Senin Pekan Biasa XXXIII

14 November 2011
1Mak: 10-15  +  Mzm 119  +  Luk 18: 35-43
 
 
 
Lectio :
Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?" Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat." Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"
Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.
 
 
 
Meditatio :
'Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!'.
Sebuah teriakan yang semakin lama semakin keras, yang diserukan oleh seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis di Yerikho. Mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Mereka menegor pengemis itu, karena teriakannya mengganggu keamanan dan kenyamanan orang lain, terlebih mereka yang duduk dalam kursi kekuasaan. Teriakan orang miskin, jeritan orang sakit dirasakan oleh banyak orang mengganggu telinga orang-orang yang ada di sekitarnya. Inilah memang yang sering terjadi di mana-mana, terlebih di daerah kita ini: bangsa Indonesia. Mereka menegor si pengemis, karena mereka pun takut ikut ditegur oleh Yesus: mengapa mereka membiarkan orang itu bertindak demikian. Sekali lagi, seringkali kita temukan mereka yang mengatakan wakil rakyat selalu dijauhkan oleh petugas-petugas, yang memang harus mencari muka, dari rakyat yang diwakilinya.
Namun semakin keras orang buta itu berseru: 'Anak Daud, kasihanilah aku!'
'Yesus orang Nazaret lewat', itulah yang didengar oleh orang buta itu. Apakah dia mengenal Yesus? Kemungkinan dia tidak mengenalNya, tetapi dia kemungkinan besar pernah mendengarNya. Orang Nazaret itu adalah seorang Guru yang berwibawa, yang mengajar dengan penuh kuasa,  tidak seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Kini Orang Nazaret itu didengarnya secara langsung, dan banyak orang beramai-ramai mengikuti Dia. Saya pun ingin mengenal Dia!
'Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?'.
Pertanyaan Yesus ini terasa aneh memang.  'Tuhan, supaya aku dapat melihat!', pinta orang buta itu. Apakah Yesus tidak mengetahui permintaan orang buta itu sehingga harus menanyakannya? Mungkinkah dia meminta makan dari Yesus? Mungkinkah orang buta ini meminta sedekah daripadaNya? Tak jarang memang Yesus yang tahu akan kebutuhan kita masih dengan tegas bertanya dan bertanya kepada kita; dan tak dapat disangkal, mereka yang mapan dan tak berkekurangan tidak tahu dengan pasti apa yang harus dimintanya dari Tuhan; mereka tidak tahu bagaimana harus berkata-kata benar kepada Tuhan, sehingga doa-doanya melayang ke mana-mana. Hanya orang-orang miskin dan yang merindukan kehadiranNya tahu dengan pasti apa yang yang harus disuarakan kepada Tuhan. Yesus bertanya dan bertanya guna memurnikan kemauan diri kita!
'Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!', sahut Yesus. Iman orang buta itu menghantarnya kepada keselamatan. Dia bukan saja dapat melihat kembali, melainkan dia beroleh keselamatan, 'imanmu telah menyelamatkan engkau!'. Dia menikmati kasih karunia Allah yang mahamurah dan penuh belaskasihan. Yesus membuat segala-galanya baik adanya! 'Seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah; dan seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah'.
Keberanian orang buta untuk berteriak dan berteriak kiranya menjadi beranian kita bersama. Hendaknya kita berani berkata-kata kepada Tuhan dan juga berkata-kata kepada sesame. Hendaknya kita tidak mengikuti arus ke mana banyak orang di sekitar kita menghendakinya. Kita harus berani bertahan kepada kebenaran. Orang buta bertahan kepada kepercayaan dan harapannya kepada Yesus Anak Daud, walau orang-orang di sekitarnya menyuruhnya berdiam diri.
          Pengalaman Israel yang diceritakan dalam bacan pertama juga hendaknya menjadi peringatan bagi kita, agar kita tidak mudah goyang dalam mengikuti sang Kebenaran. 'Marilah kita pergi dan mengadakan perjanjian dengan bangsa-bangsa di keliling kita. Sebab sejak kita menyendiri maka kita ditimpa banyak malapetaka', teriakan banyak orang Israel yang tidak tahan dalam perjuangan hidup. Merekapun memulihkan kulup mereka pula dan murtadlah mereka dari perjanjian kudus. Mereka bergabung dengan bangsa-bangsa lain dan menjual dirinya untuk berbuat jahat. Masing-masing harus melepaskan adatnya sendiri, banyak orang yang menyetujui pemujaan raja. Dipersembahkan oleh mereka korban kepada berhala dan hari Sabat dicemarkan. Kitab-kitab Taurat yang ditemukan disobek-sobek dan dibakar habis. Jika pada salah seorang terdapat Kitab Perjanjian atau jika seseorang berpaut pada hukum Taurat maka dihukum mati oleh pengadilan raja.
          Namun demikian ada banyak orang Israel yang menetapkan hatinya dan memasang tekad untuk tidak makan apa yang haram. Mereka tidak ikut arus; mereka tetap setia kepada Allah sang Empunya kehidupan. Lebih sukalah mereka mati dari pada menodai dirinya dengan makanan semacam itu dan begitu mencemarkan perjanjian kudus.  
 
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, jadikanlah kami orang-orang yang setia kepadaMu, dan tidak mudah terbawa arus, terlebih-lebih yang menjauhkan kami dari Dikau. Yesus ajarilah kami menjadi ini pejuang-pejuang kehidupan, pejuang dalam mendapatkan Kerajaan Allah.
Para kudus Karmel doakanlah kami agar kedapatan setia dalam mengikuti Engkau. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Imanmu telah menyelamatkan engkau!'
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening