak sesuai dan bertentangan dengan hokum Taurat, seperti soal cuci tangan sebelum makan, dan terlebih tindakan-tindakan yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat.
'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu', tegas Yesus. 'Itulah hukum yang terutama dan yang pertama'. Pernyataan Yesus ini menunjukkan bahwa tidak ada hokum lain yang lebih tinggi dan mulia dari cinta kepada Tuhan, 'Mengasihi Tuhan, Allah' menjadi puncak tindakan manusia; semua hokum malahan harus mampu mengarahkan setiap orang kepada Tuhan dan 'memuliakan Bapa yang di sorga' (Mat 5: 16). Tuhan Allah menjadi sasaran dan tujuan semua cinta manusia, karena memang Dialah sang Pencipta, Dialah sang Empunya kehidupan, dan dalam Dialah ada keselamatan.
'Mengasihi Tuhan, Allah' adalah hokum pertama, karena memang cinta kepada Tuhan harus menjadi landasan dan motivasi setiap orang dalam bertindak, baik dalam kata-kata atau perbuatan. Segala sesuatu akan terasa sia-sia dan tidak bernilai, bila cinta kepada Tuhan tidak mendasarinya. Oleh karena itu, Yesus melanjutkan: 'dan hukum kedua, yang sama dengan kasih kepada Tuhan, Allah, ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Kasih kepada sesame itu melanjutkan kasih kepada Tuhan, atau sebaliknya kasih kepada Tuhan itu harus mengalir dan terungkap dalan kasih terhadap sesame. Sebab 'sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku' (Mat 25: 40); dan lihatlah, seperti dikatakan dalam bacaan pertama tadi: Tuhan Allah tidak segan-segan akan membalas dan menghukum kita, bila kita bertindak semena-mena terhadap sesame (Kel 22: 22-24).
'Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi',  tegas Yesus. Tepatlah memang, hukum Taurat dan kitab para Nabi sebenarnya tidak diperuntukan mengatur setiap orang untuk boleh melakukan ini atau itu; hukum Taurat dan kitab para Nabi tidaklah berisi aturan ini boleh dan itu tidak, seluruh hokum Perjanjian Lama dimaksudkan agar setiap orang itu semakin berani 'mengasihi Tuhan, Allah, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri'.
Sejauhmana kita melakukan hokum cinta kasih?
Cinta kasih adalah tanda pengikut Kristus yang sejati; cinta kasih adalah tanda kharakteristik setiap orang yang percaya kepada Kristus, dan bukannya rajin dengan berdoa rosario sepanjang hari, bermeditasi siang malam, mendoakan brevir pagi sore, bernubuat di mana-mana, berbahasa roh setiap saat, berziarah ke tempat-tempat suci.  Semuanya itu baik, tetapi 'yang terpenting dalam hukum Taurat janganlah diabaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan' (Mat 23: 23).
          Panggilanku adalah kasih.  Inilah evanjelisasi kita! 'Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku' (1Kor 13: 1-3).
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus, ajarilah kami hidup dalam kasih, kasih terhadap Engkau dan kasih terhadap sesame.  Yesus, nafasilah kami dengan kasihMu. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu'.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening