Selasa Pekan Biasa XXVII

4 Oktober 2011
Yun 3: 1-10  +  Mzm 130 +  Luk 10: 38-42
 
 
 
Lectio :
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."
 
 
Meditatio :
'Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku'.
Gerutu Marta kepada Yesus, ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalananNya singgah di rumahnya. Marta gelisah melihat saudarinya Maria, yang berdiam diri dan duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, padahal Marta sibuk sekali melayani. Apakah memang Marta lebih berusia dari Maria, sehingga dia berani meminta Yesus untuk menegurnya? Apakah karena Yesus dan murid-murid-Nya itu diterima oleh Marta di rumahnya, sehingga Marta-lah yang 'lebih berwenang' dan bukan oleh Maria?
'Marta, Marta', tegur Yesus, 'engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya'. Yesus memberi tekanan pada satu hal, yang kiranya perlu mendapatkan perhatian banyak orang, yakni mendengarkan sabdaNya, tetapi tidak dimaksudkan oleh Yesus bahwa diriNya meremehkan dan mengabaikan yang lain. Aneka pelayanan terhadap sesame adalah hal yang penting dalam hidup bersama, dan itu pun juga dikerjakan oleh banyak orang; yang satu bisa menggantikan yang lain. Tidaklah demikian dengan mendengarkan sabda Tuhan, sebuah tindakan yang sangat pribadi, suatu bentuk komunikasi antara Tuhan dan umatNya, yang tak mungkin tergantikan oleh lainnya. Itulah  Maria! Dia 'telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya'. Saya yang mendengar dan sayalah yang menerimaNya.
Pengalaman Maria mengajak kita, agar semua berani mengambil bagian yang terbaik bagi hidup kita. Kita tidak meremehkan yang lain, namun kiranya kita mempunyai bagian terbaik yang menjadi pegangan hidup, yang menjadi harta kekayaan rohani hidup kita dan menjadi dana hari tua, yang memang harus kita kumpulkan mulai sekarang ini.
Adalah maksud baik Marta menjamu Yesus yang singgah ke rumahnya bersama para murid, sebab memang betapa gembiranya setiap orang yang mendapatkan kunjungan seorang tamu, yang  mana mereka mempunyai relasi baik dan kedatangannya amat dirindukan. Sekali lagi, kemauan baik kita, tidak selalu berkenan kepada Tuhan. Kita ingat kemauan baik Petrus yang ingin membangun kemah di gunung, ketika Yesus menampakkan kemuliaan. Kita ingat Petrus yang ingin membela Yesus, yang dinubuatkan akan diserahkan ke tangan orang-orang Yahudi, didera dan dibunuh; malahan sebaliknya Petrus mendapatkan teguran yang begitu keras dari Yesus. Kemauan baik ibu Yohanes dan Yakobus untuk mendapatkan tempat yang nyaman bagi kedua anaknya kelak, bila Yesus dipermuliakan, mendapatkan pemurnian dari Yesus sendiri. 'Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman TUHAN' (Yes 55: 8) tegas Tuhan Allah.
Kiranya bagi Yesus, tidaklah penting aneka persembahan dan pujian yang dapat kita berikan kepadaNya, sebab memang sembah bakti yang kita persembahan kepadaNya malahan mendatangkan berkat bagi kita daripadaNya. Yang perlu kita lakukan dalam komunikasi kita dengan Yesus adalah mendengarkan sabda dan kehendakNya. Dalam  penampakkanNya di bukit, Bapa di surge juga menegaskan 'inilah PuteraKu yang terkasih, kepadaNya Aku berkenan. Dengarkan Dia' (Mat 17: 5). Kita diminta mendengarkan Yesus sang Sabda. Firman Tuhan menjadi santapan hidup kita, dan dalam hal ini Yesuslah yang memang menyiapkan semuanya itu bagi kita. Setiap kali Yesus berkunjung ke rumah kita, Dia akan selalu membawa santapan yang menghidupkan; kita tinggal makan bersama denganNya.
'Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan'.
Inilah sabda Tuhan kepada orang-orang Niniwe. Raja beserta rakyatnya menanggapinya, karena mereka semua ingin beroleh selamat. 'Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa'.
Dan sungguh benar, Allah membalas mereka dengan belaskasih dan cintaNya. 'Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya'. Keberanian orang-orang Niniwe mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya, mendatangkan berkat dan kehidupan.
 
 
Oratio :
 
Yesus, kami sering bertindak sibuk seperti Marta dalam menyambut kehadiranMu, karena kami ingin merasa berjasa, dan membuat Engkau berhutang budi kepada kami. Namun semuanya itu tidak berkenan kepadaMu, karena memang semuanya itu tidak Engkau perlukan. Ajarilah kami, ya Yesus, untuk mendengarkan dan mendengarkan sabdaMu yang memberi kehidupan.
Santo Fransiskus, doakanlah kami. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening