Hari Raya Maria Bunda Allah, 1 Januari 2012

Bil 6: 22-27  +  Gal 4: 4-7  +  Luk 2: 16-21
 
 
 
 
Lectio :
Para gembala itu cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.
 
 
 
 
Meditatio :
'Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibuNya'.
Sebuah pemberian nama yang bukan kemauan kedua orangtua Anak itu, melainkan kemauan dan kehendak Allah sendiri (Luk 1: 31). Allah menghendaki namaNya sendiri yang dikenakan. Arti nama itu adalah Allah menyelamatkan. Karena memang Yesus datang ke dunia bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan (Yoh 3: 17). Kehadiran Yesus membuka wacana dan pandangan baru: Allah itu maha Pengasih dan Penyayang. Allah itu Kasih. Dia bukanlah Allah yang mengasihi kita, kalau kita berbuat baik kepadaNya.
Paulus dalam bacaan kedua merenungkan Allah sengaja menjadi Manusia dengan 'mengutus AnakNya, - sebutan atau panggilan Allah yang menjadi Manusia-, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat'. Mereka dipanggil dan ditebus oleh kasih Allah, dan bukannya dengan aneka aturan sebagaimana tertera dalam hukum Taurat; karena memang yang menyelamatkan manusia itu bukanlah hokum Taurat, melainkan Allah sendiri, sang Empunya kehidupan. Hokum Taurat ditulis oleh Musa, tetapi hokum Allah dinyatakan oleh Allah sendiri.
Siapakah mereka yang taat kepada hukum Taurat? Ya kita semua. Kita terikat oleh aneka aturan kehidupan sosio-religi. Bukannya kita tidak boleh mentaati hokum manusia, tetapi hokum Allah janganlah kita abaikan. Tidak ada hokum Allah yang bertentangan dengan hokum manusia; seharusnya hokum Allah menjiwai semua hokum manusia. Sebab Allah itu adalah kasih. Kita ditebus dan diselamatkan oleh Kristus Tuhan, yang lahir di tengah-tengah kita, 'supaya kita diterima menjadi anak-anak Allah, ahli-ahli waris, oleh Allah'.
Pemberian nama berarti panggilan baru bagi Maria dan resmi secara formal Maria sebagai ibu Yesus. Suatu panggilan yang luhur dan mulia yang dinikmati Maria: bunda Yesus. Kalau Yesus itu Allah, Allah yang menyelamatkan, maka tidak salah kalau kita menyebutnya bunda Allah; yang sebetulnya bagi Maria sendiri bukanlah panggilan baru, semenjak jawabannya 'aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku' panggilan itu telah didengarnya secara langsung sewaktu kunjungannya ke Elizabet, saudarinya: 'ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?' (Luk 1: 43). Maria adalah bunda Allah karena Yesus!
Gereja merayakan Maria bunda Allah di awal tahun baru, karena Gereja mengajak kita untuk berani bersikap seperti Maria dalam menanggapi panggilan Tuhan, yang menyejarah dalam hidupnya. Keberanian Maria dalam mengamini kehendak Tuhan adalah cita-cita bunda Gereja. Maria dengan berani melangkah maju ke depan, walau 'sebilah pedang menembus jiwanya'. Maria terus menguatkan langkahnya ke depan, karena dia yakin Allah beserta dirinya; kehendak Allah akan terjadi dalam dirinya. Bila Allah di pihak kita siapa berani melawan kita (Mzm 124: 2).
          Bagi orang yang percaya dan berpaut kepadaNya, Allah bersabda: 'bila ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari padaKu' (Mzm 91: 15-16). Inilah yang juga diyakini Maria. Maria maju melangkah ke depan, karena Maria yakin: Imanuel.
          Keyakinan bahwa Allah beserta kita, Imanuel, akan meneguhkan kita untuk melangkah ke masa depan yang lebih ceriah, melangkah dengan pasti dalam tahun 2012 ini. Keyakinan Imanuel inilah spiritualitas Natal. Spiritualitas Natal inilah yang harus mengawali dan menyertai kita dalam perjalanan tahun 2012 ini.
1 Januari juga merupakan hari perdamaian, karena kita dipanggil untuk berbagi damai dengan sesame, damai yang dibawa oleh sang Anak Manusia. Tahun 2012 harus semakin menampakkan kedamaian di mana-mana! 'Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya' (Luk 2: 14). Setiap orang yang percaya kepada sang Anak Manusia harus menjadi pembawa damai bagi keluarga dan komunitas, sesame yang ada di sekitar kita, dan bagi dunia. Mereka yang membawa damai adalah mereka orang-orang yang baru pulang berkunjung bersama para gembala,  'mereka pulang sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka'.
 
 
 
Oratio :
 
Yesus  Kristus,  kami bersyukur kepadaMu, karena kami boleh membuka tahun baru 2012 ini dengan berdoa bersama. Dampingilah kami selalu, agar kami semakin setia kepadaMu, sebagaimana diteladankan bunda Maria; jadikanlah kami orang-orang yang sungguh-sungguh berani menghayati spiritualitas Natal dalam hidup sehari-hari, bahwa: Engkau selalu beserta kami dan siap membawa damai bagi sesame kami.
Ya Maria Bunda Allah dan bunda kami, doakanlah kami putera-puterimu. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Tuhan jadikanlah kami pembawa damai.
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening