Minggu Pekan Biasa XXXII

6 November 2011
Keb 6: 13-17  +  1Tes 4: 13-17  +  Mat 25: 1-13
 
 
 
 
Lectio :
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.
Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.
Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."
 
 
Meditatio :
Ada lima gadis bijak, dan ada lima gadis bodoh.
Kesepuluh gadis ini kiranya bangga akan dirinya sendiri. Dengan pede (percaya diri) mereka berangkat memenuhi undangan perkawinan. Kebetulan saja mereka itu: ada yang bodoh, ada pula yang bijak. Komentar saya pada perumpamaan ini adalah kualifikasi mereka ini hanya terletak pada hal membawa minyak, karena memang pada waktu itu harus diperhitungkan soal ketidakdisiplinan waktu; yang memang menjadi penyakit kronis, semenjak leluhur kita ada.
Egois kali, itulah komentar lisan saya, kelima gadis, yang dikategorikan sebagai orang-orang bijak, ketika tengah malam, lampu mulai padam dan harus segera diisi minyak, ketika para gadis bodoh meminta: 'berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam', mereka gadis-gadis yang bijak itu menyahut: 'tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu, lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ'. Begitu memang ciri khas orang-orang bijak, yang selalu sedia payung sebelum hujan? Sudah tidak ada hatikah di antara mereka berlima ini? Apakah gadis-gadis bijak ini sungguh-sungguh berdiam diri, ketika mereka melihat gadis-gadis bodoh, teman-teman mereka sendiri ini tidak membawa perbekalan minyak?
Terlambat itu harus dibayar mahal! Kelima gadis bodoh yang telah kembali dari mencari minyak itu mengetuk-ngetuk pintu dan berkata: 'tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!'; dan ternyata jawaban sang tuan rumah: 'aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu; karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya'. Itulah resiko dari terlambat datang dan tidak siap sedia; padahal, bukankah mereka mendapatkan undangan untuk menghadiri pesta perkawinan itu? Bukankah mereka mengikuti undangan, dan bukannya semaunya sendiri datang?
Terlambat juga menjadi penyakit sekarang ini. Undangan para birokratlah, mereka yang duduk dalam kursi pemerintahan daerah,  tidak pernah tepat waktu. Para dokter yang membuka praktek pelayanan orang sakit, seenaknya datang ke tempatnya; demikian juga aneka persekutuan doa, tidak ubahnya. Mereka memang sengaja memperlambat diri karena merasa dibutuhkan oleh orang lain; banyak orang membutuhkan dirinya. Mereka adalah orang-orang mapan, dan bukannya orang-orang yang membutuhkan! Ketidaktepatan waktu, ketidakdisiplinan diri itu merugikan diri sendiri dan orang lain. Ketidakdisiplinan diri dan waktu menunjukkan kematangan pribadi seseorang dalam mengelola dirinya.
'Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya'. Itulah pesan utama Yesus kepada kita pada hari ini. Berjaga-jaga dalam hal apa? Berjaga-jaga dalam segala bentuk kehidupan. Kita harus siap sedia dalam pelbagai bentuk kehidupan, di mana pun kita tinggal dan berada. Tidak bisa memang, kita rinci satu per satu. Namun orang yang berjaga-jaga dan siap sedia dalam hidupnya, dia akan siap menghadapi pelbagai problema dan tantangan kehidupan, bahkan kalau itu berupa salib kehidupan yang harus dipikulnya.
          Kesiapsediaan diri, terutama dalam menghadapi kehadiran Tuhan dalam segala peristiwa kehidupan, harus terus dikumandangkan; tapi harus kita ingat: bentuk kehadiran yang sesuai dengan kemauan Tuhan, dan bukan seturut gambaran dan keinginan kita. Seorang  menolak mentah-mentah tim SAR yang hendak menolong dia, ketika banjir datang; dia menolak karena dia membayangkan Tuhan akan menolong dia dan bukannya tim SAR. Matilah dia. Demikian juga, seorang pemuda sengaja membiarkan sepeda motornya tidak terkunci; bukankah Tuhan itu sang Penjaga kehidupan kita; dan sepeda motornya amblas juga akhirnya.
Hidup memang harus bijaksana! Pandai memberi porsi dan disiplin waktu adalah wujud nyata dari sikap bijak dalam kehidupan. Bacaan pertama, Kitab Kebijaksanaan, secara indah melukiskan sebagai berikut:
          'barangsiapa pagi-pagi bangun demi kebijaksanaan tak perlu bersusah payah, sebab ditemukannya duduk di dekat pintu.        
          Merenungkannya merupakan pengertian sempurna, dan siapa yang berjaga karena kebijaksanaan segera akan bebas dari kesusahan. Sebab ia sendiri berkeliling mencari orang yang patut baginya, dan dengan rela memperlihatkan diri kepada mereka di jalan, pada tiap-tiap pikiran dijumpainya.
          Sebab permulaan kebijaksanaan ialah keinginan sejati akan didikan, dan mencari didikan adalah kasih kepadanya'.
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus,   limpahkan rahmat kebijaksanaanMu kepada kami, agar kami semakin hari semakin bijak dalam melangkahkan kaki kami ke masa depan yang lebih baik dan ceria, berguna bagi diri kami dan sesame kami, terlebih dalam mengabdi Engkau.  Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya'.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening