Kamis Pekan Biasa XXXIII

17 November 2011
1Mak 2: 15-29  +  Mzm 50  +  Luk 19: 41-44
 
 
 
Lectio :
Ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau."
 
 
 
Meditatio :
'Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu'.
Seru Yesus ketika telah mendekati dan melihat kota itu, Ia menangisinya. Ada penyesalan Yesus melihat keruntuhan yang akan terjadi pada Yerusalem. Sebenarnya Yerusalem mengetahui akan segala yang dinubuatkan tentang dirinya, tetapi dia tidak mau mengerti dan memahaminya. 'Akan datang harinya', sambung Yesus, 'bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain'.  Kenapa semuanya terjadi? Apakah memang kemauan Allah? Yerusalem akan mengalami kehancuran karena 'mereka tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau'.
Semenjak direbut Daud, Yerusalem menjadi kota suci, tempat kediaman Allah, maka layaklah memang semua orang Israel berduyun-duyun datang ke Yerusalem untuk berdoa dan berdoa. Mereka memang berdoa di rumah-rumah ibadat (synagoga-synagoga) pada hari-hari sabat, tetapi setiap tahun seluruh orang Yahudi datang ke Yerusalem untuk merayakan hari raya Paskah, merayakannya secara istimewa, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh kedua orangtua Yesus (Luk 2: 41). Namun sayangnya, kesucian kota, tempat kehadiran Allah tidak diimbangi dengan kesiapsiagaan umat menerima kehadiranNya. 'Mereka tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau'. Mereka tidak mau tahu dengan kehadiran sang Mesias, yang memang tidak sesuai dengan gambaran mereka tentang Mesias politik.
Apakah seluruh umat Yerusalem jahat? Tidak semua! Masih ada orang-orang yang percaya dan mengharapkan kehadiranNya. Itulah yang ditampakkan ketika Yesus memasuki kota Yerusalem; banyak orang 'yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring oleh karena segala mujizat yang telah mereka lihat. Mereka memuji-mujiNya: "Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!". Tidak ada orang yang berani melarang seruan dan sambutan mereka, bila dipaksa 'batu-batu ini akan berteriak' (Luk 19: 37-40). Yesus pun mengingatkan mereka semua akan keberadaan bait Allah yang ada di tengah-tengah mereka (Luk 19: 45-48). Allah hadir di tengah-tengah umatNya.
'Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!'.
Itulah nyanyian pemazmur yang kagum akan Yerusalem (Mzm 137: 5-6).
Kita pun adalah orang-orang yang kagum akan Yerusalem, tetapi bukan Yerusalem yang sampai sekarang ini masih diperebutkan antara Israel dan Palestina; kerinduan kita adalah 'Yerusalem Surgawi, Yerusalem baru yakni kota Allah yang hidup' (Ibr 12: 22). Maka kiranya kita kuatkan kerinduan dan pengharapan kita, bahwasannya kita harus menyembah Tuhan Yesus, Mesias, sang Empunya Yerusalem surgawi, dalam seluruh peristiwa kehidupan kita, bukan di atas gunung, bukan pula di Yerusalem, dan juga kemungkinan besar kita tidak akan menghadapi tantangan sebagaimana dialami oleh Matatias, seperti diceritakan dalam bacaan pertama tadi. Namun kita harus 'menyembah Dia dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran' (Yoh 4: 20-24).
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus, kami bersyukur kepadaMu atas pilihanMu yang menjadikan kami sebagai GerejaMu yang kudus, tempat kehadiranMu. Semoga kami mau merasakan dan menikmatiNya, dan GerejaMu sungguh-sungguh menjadi tempat harapan bagi semua orang yang ingin merasakan kehadiran dan kasihMu. Semoga kami semakin berani mewujudkanNya dalam hidup sehari-hari, sehingga kelak boleh tinggal  dalam Yerusalem surgawi.
Santa  Elizabet doakanlah kami, agar kami setia dalam merindukan Yerusalem surgawi, yang kini telah engkau nikmati bersama para kudus. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!'.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening