Pesta Keluarga Kudus, 30 Desember 2011

Kej 15: 1-6  +  Mzm 105  +  Luk 2: 36-40
 
 
 
 
Lectio :
Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkanNya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.
 
 
 
 
Meditatio :
'Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, Yusuf dan Maria membawa Anak itu ke Yerusalem untuk menyerahkanNya kepada Tuhan'.
Kewajiban keluarga seperti tertulis dalam hukum Tuhan bahwa: semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah, tetap dilaksanakan dan ditaati oleh Yusuf dan Maria. Mereka mempersembahkan korban yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Mereka sebagai keluarga masyarakat Yahudi, umat pilihan Allah, tetap dengan setia mengikuti aturan main dalam sosio-religi yang ada. Pernahkah terpikir dalam diri Yusuf dan Maria bahwa mereka ini adalah pelaksana-pelaksana kehendak Allah, sehingga tidak perlu lagi mengikuti aturan-aturan yang dibuat oleh komunitas setempat? Terlebih Maria, yang tahu benar bahwa Anak yang dikandungnya itu adalah Yang kudus dari Allah (Luk 1: 35), 'Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi, dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurNya' (Luk 1: 32). Keterpilihan Yusuf dan Maria tidak membuat mereka menuntut  perlakukan istimewa dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Kalau kemarin kita renungkan: kalau 'keterpilihan menjadi orang-orang milik Allah tidaklah berarti menjadi orang-orang yang dimanjakan Allah, dan juga sebaliknya mereka orang-orang yang dimanjakan Allah dengan pelbagai karuniaNya bukanlah berarti mereka yang dipilihNya',  apalagi dalam relasi kebersamaan hidup. Tidak sepantasnya kita menuntut sesame memberikan perlakuan istimewa kepada kita.
Tentunya Yusuf dan Maria tidak berkata kepada seperti ini: 'untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari padaNya. Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN' (1Sam 1: 27-28), sebagaimana dilakukan oleh Hana. Bukankah kedatangan Yesus, bukan karena jasa baik umatNya yang memohon dan memohon kehadiranNya, malahan sebaliknya Tuhan Allah yang begitu mengasihi umatNya datang hendak menyelamatkan semua orang tanpa terkecuali? Kelak Dia bergaul dengan orang-orang berdosa yang memang hendak diselamatkan; dan lebih dari itu Dia akan memanggul salib kehidupan umatNya. Maria dan Yusuf adalah pelaksana-pelaksana Firman Allah yang hidup!
'Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padaNya'.
Tidak ada peristiwa yang monumental dalam hidup keluarga kudus. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Kekudusan keluarga tidak ditampakkan dalam pelbagai peristiwa yang menakjubkan dan menggemparkan. Mereka berdua juga tidak berteriak-teriak di sini ada Tuhan, sebagaimana banyak dilakukan oleh pelbagai komunitas gerejani  yang sering memperdengarkan suara bahwa dalam komunitasnya ada Tuhan Yesus, Dia datang dan  menjadi sinterklas, Dia sedang membagi-bagikan mukjizat dan memberikan penghiburan. Datanglah ke mari.
Keluarga kudus, karena ada Yesus di tengah-tengah mereka. Demikian juga keluarga dan komunitas akan kudus adanya, bila memang membiarkan Yesus tinggal di tengah-tengah kita. Pesta keluarga kudus bukanlah semata-mata pujian kepada keluarga Nazaret atas keberadaan mereka, melainkan mengajak kita untuk mau meneladan Yesus yang tinggal di tengah-tengah mereka. Bisakah keluarga kita menjadi keluarga kudus? Bisa! Yakinlah tiada suatu yang mustahil bagi Allah. Allah membuat segala-galanya baik adanya. Kiranya pengalaman Abraham juga menjadi panutan bagi kita. Dia melihat segala sesuatu, bukan berdasar dirinya, melainkan berdasarkan kemauan dan kehendak Tuhan. Ketika Tuhan berfirman: 'coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya; demikianlah banyaknya nanti keturunanmu', Abraham percaya dan mengaminiNya, dan TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.
 
 
 
 
Oratio :
 
Yesus  Kristus,  buatlah keluarga dan komunitas kami menjadi kudus dan suci. Sebab kami merindukan kehadiranMu di tengah-tengah kami. Semoga kami pun siap mewartakan kehadiranMu, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatan baik kami sehari-hari. Yesus hadirlah di tengah-tengah kami. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Keterpilihan menjadi orang-orang milik Allah tidaklah berarti menjadi orang-orang yang dimanjakan Allah.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening