Senin Pekan Biasa XXIX

17 Oktober 2011
Rom 4: 20-25  +  Mzm  +  Luk 12: 13-21
 
 
 
 
Lectio :
Suatu hari seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."
Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?
Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."
 
 
Meditatio :
'Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu'.
Peringatan inilah yang juga kita renungkan dalam Injil Minggu kemarin, berkenaan dengan  orang-orang Farisi yang gila harta. Mereka adalah hamba-hamba uang, karena pikiran mereka hanyalah sekitar uang dan uang. Sekali lagi, Yesus tidak melarang setiap orang untuk mendapatkan harta demi kemapanan hidupnya. 'Barangsiapa tidak bekerja janganlah ia makan', tegas Paulus (2Tes 3: 10). Namun kiranya hendaknya harta benda tidak menjadi perhatian pertama dan utama, karena memang semuanya itu tidak mampu memberi jaminan hidup kekal. Kita pun tidak bisa menyuap Tuhan sang Empunya kehidupan ini dengan harta benda yang kita miliki. Kita tidak bisa membeli keselamatan itu dengan jutaan uang yang kita sodorkan; bukan saja keselamatan, kebahagiaan dan sukacita, ketenteraman dan ketenangan jiwa, demikian juga kesehatan jiwa raga, tidak dapat dipenuhi dengan adanya fasilitas yang melimpah untuk hidup sehari-hari.
Yesus mengingatkan seseorang yang hanya mengumpulkan harta bagi dirinya. Sekarang, 'hai jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!'. Orang ini sudah merasa mapan, dan hidupnya pun telah tercukupi. Tidak ada yang kurang pada dirinya, semuanya terpenuhi. 'Hai engkau orang bodoh', firman Allah kepadanya, 'pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah'.
Kiranya ada baiknya, kalau kita juga 'kaya di hadapan Allah', caranya adalah sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama tadi yakni dengan mempunyai iman kepadaNya. Iman itu bagaikan tabungan hidup kita di dalam Allah, berkat iman kita mempunyai jaminan untuk mendapatkan keselamatan. 'Allah akan memperhitungkan kita, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita'. Ada baiknya kita nikmati aneka fasilitas yang diberikan Allah kepada kita.
Sebenarnya iman pun akan semakin tumbuh berkembang dengan bertambahnya rejeki yang diterima seseorang. Bagaimana mungkin? Asal saja orang tersebut berani mengatakan segala sesuatu yang diterimanya, segala hasil usaha dan pekerjaanya adalah berkat campurtangan Tuhan, anugerah dari Allah sendiri. Saya memang telah bekerja dan bekerja, namun semuanya itu membuahkan hasil yang melimpah karena campurtangan Tuhan, yang selalu mendampingi dan mendampingi. Yesus telah berkata kepada saya: 'bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan' (Luk 5: 4), dan saya mengikutiNya. Dan sungguh, Yesus lebih pandai daripada saya.
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, tambahkanlah iman kami kepadaMu, ajarilah kami selalu berani bersyukur dan bersyukur kepadaMu atas rahmat dan kasihMu. Semoga kami selalu berani bersyukur kepadaMu, bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatan dan tingkah laku kami. 
Santo Ignasius, doakanlah kami selalu. Amin.
 
 
Contemplatio :
Hidup tidaklah tergantung dari pada kekayaan.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening