Minggu Khusus Adven IV

18 Desember 2011
2Sam 7: 1-5  +  Rom 16: 25-27  +  Luk 1: 26-38
 
 
 
Lectio :
Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
 
 
 
 
Meditatio :
'Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau'.
Sebuah sapaan hangat yang diberikan oleh malaikat Gabriel kepada Maria, seorang perempuan Nazaret, di Galilea, seorang perawan tunangan Yusuf dari keluarga Daud. Sapaan penuh kasih. Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
'Jangan takut, hai Maria', sahut malaikat itu kepadanya, 'sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah'. Maria hendak mendapatkan karunia di hadapan Allah. Karunia yang bagaimana? 'Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi; dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurNya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan KerajaanNya tidak akan berkesudahan'.
Sebuah karunia yang sungguh-sungguh luar biasa, suatu pemberian yang tidak pernah terbayangkan, di luar pemikiran rasional. Tanpa tedeng aling-aling (Jawa: berani dan jujur, tanpa ditutup-tutupi), Maria bertanya kepada malaikat itu: 'bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?'.  Sebuah pertanyaan yang berani, pertanyaan yang meminta penjelasan dari Tuhan. Pertanyaan seperti itulah yang seharusnya kita ungkapkan kepada Tuhan setiap kali kita membaca Kitab Suci. Kita baca beberapa kali ayat-ayat Kitab Suci, kita renungkan dengan bertanya-tanya apa maksud sabda dan kehendak Tuhan. Berdiam diri tanpa mau bertanya-tanya dalam membaca Kitab Suci adalah wujud keengganan kita dalam menanggapi sabda Tuhan.
'Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau', jawab malaikat itu kepada Maria, 'sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil'. Allah mampu membuat segala-galanya baik adanya.
'Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu', kata Maria. Malaikat telah menjelaskan kepada Maria apa yang hendak dikaruniakan Tuhan kepada dirinya. Apakah Maria mengerti seluruh rangkaian kehendak dan kemauan Allah itu? Apakah seluruh penjelasan Tuhan dapat dimengerti oleh Maria? Saya kira belum! Akal budi memang mampu merenungkan segala hal, tetapi secara khusus dalam menanggapi sabda dan kehendak Tuhan: iman dan kepercayaan harus berbicara, iman harus mampu membuat hati dan budi setiap orang untuk berani berserah kepada Tuhan. 'Aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanMu itu', inilah kata-kata iman dari seseorang yang bernama Maria. Hanya iman yang memang dapat menanggapi kehendak dan kemauan Allah. Sebab Allah berkemauan menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah umatNya bukanlah program  yang mendadak; kemauan Allah memulihkan Israel dalam Yesus Kristus adalah 'pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa'.
'Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus'.
Anak laki-laki yang akan dilahirkan Maria haruslah dinamakan Yesus, karena Yesus adalah Allah yang menyelamatkan. Itulah makna namaNya. Allah menjadi manusia, karena memang Dia hendak menyalamatkan umat yang dikasihiNya. Inilah tugas perutusan Yesus. 'Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurNya', dan inilah yang ditegaskan jauh-jauh sebelumnya sebagaimana kita dengar dalam bacaan pertama tadi, bahwasannya: 'Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanKu, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya'. Kedatangan Yesus hendak memulihkan Israel baru; kejayaan dan kemampan jaman Daud akan dihidupkan kembali.
Kiranya apa yang dapat kita buat?
Kita perteguh iman kita, sebab hanya orang yang percaya akan kebaikan dan kasih Tuhan kelak dapat merayakan Natal. Hanya orang-orang seperti Maria dapat merayakan Natal dengan penuh sukacita.
Adakah acara kita yang membuat Natal ini sungguh-sungguh berbeda dengan perayaan-perayaan sebelumnya?
 
 
 
 
Oratio :
 
Yesus  Kristus, Engkau menjadi manusia, sama seperti kami. Teguhkanlah iman kami, agar kami semakin hari semakin berani membuka diri dan menyambut kedatanganMu di tengah-tengah kami.  Hadirlah Tuhan Yesus. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanMu itu'.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening