Sabtu Pekan Biasa XXXI

5 November 2011
Rom 16: 3-27  +  Mzm 145  +  Luk 16: 9-15
 
 
 
 
Lectio :
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."
"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."
Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.
 
 
Meditatio :
'Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar'.
Bagaimana memang orang dapat menangani hal-hal yang besar dan berat, bila memang menghadapi soal kecil dia sudah mengeluh dan mau melarikan diri. Menangani hal-hal yang kecil dan sederhana adalah latihan bagi setiap orang untuk menangi hal-hal yang besar dan berat. Menangani hal-hal yang kita anggap remeh dn sederhana, malahan sebagai kesempatan kita untuk berlatih dan berlatih tentang kehidupan, menyuburkan kesabaran dan kesetiaan. Kesetiaan seseorang dalam pekerjaan sehari-hari dapat menunjukkan kemampuan seseorang dalam hal-hal rohani. Tepatlah yang dikatakan Yesus: 'ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur, supaya jika mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi'.
Dengan tegas Yesus pun menyatakan tadi: 'jikalau kamu tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?'.  Harta benda dan kekayaan yang kita miliki sekarang ini sebenarnya bukan milik kita pribadi, kita hanya menggunakan dan menggunakannya. Bukankah semua itu akan kita tinggal kalau kita mati? Adakah di antara kita yang membawa segala pembendaharaan yang dimilikinya  dan menikmatinya dalam liang kubur? 'Jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?'. Segala kerohanian hidup manusialah yang sebenarnya harta yang kekal, yang dapat dinikmati sekarang ini dalam perziarahan di dunia, dan yang sekaligus akan mengarahkan dia kepada kehidupan kekal.
Segala harta yang kita miliki sekarang ini baiklah kita kuasai dan kita kendalikan. Kita yang harus mengatur mammon yang tidak jujur ini, dan janganlah sebaliknya kita yang diatur dan dikendalikan oleh harta benda. Kemampuan kita mengatur harta benda akan memudahkan kita merundukkan diri di hadapan sang Empunya kehidupan ini; malahan jujur saja, segala yang kita miliki akan membantu kita dalam mengabdi Tuhan yang hadir dalam diri sesame, terlebih mereka yang amat membutuhkan.
Yesus tahu benar akan kecenderungan dalam diri para muridNya, dalam diri kita. Demi kebahagiaan umatNya, Yesus mengingatkan: 'seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon'.
Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah orang-orang yang duduk di kursi Musa; mereka mempunyai peran dalam hidup keagamaan, bahkan masyarakat social. Namun tidak dapat disangkal, mereka adalah orang-orang yang gila harta. Mereka tidak segan-segan menjual kursi Musa untuk mengeruk kekayaan umatnya. Mereka tidak segan-segan menutupi tindakan dan perbuatan jahat mereka dengan kegiatan-kegiatan rohani. Kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah orang-orang munafik! Mereka menertawakan ucapan Yesus, karena mereka beranggapan Yesus sedang berkotbah di hadapan mereka. 'Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu, sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah', tegas Yesus kepada mereka.
Masih adakah sekarang ini di antara kita seperti orang-orang Farisi? Ada dan tidak. Karena tidak ada yang terang-terangan lagi bertindak demikian. Tetapi tidak tertutup kemungkinan kecenderungan untuk memuaskan diri di antara orang-orang yang telah mengenal Kristus, masih ada dan bahkan menguat bila kita membiarkannya. Mereka mengadakan kegiatan-kegiatan rohani sebenarnya hanya untuk memberi kepuasan diri, dalam doa bersama mereka mendapatkan peneguhan, mereka menikmati perbagai karuniaNya; tetapi tak dapat disangkal Yesus sang Empunya kehidupan ini tidak ubahnya dengan pemilik ruang karaoke. Sebab mereka dapat bernyanyi dan bernyanyi, sembari menonton televisi yang memberi arahan bagaimana mereka seharusnya menyanyi dengan sebaik mungkin.
          Terhadap mereka, Paulus dalam bacaan pertama tadi mengingatkan: 'aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka! Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya'.
          Kemahiran seseorang dalam bidang rohani tidak boleh mengabaikan kemampuan intelektual yang dimilikinya. Setiap orang harus memanfaatkan akal budi agar dapat melihat segala sesuatu dengan jernih dan benar. Kemampuan akan membantu seseorang dalam mengadakan discretio spirituum.  'Sebab itu aku bersukacita tentang kamu' tegas rasul Paulus, 'tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat'.
          Segala sesuatu yang kita lakukan hendaknya semakin mendekatkan diri kita kepada Kristus, sang Empunya kehidupan, dan bagi mereka, yang ada di sekitar kita pun akan 'mampu menikmati terangyang bercahaya di depan mereka, dan memuliakan Bapa yang di sorga' (Mat 5: 16).
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus,   buatlah kami dengan segenap hati dan budi hanya mengabdi Engkau, dan tidak ada yang lain. Sebab kami memang sering jatuh karena kami sempat menoleh ke kanan dan ke kiri. hanya untuk memuaskan diri. Tuhan Yesus, buatlah kami orang-orang yang hanya menemukan Engkau dalam setiap langkah hidup kami.  Amin.
 
 
Contemplatio :
'Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon'.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening