Senin Pekan Biasa XXVII

3 Oktober 2011
Yun 1: 1-17  +  Mzm  +  Luk 10: 25-37
 
 
 
Lectio :
Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"
Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"
 
 
Meditatio :
'Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?'.
Pertanyaan ahli Taurat ini sungguh-sungguh hendak menjebak Yesus. Bagaimana mungkin seorang ahli Taurat tidak mengetahui hal itu? Dia tahu dengan pasti. Karena itu, ketika Yesus berbalik bertanya kepadanya: 'apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?', orang itu menjawab dengan lancar: 'kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'.  Cinta kasih membuat dan mengkondisikan seseorang menikmati hidup kekal, sebab memang cinta kasih adalah hokum Tuhan Yesus sendiri: 'inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu' (Yoh 15: 12). 'Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya' (Yoh 15: 10).
'Siapakah sesamaku manusia?'.
Sesama manusia adalah kita semua orang, yang memang diciptakan oleh sang Pengasih, yang hidup dalam kebersamaan. Kita semua sama-sama manusia, mempunyai hak dan martabat yang sama, 'laki-laki dan perempuan diciptakan Tuhan sesuai dengan gambarNya' (Kej 1: 27).
Persoalan yang sering terjadi bukanlah siapakah sesame kita, melainkan siapakah di antara kita yang mau menjadi sesame bagi sesame, terlebih bagi mereka yang menderita dan ada di sekitar kita, dan bukannya bagi sesame yang bergelapan hidupnya. Itulah yang diungkapkan Yesus dalam perumpamaan tadi: 'siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?'.  Bukan seorang imam yang mengajarkan cinta kasih, bukan pula seorang Lewi yang terpandang dalam kehidupan social, melainkan seorang Samaria, 'yang telah menunjukkan belas kasih' kepada orang yang memang tidak dikenalnya, kepada seorang yang berseberangan dengan komunitasnya, karena memang orang yang dirampok itu datang dari Yerusalem, dan bukan dari gunung (Yoh 4: 21-22).
Kasih itu tidak memandang muka. Kasih itu memberi dan memberi, bukan memberi sedekah dan amal, melainkan memberi hati. Memberi hati itu berarti memberi hidup, memberikan nyawa, yang semuanya itu akan mendatangkan  berkat dan rahmat, terlebih mendapatkan hidup kekal, sebagaimana dikehendaki Yesus sendiri (Yoh 12: 25).
Kasih berarti melakukan kehendak Tuhan, yang tak jarang membutuhkan pengorbanan diri untuk melaksanakannya. Kalau Yunus berkata: 'angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi, sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu', sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama, itu bukanlah pengorbanan, apalagi sebuah tindakan kasih, melainkan suatu hukuman, karena memang dia hendak menghindar dari kehendak Tuhan. Pengorbanan tidak sama dengan hukuman! Ketidakmauan seseorang melakukan kehendak Tuhan bisa mendatangkan hukuman bagi dirinya, bahkan orang lainpun kena getahnya.
 
 
Oratio :
 
Yesus, Engkau mengundang kami untuk berani melakukan hokum kasih yang mendatangkan keselamatan. Namun tak jarang, ya Yesus, kami sering memandang muka dalam memperhatikan sesame. Itulah kelemahan kami. Murnikanlah semangat pelayanan kami, agar kami dapat benar-benar menemukan Engkau, yang hadir dalam diri sesame kami yang berkekurangan Amin.
 
 
Contemplatio :
          Kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening