Kamis Adven I

1 Desember 2011
Yes 26: 1-6  +  Mzm 118  +  Mat 7: 21-27
 
 
 
 
Lectio :
Suatu hari Yesus berkata kepada para muridNya: "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."
 
 
Meditatio :
'Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga'.
Tegas kali penyataan Yesus berkenaan dengan mereka yang hanya menekankan hidup rohani, tetapi tidak menjabarkannya dalam hidup sehari-hari. Yesus menantang para muridNya, dan juga kita semua, bila hanya menaruh perhatian pada satu hal dalam hidup ini, tetapi mengabaikan yang lain. Ada orang-orang yang hanya bangga karena mampu mendoakan brevir setiap hari, baik pagi atau pun sore hari; mereka merasa bangga mampu berkata-kata bersama pemazmur. Ada orang-orang yang bangga, karena mampu melafalkan doa rosario, entah siang entah malam, entah rosario biasa dengan keempat peristiwa, atau rosario  kerahiman ataupun pembebasan. Ada pula yang bangga dengan mengikuti bentuk-bentuk meditasi, yang berusaha mengosongkan diri dan membuat dirinya benar-benar kosong. Ada pula yang menekankan dan menganggap bahasa roh dan nubuat sebagai segala-galanya dalam hidupnya, berdoa dengan bahasa allah. Ada orang-orang yang habis-habisan ambil bagian dalam pelbagai pelayanan doa di sana-sini; di sana ok di sini ok. Namun sayang,  semuanya itu tidak diimbangi dengan perhatian kepada keluarga, mengabaikan pertumbuhan akal budi dan mental, tindakan-tindakan bijak dalam perhatian terhadap sesame dinomerempatkan; dan malahan menganggap semua orang yang dilayaninya sebagai obyek pelayanan semata, yang memang harus digarap.
Semangat membaca Kitab Suci pun patut diacungi jempol dan pantas dibanggakan; membaca teks lebih diutamakan daripada mendengarkan sabda; tepuk tangan lebih kuat daripada melangkahkan kaki ke masa depan. Itu bagus! Sayang memang kalau semuanya hanya berhenti di situ. Mereka berhenti sebagai pendengar-pendengar dan bukan pelaksana-pelaksana sabda (Yak 1: 22). Bukankah Yesus dalam Injil hari raya Kristus Raja Semesta Alam 2 minggu lalu juga mengingatkan kita bahwa Anak Manusia akan membedakan kawanan domba dari kawanan kambing berdasarkan hokum cinta kasih, dan bukannya berdasar jumlah anugerah yang telah diterima oleh seseorang atau jasa-jasa mereka?
'Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu',  tegas Yesus, 'kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Namun setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir, kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya'.
Perumpamaan ini menegaskan bahwa melaksanakan sabda Tuhan memberikan terang dan kekuatan bagi setiap orang untuk bertindak bijak dan pandai, dan lebih dari itu dia juga mendapatkan perlindungan yang nyaman dalam hidupnya. Sebagaimana rumah dapat bertahan dari amukan badai karena tertancap dalam wadas batu yang kuat, demikianlah orang yang percaya dan melaksanakan kehendak Tuhan. Yesaya dalam bacaan pertama juga mengingatkan bahwa Allah adalah gunung batu hidup kita, karena itu 'percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal'.
Adven adalah masa istimewa, yang mengingatkan Gereja, umat Allah, untuk selalu siap sedia menyambut kedatangan Kristus Tuhan untuk kedua kalinya, bukan hanya dengan berteriak-teriak menyebut namaNya, melainkan dengan tindakan nyata yang menyatakan cinta kepada Tuhan dalam cinta kepada sesame; sebab sebagaimana Kristus hanya melakukan kehendak Bapa yang mengutusNya, demikian juga Dia meminta kita untuk siap melakukan kehendak Bapa di surge.
 
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, teguhkanlah hati kami untuk siap sedia melaksanakan kehendakMu, sebab memang sabda dan kehendakMulah yang menyelamatkan kami, dan bukannya segala jasa baik yang sempat kami nyatakan.  Semoga Engkau pun menguatkan hati kami dalam berkata-kata dengan kasih. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga'.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening