Selasa Pekan Biasa XXX

25 Oktober 2011
Rom 8: 18-25  +  Mzm 126  +  Luk 13: 18-21
 
 
 
 
Lectio :
Pada suatu kali Yesus sedang mengajar para muridNya, karaNya: "Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?  Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya."
Dan Ia berkata lagi: "Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah?  Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya."
 
 
Meditatio :
'Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?' 
Sebuah pertanyaan yang disampaikan oleh Yesus, yang ingin menarik perhatian banyak orang. Yesus mengumpamakan Kerajaan Allah itu, pertama, 'seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya'. Kedua, 'seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya'.
Kedua perumpamaan ini mempunyai kemiripan, bahwasannya hal Kerajaan Allah itu sesuatu yang kecil, tidak menjadi perhatian utama, malahan sering diabaikan, walau sekali lagi, amat menetukan dan mempunyai kekuatan yang begitu luar biasa. Mungkin kita tidak pernah melihat biji sesawi, tetapi Mateus menerangkan: 'biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon' (Mat 13: 32). Buah hasil dari biji yang kecil itu sungguh-sungguh banyak dinikmati oleh ciptaan lainnya, buah hasil biji yang kecil itu sungguh berlipat ganda dibanding hasil biji-biji lainnya. Demikian juga dengan sepotong kecil ragi, yang mampu mengkhamirkan adonan tepung yang puluhan, bahkan ratusan kali lipat jumlahnya dibanding dengan ragi itu sendiri.
Kita lihat saja, 'Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus' (Rom 14: 17). Pernyataan Paulus ini amatlah jelas dan tegas, menyangkut perihal apakah Kerajaan Allah itu. Namun tak dapat disangkal, contoh konkrit: dalam doa-doa keseharian kita, permohonan akan sandang, papan dan panggon lebih mendominasi dibanding permohonan akan turunnya hujan kedamaian dan keadilan, apakah kita benar-benar dapat menikmati aneka fasilitas kehidupan dengan nyaman, bila memang semuanya itu hanya kita nikmati sendiri, sedangkan orang-orang yang ada di sekitar kita di bawah jauh garis kemiskinan? Tentunya tidak! Penjarahan dan peperangan yang terjadi.
Permohonan akan kesembuhan lebih keras nadanya dibanding dengan permohonan akan penghiburan dan sukacita bagi satu orang yang harus berbaring karena sakit, yang harus memanggul salibnya dengan beratnya. Pengharapan akan kesembuhan akan semakin menguat dan meneguhkan jiwa seseorang yang harus berbaring karena sakit, bila hatinya hatinya damai dan penuh sukacita, dan bahkan siap sedia memanggul salib yang harus dipikulnya.
Permohonan akan pelbagai karunia dari Tuhan dipanjatkan dengan teguhnya, tetapi sabda dan kehendak Allah sendiri kurang mendapatkan perhatian utama dalam hidupnya. Sungguh menyakitkan memang, kalau berkat kasih karuniaNya kita 'mampu berseru kepadaNya: Tuhan, Tuhan, mampu bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan dan mengadakan banyak mujizat demi namaNya, tetapi tidak menikmati sukacita di akhir jaman karena memang tidak mendengarkan dan  melakukan kehendak Bapa yang di sorga' (Mat 7:21-23).
Banyak pula umat di beberapa paroki yang mengeluh dan mengeluh terbatasnya pelayanan sabda dan sacramental, namun di lain pihak intense doa-doa mereka kepada sang Empunya tuaian tidaklah segencar dengan keinginan dan harapan mereka. Yesus sendiri malahan mengingatkan kita semua: 'mintalah kepada Tuan yang Empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu' (Mat 9: 38).
Setiap orang amat merindukan dan pasti ingin sekali menikmati kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus, tetapi tak jarang orang kurang, dan bahkan tidak mau memberi perhatian serius, banyak orang enggan memohonkannya. Kerajaan Allah memang seperti biji sesawi ataupun sepotong kecil ragi .
Kerajaan Allah sungguh-sungguh terasa bagi orang-orang yang teguh dalam pengharapan. Sebab memang Dia hadir dan menyertai, tetapi tidaklah mudah ditangkap oleh indera insane kita. Keteguhan iman dalam harapan akan merealisir kerinduan kita akan KerajaanNya. 'Kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun'. Penegasan Paulus dalam bacaan pertama tadi mengajak kita untuk sungguh-sungguh tekun dalam berharap akan KerajaanNya.
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus,  bantulah kami selalu untuk mengharapkan kehadiran Kerajaan Allah. Sebab kami percaya hanya dalam penguasaanMu kami beroleh kehidupan yang benar-benar bahagia dan menyenangkan. Amin.
 
 
Contemplatio :
Kerajaan Allah bukanlah soal makan dan minum.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening