Rabu Pekan Biasa XXVII

5 Oktober 2011
Yun 4: 1-11  +  Mzm 86 +  Luk 11: 1-4
 
 
 
Lectio :
Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya."
Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."
 
 
Meditatio :
'Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya'.
Pinta para murid kepada Yesus, ketika Dia selesai berdoa di salah satu tempat. Tidak disebutkan mengapa mereka meminta diajarkan berdoa? Berdoa yang bagaimana? Apakah mereka tertarik dengan gaya berdoa Yesus? Apakah selama ini Yesus tidak pernah mengajari mereka berdoa? Apakah ada gaya doa khusus yang diajarkan Yohanes, sehingga mereka pun begitu tertarik?
'Apabila kamu berdoa', jawab Yesus kepada mereka: 'katakanlah:
Bapa, dikuduskanlah nama-Mu;
Sebab memang hanya Dialah Yang Kudus, Dialah Allah segala kuasa, Dialah sang Pencipta alam semesta dan Empunya langit dan bumi. Dia mahakudus, dan layaklah kita semua menguduskanNya, karena hanya dengan sembah bhakti, kita dapat datang kepadaNya, kita merunduk di hadapanNya dan melakukan apa yang dikehendakiNya. Pujian dan hormat, layaklah kita lambungkan kepadaNya.
datanglah Kerajaan-Mu.
Sebab hanya dalam KerajaanNya kita beroleh keselamatan dan kebahagiaan, hanya dalam dalam penguasaan dan bimbinganNya, kita dapat hidup dengan penuh kasih dan damai. Dalam KerajaanNya, segalanya berjalan dengan baik dan terkendali, karena hanya hokum kasih yang menjiwai setiap orang.
Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya,
Kita tetap mengharapkan belaskasihNya, agar kita dapat mempertahankan keberadaan tubuh dan jiwa yang masih terikat dalam dunia ini. Kemapanan hidup yang mengakar dalam hidup harus kita penuhi. Inilah hidup di dunia, yang memang harus bersifat dunia. Kerinduan akan kehadiran Kerajaan Allah, pandangan kita akan 'semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji', sebagaimana kita renungkan hari Minggu kemarin, tidak boleh mengabaikan keberadaan bleger hidup kita, yang masih berdiri pada dua kaki.
dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami;
sebab dalam mengejar rejeki untuk penghidupan sehari-hari, seringkali kita lupa akan sang Pemberi hidup, karena terlalu mengandalkan diri, bahkan mengabaikan dan meremehkan orang lain yang sama-sama mengejar kehidupan, yang malahan tak jarang sebenarnya mereka memberikan bantuan dalam perjuangan hidup ini. Keserakahan dan kesombongan diri begitu mewarnai sepakterjang kita. Kasih dan pengampunan Tuhan yang maharahim akan mengembalikan kita dalam belaskasihNya.
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan'.
sebab kita manusia yang lemah dan mudah jatuh dalam dosa, kiranya belaskasih Tuhan yang akan menjaga dan melindungi kita, sebab hanya dengan mengandalkan diri sendiri kita akan mudah jatuh dalam kubangan lumpur dosa yang membawa maut.
Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus mengajak semua orang untuk berbakti hanya kepada Tuhan Allah Bapa di surge, bukannya tenggelam pada kuasa dan harta benda. Sebab tak jarang, banyak orang dikuasai dan dikendalikan oleh kuasa dan harta, yang makin lama makin membuat seseorang merambah kepada orang lain sembari meremehkan sesamanya, bahkan merasa diri telah berbakti kepada Tuhan dengan penuh hikmat, padahalnya mereka masih dalam kendali harta dan kuasa. Kita ingat akan seseorang yang kaya (Luk 18: 19-24), dia melakukan semua kewajiban hokum Taurat, karena dia lagi sehat, fasilitas hidup terpenuhi, makanan minuman terjamin; ketika semuanya itu hendak dicabut oleh sang Pemberi hidup dan digantikan hidup kekal, kusutlah wajahnya dan memprotesNya.
Kalau Yesus mengajarkan doa Bapa Kami, yang mengajak kita untuk mengingat akan keagungan dan kemuliaan Tuhan Bapa di surge, demikian juga dalam bacaan pertama; tetapi sembari mengingat kisah Yunus, yang memang ternyata seorang yang mokong dan mbandel,  sebab pertama, kerahiman dan kemurahanhati Tuhan Allah kepada umat Niniwe malahan 'sangat mengesalkan hati Yunus dan membuatnya marah', aneh tapi nyata; kedua, dia bergembira dan tersenyum lega ketika 'TUHAN Allah menumbuhkan sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, dan ia terhibur dari kekesalan hatinya', dia bersyukur selama mapan dan nyaman hidupnya, tetapi ketika pohon itu dibuatNya rusak, marahlah dia. Itulah Yunus! Itulah saya!
 
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus, semoga doa yang  Engkau ajarkan kepada kami sungguh-sungguh menjadi doa kami sehari-hari, karena kami merindukan kasihMu yang begitu besar kapada kami.
Yesus, ampunilah segala dosa dan kesalahan kami selalu, karena kami mudah jatuh dalam dosa. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Tuhan yang memberi, dan Tuhan yang mengambil, Terpujilah Allah selama-lamanya.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening