Rabu Pekan Biasa XXVIII

12 Oktober 2011
Rom 2: 1-11  +  Mzm 62  +  Luk 11: 42-46
 
 
 
 
Lectio :
Kata Yesus kepada orang-orang Farisi: "celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.
Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya."
Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: "Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga." Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.
 
 
Meditatio :
'Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi'.
Kecaman Yesus ditujukan kepada orang-orang Farisi. Mengapa? Karena:
'kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.
kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya'.
Mereka sungguh-sungguh celaka dan tidak menikmati sukacita, karena mengabaikan keadilan dan cinta kasih. Mereka mentaati aturan persembahan dan pajak, kewajiban agama, tetapi mereka mengabaikan pesan dan inti ajaran Tuhan Allah, yang menghendaki keadilan dan cinta kasih antar sesame. Hokum utama dan pertama mereka abaikan dan hanya mengandalkan kewajiban membayar persepuluhan. Tanpa kasih dan perhatian, seseorang dapat melunasi segala kewajiban agama, terutama yang berkaitan dengan materi; bukankah materi itu di luar hidup pribadi seseorang, sehingga secara prinsipial orang dapat mudah melepaskannya. Beriman kepada Tuhan, yang menghendaki kasih, tidaklah sama dengan memenuhi kewajiban komunitas keagamaan.
Kepada kaum Farisi disampaikan kabar duka, karena memang mereka itu hanya mencari penghormatan diri, puja dan puji dari sesamanya. Mereka bukannya mengarahkan orang lain untuk memuji dan memuliakan Tuhan sang Empunya kehidupan, melainkan malahan meminta orang lain untuk menghormati dirinya. Mereka sungguh-sungguh menjadi orang-orang yang gila hormat. Dalam semangat kapitalis memang semakin merebaklah penghormatan diri dan kesombongan rohani; ditengarai praktek-praktek hidup rohani banyak diikuti orang, bukan untuk menguduskan diri, melainkan memamerkan kemampuan diri dalam mengikuti program-program dan tata rohani guna mendapatkan kepuasan diri. Keunggulan rohani tidak diimbangi dengan kedewasaan pribadi dan kepekaan social. Semuanya ini tak ubahnya dengan pencarian kehormatan diri dan bukannya kekudusan diri.
Kaum Farisi yang mencari kehormatan diri itu, sebaliknya, malahan membuat orang lain menjadi najis  dan jatuh dalam dosa, karena perbuatan mereka. Mereka itu  seperti kubur yang tidak memakai tanda, sehingga  orang-orang berjalan seenaknya di atasnya, yang tanpa mereka sadari membuat mereka menjadi najis. Menginjakkan kaki di atas kubur seseorang, membuat diri najis; itulah kepercayaan lama (Bil 19: 14-16). Inilah kehebatan orang-orang Farisi, bukannya mentobatkan dan menguduskan orang lain, malahan mereka membinasakan dan membuat orang lain berdosa dan binasa (Mat 23: 15). Tugas seorang pengikut Kristus adalah membahagiakan dan menyelamatkan sesame, dan bukannya mencelakakan orang lain.
'Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga', celetuk seorang ahli Taurat. Sebuah pengakuan bahwa mereka pun bertindak sama dengan orang-orang Farisi. Yesus menimpali: 'celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun'. Yesus berkata demikian, karena ahli-ahli Taurat ini pandai mengajarkan perihal hokum Taurat, dan bahkan mengharuskan dan mewajibkan para pendengarnya untuk melakukannya, tetapi mereka sendiri tidak mau melaksanakannya, mereka itu tak ubahnya koyo gajah diblangkoni  (Jawa: gajah memakai topi). Ini kritik bagi para imam kita; kalau kita mengetahui, mari kita sampaikan kepada mereka, demi kekudusan GerejaNya.
Paulus dalam bacaan kedua meneguhkan penyataan-penyataan Yesus tadi: 'hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian. Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?'.
Paulus juga mengingatkan, bahwa: 'Allah akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat,  tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu'.
Yesus tidak hanya menyampaikan pesan moral, melainkan memberikan motivasi yang mendalam dengan hokum kasih kepada Tuhan Allah.
 
 
Oratio :
 
Yesus, seringkali kami berpura-pura di hadapan banyak orang, karena hanya untuk mencari keamanan diri, malahan mencari penghormatan diri. Teguhkanlah hati kami, ya Yesus, agar kami selalu bertindak jujur dengan tidak menipu mereka, sesame kami, terlebih terhadap Engkau sendiri.
Lembutkanlah hati kami juga dalam menerima kritik sesame, yang memang disampaikan dalam kasihMu. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Aku datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani.
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening