Kamis Adven III

15 Desember 2011
Yes 54: 1-10  +  Mzm 30  +  Luk 7: 24-30
 
 
 
Lectio :
Setelah suruhan Yohanes itu pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: "Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian indah dan yang hidup mewah, tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya."
Seluruh orang banyak yang mendengar perkataan-Nya, termasuk para pemungut cukai, mengakui kebenaran Allah, karena mereka telah memberi diri dibaptis oleh Yohanes. Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes.
 
 
 
Meditatio :
'Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun?'
Inilah pertanyaan Yesus kepada orang banyak yang ada di sekitarnya. 'Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian indah dan yang hidup mewah, tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi'.
Yesus berbicara tentang Yohanes, yang dalam Injil kemarin dia menanyakan tentang Yesus: apa memang Dia yang harus ditunggu-tunggu oleh umatNya atau orang lain. Kini sebaliknya Yesus berbicara tentang dirinya. Banyak orang 'pergi ke padang gurun', karena ingin berjumpa dengan 'Yohanes Pembaptis yang memang tinggal di padang gurun Yudea' (Mat 3: 1). Yohanes tinggal dalam kesederhanaan, selain karena sebagai sesorang pertapa, dia juga menyesuaikan dengan tempat di mana dia tinggal; dia 'memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan' (Mat 3: 4). Dalam hal makan minum dan pakaian banyak orang bermanja-manja: sekarang ini ada makanan sehat, ada juga pakaian higienis, yang sebetulnya adalah sekedar usaha defensive dari orang-orang yang kurang mampu menjaga diri, termasuk saudara-saudariku yang menjalani hidup berpantang diri.
Dengan lugas Yesus menerangkan: 'lihatlah, Aku menyuruh utusanKu mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalanMu di hadapanMu'. Penyataan Yesus menegaskan bahwa diriNya amat mengakui peran Yohanes Pembaptis yang memang membuka jalan bagiNya. Kehadiran Anak Manusia adalah kehendak dan kemauan Allah, sebagaimana program dan rencanaNya dari semula. Yesus pun mengakui bahwa Yohanes adalah orang pilihan Allah. 'Aku berkata kepadamu', tegasNya: 'di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya'. Kehebatan seseorang sebenarnya bukanlah diukur jabatan, segala kemampuan dan fasilitas yang dimiliki, melainkan kelayakan dan kepantasannya di hadapan Allah; dan itulah yang dinyatakan Yesus tentang keberadaan Yohanes.
Penegasan Yesus yang adalah sabda dan kehendak Allah sendiri membawa sukacita bagi banyak orang. Itulah Injil! Maka tidaklah salah,  'seluruh orang banyak yang mendengar perkataanNya, termasuk para pemungut cukai, mengakui kebenaran Allah, dan mereka telah memberi diri dibaptis oleh Yohanes'.
Tidaklah demikian dengan 'orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka'. Menolak maksud dan kehendak Allah berarti menolak keselamatan! Bukannya Allah menghukum mereka, karena menolak kehendakNya, melainkan mereka sendiri yang menghukumkan dirinya dengan menolak terang; yang memang secara sengaja 'mereka lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak' (Yoh 3: 19-20). Melakukan kejahatan secara otomatis akan menolak keselamatan, karena memang tak mungkin keduanya dipadukan. Tak mungkin mereka yang tenggelam dalam kejahatan beroleh keselamatan!
Tak mungkin mereka yang tenggelam dalam kejahatan beroleh keselamatan! Sebaliknya mereka yang bangun dari tidurnya dan menghadap Allah, sebagaimana yang dilakukan 'para pemungut cukai yang mengakui kebenaran Allah',  beroleh keselamatan, karena memang dosa dan pelanggaran mereka tidak diingat Tuhan lagi. Hal itulah yang dinyatakan juga dalam bacaan pertama tadi, bahwasannya: 'seperti isteri yang ditinggalkan dan yang bersusah hati, TUHAN memanggil engkau kembali. Suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi. Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang'.
Kita bukanlah orang-orang yang harus pergi ke padang gurun di tanah suci sana, malahan kita sekarang ini berada dalam padang gurun kehidupan. Kita adalah peziarah-peziarah hidup. Baiklah kiranya semangat Yohanes Pembaptis menjadi semangat kita bersama, agar kita menjadi orang-orang yang layak dan pantas menyambut kedatangan Kristus yang kedua kalinya, yang membawa mahkota kemuliaan. Sebab kehebatan seseorang sebenarnya bukanlah diukur jabatan, segala kemampuan dan fasilitas yang dimiliki, melainkan kelayakan dan kepantasannya di hadapan Allah. Demikian hendaknya kita seperti Yohanes Pembaptis dalam menyambut Dia yang akan datang.
 
 
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, sucikanlah hati kami untuk menyambut kehadiranMu yang menyelamatkan, sebab hanya Engkaulah Penyelamat kami.  Amin.
 
 
Contemplatio :
          Berbahagialah orang-orang yang tidak menolak maksud Allah terhadap dirinya.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening