Kamis Pekan Biasa XXXII

10 November 2011
Keb 7:22 – 8:1  +  Mzm 119  +  Luk 17: 20-25
 
 
 
Lectio :
Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.
 
 
Meditatio :
Kapankah Kerajaan Allah datang?
Atas pertanyaan orang-orang Farisi, Yesus menjawab, kataNya: 'Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu'. Kerajaan Allah tidaklah berwujud materi yang mudah ditangkap oleh indera manusia. Kerajaan Allah hanya bisa dirasakan oleh jiwa yang merindukan. 'Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup' (Mzm 42: 3), lantunan mazmur inilah, yang menggema dalam  diri orang, yang merindukan kehadiranNya. Mungkin dia pernah mendengar, mungkin dia pernah mendapatkan pengetahuan, mungkin ada orang lain yang menceritakan kepadanya, karena memang Allah telah mendatangi umatNya, yang semuanya itu membuat dia terdorong untuk menikmatinya; dia merindukan kehadiranNya yang memang membawa sukacita.
Kehadiran Kerajaan Allah, kehadiranNya, bukannya tidak bisa atau tidak boleh ditangkap oleh indera kita manusia, melainkan memang kita tidak mampu menangkapNya. Kemampuan kita amat terbatas. 'Kalaupun  ada orang akan berkata kepadamu: lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut'. Janganlah mudah percaya dengan teriakan-teriakan semacam itu. Hendaknya kita tidak mudah dengan iming-iming perihal rohani apapun, yang seringkali memberi penghiburan insane semata. Kita harus bijak menanggapinya. Ada suatu bentuk pewartaan yang mengusahakan setiap orang untuk tidak menginjakkan kaki di bumi ini, suatu bentuk pewartaan yang berusaha mengurangi peran akal budi dan keyakinan jiwa; mereka secara sengaja menawarkan gambaran surgawi, melebihi gambaran Petrus yang hendak mendirikan tiga kemah satu untuk Yesus, satu untuk Elia dan satu untuk Musa. Semuanya itu bisa terjadi dalam komunitas-komunitas kehidupan.  Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut .
'Sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatanganNya'.  Siapa dapat melihat dengan baik gerakan kilat dan menghadangnya? Bukankah kita malahan berlari mencari tempat berlindung. Demikian juga kehadiran Kerajaan Allah di luar kemampuan manusia untuk menangkapNya, juga memperhitungkannya secara matematis. Dia hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang merindukannya dengan hati. Dia hadir jauh dari perkiraan akal budi dan kemauan manusia. Tak dapat disangkal, kehadiran Kerajaan Allah melalui yang dinyatakan dalam diri Yesus Kristus, Anak Manusia, juga sulit dimengerti dan dibayangkan oleh sesame manusia sejamanNya; sebab memang kenyataannya, 'Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini', yakni mereka yang hidup bersama-sama dan sejaman dengan Dia.
'Kebijaksanaan adalah pernafasan kekuatan Allah, dan pancaran murni dari kemuliaan Yang Mahakuasa. Karena itu tidak ada sesuatupun yang bernoda masuk ke dalamnya.
Karena kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, dan cermin tak bernoda dari kegiatan Allah, dan gambar kebaikan-Nya.
Meskipun tunggal namun kebijaksanaan mampu akan segala-galanya, dan walaupun tinggal di dalam dirinya, namun membaharui semuanya. Dari angkatan yang satu ke angkatan yang lain ia beralih masuk ke dalam jiwa-jiwa yang suci, yang olehnya dijadikan sahabat Allah dan nabi.
Tiada sesuatupun yang dikasihi Allah kecuali orang yang berdiam bersama dengan kebijaksanaan. Sebab ia adalah lebih indah dari pada matahari, dan mengalahkan setiap tempat bintang-bintang.
Berbanding dengan siang terang dialah yang unggul, sebab siang digantikan malam, sedangkan kejahatan tak sampai menggagahi kebijaksanaan. Dengan kuat ia meluas dari ujung yang satu ke ujung yang lain, dan halus memerintah segala sesuatu'.
Ada di antara kita yang pernah memikirankannya? Sulit dan menjenuhkan, karena memang Kerajaan Allah bukan soal makan minum.
 
 
 
 
Oratio :
 
Yesus, ajarilah kami mencari dan mencari Engkau di atas segala-galanya, sebab Engkau hadir di tengah-tengah kami, tetapi kami sering tidak merasakanNya, malahan menganggapNya tidak Ada. Kami menganggapNya sepi dan tiada guna.
Santo Leo Agung, doakanlah kami dalam mencari Yesus Kristus Tuhan kita, juga saudara-saudari kami yang telah banyak berjasa bagi negara dan bangsa kami, Indonesia. Mereka adalah para pahlawan bangsa. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah'.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening