Sabtu Pekan Biasa XXXIII

19 November 2011
1Mak 6: 1-13  +  Mzm 9  +  Luk 20: 27-40
 
 
 
 
Lectio :
Suatu hari datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."
Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup."
Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali." Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.
 
 
Meditatio :
'Siapakah laki-laki di antara orang-orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia'.
Sebuah pertanyaan yang konkrit berdasarkan pengalaman keseharian. Sebuah  persoalan yang disampaikan kepada Yesus oleh beberapa orang Saduki, yang memang tidak mengakui adanya kebangkitan. Apakah ketujuh laki-laki itu nanti tidak bertengkar pada hari kebangkitan untuk mendampingi perempuan itu?  Siapakah dari ketujuh laki-laki itu yang paling bertanggungjawab terhadap perempuan itu? Bagaimana kelanjutan ikatan-ikatan kekeluargaan ini nanti?
'Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan', jawab Yesus kepada mereka, 'tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan'. Kodrat diri yang lepas dari kemanusiaan tidak membuat mereka terikat lagi oleh aneka aturan insane yang ada. Mereka tidak mengenal lagi bahwa kamu dahulu adalah anak saya, kamu adalah tetangga saya, dan sebagainya. Mereka memang saling mengenal satu sama lain, 'mereka tidak ubahnya sama seperti malaikat-malaikat'. Persaudaraan mereka dalam nuansa baru, bukan ikatan keluarga dan pertemanan, melainkan mereka semua adalah ciptaan baru, yakni  'anak-anak Allah'.
'Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup', tegas Yesus. Melalui kebangkitan semua orang hidup, dan tidak ada yang mati. Allah Tuhan kita, bukanlah Allah orang mati, sebab semua orang yang telah mati itu bangkit dan hidup kembali, berkat kebangkitan sang Anak Manusia, Putera sulung kebangkitan. Secara khusus, kaum Israel sungguh merasakan bahwa bapa mereka Abraham, Ishak dan Yakub itu adalah orang-orang yang hidup dan menyertai mereka, karena memang mereka mempunyai Allah Yahwe yang hidup dan meraja.
'Guru, jawabMu itu tepat sekali', sela beberapa ahli Taurat. Mereka ini bukannya membela Yesus, melainkan hanya mencari pembenaran dan perlindungan diri. Bukankah mereka saling berseberangan antara para ahli Taurat dan orang-orang Saduki dalam hal teologi kebangkitan, sedangkan para ahli Taurat ini berkawan akrab dengan orang-orang Farisi yang sependapat soal kebangkitan. Mereka menyeru nama Tuhan hanya untuk pembenaran diri, mereka mengutip kata-kata sang Guru hanya untuk menyembunyikan diri dari konflik social, mereka menyeru hanya untuk mendapatkan kenyamanan diri. Tindakan-tindakan seperti ini adalah tindakan yang tidak rasional dan melemahkan akal budi, dan memang mereka tidak mau menggunakan akal budi. Tidaklah cukup bagi seseorang hanya dengan menyebut nama Yesus untuk bertindak semau sendiri, tanpa ada persiapan diri yang mantab. Apalah arti bagi seseorang untuk berkata Tuhan bantulah saya sebelum mengerjakan soal ujian bila memang dia tidak belajar terlebih dahulu jauh-jauh sebelumnya.  Janganlah kita menonjolkan salah satu bidang dalam kehidupan rohani dan kemudian mengabaikan yang lain. Janganlah kita membodohkan diri!
Ketidakberdayaan para ahli Taurat tidak membuat mereka merunduk di hadapan sang Guru, malahan hanya mencari pembenaran diri. Mereka mencari muka di hadapan sang Guru. Bacaan pertama malahan mengingatkan ketidakberdayaan  raja Antiokhus dalam beberapa kali peperangan membuat dia mengakui kekurangan dan kesalahan yang telah dilakukannya selama ini. Katanya: 'teringatlah aku sekarang kepada segala kejahatan yang telah kuperbuat kepada Yerusalem dengan mengambil perkakas perak dan emas yang ada di kota itu dan dengan menyuruh bahwa penduduk Yehuda harus ditumpas dengan sewenang-wenang. Aku sudah menjadi insaf bahwa oleh karena semuanya itulah maka aku didatangi malapetaka ini. Sungguh aku jatuh binasa dengan sangat sedih hati di negeri yang asing'. Ketidakberdayaan seharusnya membuat seseorang untuk berani mengadakan evaluasi diri demi pertumbuhan hidup, dan bukannya menyembunyikan diri demi keamanan dan kenyaman diri.
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, seringkali kami berpikir dan berwacana hanya sekitar diri kami sendiri, malahan mengukur segala yang ada di depan kami sesuai dengan kepentingan diri. Ajarilah kami, ya Yesus, untuk berani melihat apa adanya, dan malahan harus berani belajar dari segala yang ada di luar diri kami untuk kedewasaan diri, terlebih berkenaan dengan keberadaanMu yang selalu ada di sekeliling kami.  Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan'.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening