Jumat Pekan Biasa XXXII

11 November 2011
Keb 13: 1-9  +  Mzm 19  +  Luk 17: 26-37
 
 
 
Lectio :
Kepada orang-orang yang mengikutiNya Yesus berkata:  'sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.
Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan." Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.
Kata mereka kepada Yesus: "Di mana, Tuhan?" Kata-Nya kepada mereka: "Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar."
 
 
 
Meditatio :
'Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah'.
Tegas Yesus kepada orang-orang yang mengikutiNya. Semuanya akan terjadi secara tiba-tiba dan mendadak tanpa adanya persiapan. Tidak ubahnya dengan peristiwa monumental yang dialami orang-orang di jaman Nuh dan Lot. 'Mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun'. Semuanya berjalan dalam peristiwa demi peristiwa keseharian.
Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diriNya. 'Dia datang tanpa tanda-tanda lahiriah'. Tidak ada gunanya segala usaha pertobatan pada waktu itu, tiada guna juga untuk melarikan diri. 'Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot!'. Demikian juga tidak ada tawar-menawar untuk mendapatkan keselamatan diri. 'Aku berkata kepadamu: pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan'. Penyataan Yesus hendak menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menentukan diri lagi; semuanya terjadi sepertinya secara sepihak dan menghantam kita. Kita hanya menerima dan menerima.
Kapan dan di mana semuanya itu akan terjadi? Yesus tidak memberitahukannya. Semuanya akan terjadi dan harus terjadi. 'Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar'.
Apakah tiada usaha yang mendatangkan keselamatan? Ada! Semenjak sekarang inilah kita diajak untuk selalu berani berjaga-jaga, berkanjang dalam kehadiranNya. Pertobatan adalah usaha seluruh perjalanan hidup, dan bukanlah usaha sesaat yang memang tidak akan menghasilkan banyak buah. Sebagaimana kita renungkan beberapa hari yang lalu, pertobatan diri kepada Tuhan itu tidak ubahnya usaha untuk selalu memberi dan memberi diri kepada Tuhan yang hadir dalam diri sesame; bukan hanya dengan memberi segala yang kita miliki dan yang ada pada kita, melainkan terlebih-lebih memberi hati dalam memanggul salib. 'Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu' (Mat 5: 10-12). Yesus memuji bahagia orang-orang yang memang mau memberi hati kepada sesamanya; dan hari inipun Yesus mengingatkan: 'barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya'.
Semenjak sekarang inilah kita diajak untuk selalu berani berjaga-jaga, berkanjang dalam kehadiranNya. KehadiranNya, bukannya kita amati, ketika kita berada dalam peribadatan atau dalam gerejaNya yang kudus, melainkan kita harus mencoba merasakan kehadiranNya dalam peristiwa hidup sehari-hari. Adakah peristiwa demi peristiwa menampakkan sebuah pengalaman yang berkaitan satu sama lain? Kalau kita mampu melihat terbitnya matahari, dan terbenamnya pun kita nikmati, terpersitkah dalam diri kita: mengapa dia terbit dan tenggelam pada waktu yang sama? Atau memang dia tidak mampu mengubahnya? Kekuatan panas itu diperolehnya darimana? Apakah dia yang terhebat dari segala yang ada? Kalau saja matahari itu sebagai yang berkuasa, atau 'kalau api atau angin ataupun udara kencang, juga lingkaran bintang-bintang atau air yang bergelora ataupun penerang-penerang yang ada di langit sebagai allah yang menguasai jagat raya, maka seharusnya dimengerti betapa lebih mulianya Penguasa kesemuanya itu. Sebab Bapa dari keindahan itulah yang menciptakannya', tegas kitab Kebijaksanaan dalam bacaan pertama tadi. Kalau allah-allah saja begitu hebatnya, apalagi Allah sang Pencipta segala yang ada ini; dan kita harus segera menyatakan begitu, karena memang kita bukan lagi orang-orang yang masih meraba-raba di mana Allah, kita adalah orang-orang yang hendak menemukan Allah yang memang sduah hadir di tengah-tengah kita. Seorang Ellein Mgdaleine pernah juga menuliskan pengalamannya bahwa dia berusaha menemukan Allah yang memang kehadiranNya sudah ada di tengah-tengah kita. Kita tidak mencariNya, kita hendak menemukanNya.
          Keindahan dan kehebatan alam semesta memang mengajak kita untuk semakin berani mengakui Tuhan itu Allah. Mazmur kita hari ini menyatakannya. 'Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi'.
 
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus Tuhan, keagunganMu Engkau nyatakan dalam keberadaan ciptaanMu; dan sebaliknya dengan memandang dan menikmati ciptaanMu kami akhirnya semakin berani mengakui Engkaulah segala-galanya. Engkaulah yang Mahakuasa. Ajarilah kami, ya Yesus, untuk merundukkan diri kami di hadapanMu.
Santo Martinus, ajarilah kami menemukan kehadiran Yesus dalam  diri sesame kami, sebagaimana engkau telah melakukannya. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya'.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening