Jumat Pekan Biasa XXXIII

18 November 2011
1Mak 4: 52-59  +  Mzm  +  Luk 19: 45-48
 
 
 
Lectio :
Ketika sampai di Yerusalem, Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."
Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.
 
 
 
Meditatio :
'Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa; tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun'.
Itulah alasan Yesus mengusir semua pedagang dari bait Allah. Tidak ada perlawanan memang, tapi amat jelas bahwasannya banyak orang menjadikan bait Allah menjadi tempat berjualan; yang tentunya intensinya pertama untuk membantu orang-orang yang ingin mempersembahkan kurban bakaran, tetapi telah terjadi transaksi yang merugikan para pembeli; terlebih orang-orang kecil terhalang untuk beribadat dan  bersyukur kepada Tuhan Allah. Ada mafia dalam bait Allah tempat  yang kudus, ada banyak penyamun dalam lingkup yang disucikan. Mafia-mafia tidak hanya mampu masuk pasar dunia perdagangan, melainkan juga mampu masuk dalam dunia peradilan atau pun olah raga, bahkan komunitas-komunitas yang berbicara soal rohani. Yesus sendiri mengingatkannya dengan adanya peristiwa transaksi yang memang terjadi dalam RumahNya yang adalah rumah doa.
Keberadaan bait Allah sebagai tempat kehadiran Allah secara istimewa memang telah disadari sungguh oleh umat Allah semenjak semula. Segala yang baik dan indah mengundang setiap orang untuk berani bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan. Inilah perayaan iman. Inilah juga yang dilakukan Yudas serta saudara-saudaranya sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama tadi. 'Musuh kita sudah hancur. Baiklah kita pergi mentahirkan Bait Allah dan mentahbiskannya kembali' seru mereka kepada bangsa Israel. Mereka pun merayakannya tepat pada jam dan tanggal yang sama seperti dahulu waktu orang-orang asing mencemarkannya mezbah itu ditahbiskan dengan kidung yang diiringi dengan gambus, kecapi dan canang. Maka meniaraplah segenap rakyat dan sujud menyembah serta melambungkan lagu pujian ke Sorga, kepada Yang memberikan hasil baik kepada mereka. Yudas serta saudara-saudaranya dan segenap jemaah Israel menetapkan sebagai berikut: perayaan pentahbisan mezbah itu tiap-tiap tahun harus dilangsungkan dengan sukacita dan kegembiraan delapan hari lamanya tepat pada waktunya.
Adanya aneka peraturan menyangkut penggunaan rumah ibadat, berkaitan dengan kebersihan, pemakaian listrik, penggunaan sound system atau pun dekorasi selama berintensikan guna mendatangkan dana bagi paroki tidak ubahnya dengan mafia-mafia yang dikecam habis-habisan oleh Yesus. Lain memang, bila memang ditata sedemikian rupa sehingga semua umat beriman dapat menggunakannya dengan rapi dan teratur, dan tidak terjadinya acara yang bersamaan. Mafia oleh negara pun juga terjadi, bila memang negara tidak mampu memfasilitasi rakyatnya untuk mendirikan rumah ibadat. Benarlah banyak orang mengatakan sila pertama dari Pancasila itu tinggal satu.
Apa yang dilakukan Yesus memang sungguh baik dan benar: mengembalikan bait Allah sebagai rumah doa. Dalam kunjunganNya di Yerusalem, 'tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah', tetapi sebalikya, 'imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia'. Inilah mafia-mafia dalam komunitas (kristiani)! Entah kenapa alasannya mereka melawan. Namun tak dapat disangkal: perlawanan Yesus terhadap para pedagang di bait Allah mengurangi penghasilan tambahan mereka. Bukankah mereka adalah orang-orang yang duduk di kursi Musa, yang berhak mendapat pajak penggunaaan bait Allah? Seharusnya mereka bersyukur karena memang Allah melawat umatNya (Luk 19: 44), tetapi mereka tidak menanggapiNya dengan baik.  Mereka telah keluar dari jalur kesucian dan masuk dan tenggelam dalam jalur kekuasaan. Menerima Yesus berarti kehilangan kuasa dan penghasilan; dan ini tidaklah boleh terjadi.
'Mereka hendak membinasakan Yesus, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepadaNya dan ingin mendengarkan Dia'. Sebab memang tiada kuasa manusia pun yang mampu menandingi dan membinasakan Allah. Dan bagi kita, tegas santo Paulus, 'aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita' (Rom 8: 38-39).
Adakah mafia dalam komunitas kita? Lingkungan atau paroki kita?
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, Engkau menggunakan bait Allah untuk berdoa dan berdoa. Engkau pun menegur orang-orang yang tidak menggunakannya sebagaimana mestinya. Ya Yesus semoga kehadiranMu semakin kami rasakan secara istimewa dalam dalam baitMu yang kudus, terlebih dalam GerejaMu yang kudus.  Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Rumah-Ku adalah rumah doa'.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening