Selasa Pekan Biasa XXXII

8 November 2011
Keb 2:23 – 3:9  +  Mzm 34  +  Luk 17: 7-10
 
 
 
Lectio :
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."
 
 
Meditatio :
'Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan'.
Ucapan inilah yang harus kita katakan setiap kali kita telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepada kita. Sebab memang adakah seorang hamba yang merasa berjasa bagi tuannya? Pantaskah seorang hamba menuntut tuannya untuk mengucapkan terima kasih kepada dirinya? Yesus memberikan contoh konkrit, kataNya: 'siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: sediakanlah makananku, ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum, dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?'.
Ucapan seperti inilah yang harus kita sampaikan, bila kita selesai melakukan segala sesuatu. Ucapan ini kita sampaikan kepada jiwa dan budi kita sendiri. Kita ucapkan syukur kepada Tuhan, karena kita telah mampu menyelesaikan pekerjaan yang memang harus kita tuntaskan. Kita yakinkan kepada jiwa dan budi kita: kita baru menyelesaikan suatu pekerjaan, dan patutlah kita bersyukur karena semuanya dapat kita selesaikan tepat pada waktu. Kita meyakinkan jiwa, agar emosi tidak sempat bergelora yang menuntut orang lain harus mengucapkan terima kasih kepada kita, atau bahkan menuntut balas dari mereka. Ada banyak orang yang ingin berkarya sebagaimana kita lakukan, mereka tidak mampu berkarya, mereka tidak mampu membantu sesamanya, karena memang keterbatasan dan kelemahan dirinya.
Ucapan seperti inilah yang harus kita sampaikan, bila kita selesai melakukan segala sesuatu. Ucapan ini juga akan membuat seseorang bersikap legowo,  setelah tidak menduduki suatu jabatan yang disukainya dan mendatangkan keuntungan. Turun dari suatu jabatan adalah hal yang biasa dan harus kita maklumi, karena memang kita berjalan dalam waktu. Mungkin kita sudah dimakan usia dan kemampuan kita sudah melemah, maka kita harus rela menyerahkan jabatan dan pekerjaan itu kepada orang lain. Mungkin juga kepercayaan yang diberikan oleh orang lain kepada kita sudah berakhir, kita wajib mensyukurinya karena selama ini kita sudah mendapatkannya. Kita tidak bisa memaksa orang lain harus menaruh perhatian kepada kita. Kita tidak bisa meminta orang lain, malahan sebaliknya kita harus berani dan berani memberi orang lain.
'Allah memang telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri', penegasan oleh Kitab Kebijaksanaan dalam bacaan pertama tadi, 'tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu'. Setan inilah yang  akan selalu menghasut jiwa untuk bertindak semena-mena, karena telah melakukan segala sesuatu yang baik dan indah. Semua keberhasilan yang telah dilakukan oleh jiwa dan budi adalah hak kita dan bukan hak orang lain; jiwa yang tak mampu berpikir panjang terasa tersentak oleh bara api yang siap menghanguskan segala yang ada di sekitarnya; jiwa yang adalah bagian manusia mampu berubah menjadi singa yang mengaum-aum mencari mangsa oleh karena setan yang memang hanya menjerumuskan jiwa kepada maut.
Bila jiwa dan budi dapat kita yakinkan maka hidup akan terasa tenang dan damai. Terima kasih Tuhan, Engkau telah membantu aku melakukan semua pekerjaan ini; tanpa Engkau, aku tidak bisa berbuat banyak; dan kini aku harus menyerahkan kepada orang lain, agar mereka dapat segera menikmatinya. Tuhan Engkau telah membantu dan memberi rahmatMu kepada kami untuk menyelesaikan tugas-tugas ini dan sekarang pula Engkau mengambilnya dari kami dan kami harus menyerahkannya kepada mereka yang berhak menikmatinya, terpujilah Engkau (Ayb 1: 21).
'Orang yang telah percaya pada Allah akan memahami kebenaran, dan yang setia dalam kasih akan tinggal pada-Nya. Sebab kasih setia dan belas kasihan menjadi bagian orang-orang pilihan-Nya'. Berkat Tuhan inilah yang kiranya menjadi keyakinan bagi kita. Jiwa yang penuh kasih akan selalu berani berkata: 'kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan'.
Bagaimana dengan kita? Adakah kita telah banyak berbuat bagi orang-orang yang di sekeliling kita. Terpujilah Tuhan Allah yang selalu memberikan yang baik dan indah kepada kita. Kiranya semakin menjadi kebanggaan kita, bila kita dapat berbuat karya bagi banyak orang, bila kita dapat menyalurkan kasih kasih karunia Tuhan kepada setiap orang yang kita jumpai. Sebagaimana Gereja menjadi sakramen bagi dunia, kiranya masing-masing kita juga menjadi saluran rahmat dan berkat bagi bagi orang, khususnya bagi orang-orang yang ada di sekitar kita.
 
 
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus Kristus,   terima kasih kami hunjukkan kepadaMu atas segala yang indah dan benar yang Engkau limpahkan kepada kami. Engkaupun memampukan kami untuk berani membagikannya kepada sesame kami. Semoga kami semakin hari semakin bersemangat dalam menyalurkan rahmat dan berkatMu bagi sesame, dan kami sungguh-sungguh berani berkata segala yang kami lakukan adalah memang kewajban kami bagi sesame. 
Yesus, jadikanlah jiwa kasih dalam diri kami. Amin.
 
 
Contemplatio :
'Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan'.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening