Perayaan Natal Pagi

25 Desember 2011
Yes 62: 11-12  +  Tit 3: 4-7  +  Luk 2: 15-20
 
 
 
 
Lectio :
Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita."
Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
 
 
 
 
Meditatio :
'Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita'.
Seru gembala-gembala itu, seorang kepada yang lain, setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga. Rasa sukacita dan gembira menyemangati mereka. Mereka tidak hanya ingin menjadi pendengar-pendengar sabda, tetapi juga penikmat dan pelaksana sabda, sebagaimana dikehendaki Tuhan Allah sendiri (Yak 1: 22). Maka 'mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan'. Apa yang dikatakan para malaikat itu sungguh benar (Luk 2: 11-12). Allah tampak hadir secara tersembunyi dan sederhana, sebab memang Dia hadir bukan dalam keagungan dan kemuliaanNya. Dia hadir secara tersembunyi dan sederhana.
'Ketika mereka melihatNya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu'. Para gembala dengan penuh semangat bersharing tentang apa yang mereka dengar dari malaikat; dan sungguh benar, semuanya seperti yang dikatakanNya. Dan tentunya, mereka bercerita bahwa segala yang mereka dengar itu 'bukan karena perbuatan baik yang telah mereka lakukan, tetapi karena rahmat dan kasihNya  yang sudah dilimpahkanNya kepada mereka' (Tit 3: 5-6). Mereka adalah orang-orang yang sederhana.
Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Hanya 'Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya'. Apakah Maria mencocokan dan membandingkan dengan apa yang dikatakan malaikat Gabriel kepadanya bahwa dirinya memang 'akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan  menamaiNya Dia Yesus. Anaknya itu akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi; dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurNya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan KerajaanNya tidak akan berkesudahan. Anak yang akan dilahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah' (Luk 1: 31-35)? Namun tak dapat disangkal, apa yang dikatakan malaikat melalui para gembala meneguhkan bahwa semuanya itu 'terjadi menurut perkataanNya' (Luk 1: 38).
 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
Sebagaimana kita renungkan tadi malam, Allah menjadi manusia hanya karena cinta. Dia tidak ingin hanya memandang umat manusia dari takhta kemuliaanNya. Dia ingin datang dan bergaul dengan orang-orang yang dikasihiNya. Tepatlah yang dikatakan santo Petrus dalam bacaan kedua tadi, bahwasannya Natal adalah 'tanda nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasihNya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya  yang sudah dilimpahkanNya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karuniaNya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita'.
Apakah memang kita sudah termasuk orang-orang sederhana, sebagaimana diteladankan oleh para gembala? Dan apakah berkat kesederhanaan ini kita boleh merayakan kembali hari kelahiranNya?
          Belum! Kita masih belum menjadi orang-orang yang sederhana seperti para gembala; malahan Gereja Indonesia dalam pesan bersama Natal 2011 mengajak kita untuk merayakan Natal secara sederhana; Natal adalah perayaan iman; dan menjabarkan semangat Natal dalam kesederhanaan hidup sehari. Ketidaksederhanaan bangsa kita ini minimal tampak dalam: 'kemiskinan sebagai akibat ketidakadilan masih menjadi persoalan sebahagian besar bangsa kita, yang mengakibatkan masih sulitnya menanggulangi biaya-biaya bahkan kebutuhan dasar, apalagi untuk pendidikan dan kesehatan; korupsi, bukannya dihapuskan, tetapi malah makin beranak-pinak dan merasuki segala aras kehidupan bangsa kita bahkan secara membudaya; pencemaran dan perusakan lingkungan yang menyebabkan bencana alam, seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetap mencemaskan kita. Mereka yang diberi amanat dan kekuasaan untuk memimpin bangsa ini dengan benar dan membawanya kepada kesejahteraaan yang adil dan merata, malah cenderung melupakan tugas-tugasnya itu'. Bila memang ada kesederhanaan hidup, semuanya ini tidak akan terjadi.
Kita rayakan Natal bukan sebatas ibadat, tetapi dalam kehidupan sehari-hari.
 
 
 
Oratio :
 
Yesus  Kristus, pagi hari ini kami boleh merayakan kembali kelahiranMu di tengah-tengah kami. Semoga kami semakin membuka diri akan kehadiranMu yang menyelamatkan, bersikap sederhana dalam kehidupan, dan siap sedia berbagi kasih dengan sesame. Sebab Engkaulah Penyelamat kami, kini dan sepanjang masa.  Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud'.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening