Pesta Santo Yohanes Penginjil, 27 Desember 2011

1Yoh 1: 1-4  +  Mzm 97  +  Yoh 20: 2-8
 
 
 
 
Lectio :
Maria Magdalena berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.
 
 
 
 
Meditatio :
'Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan', seru Maria Magdalena kepada Simon Petrus dan Yohanes. Maria hanya bisa berteriak, karena dia merasa tidak berdaya melihat kenyataan: kubur kosong. Orang yang disayanginya telah mati dan kini tidak tampak jenazahNya di dalam kubur.
'Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam'.  Yohanes tidak masuk ke dalam, karena dia mampu menempatkan diri. Kesadaran diri Yohanes amatlah teguh bahwa Simon adalah Petrus, batu karang, bagi komunitas rasuli mereka, dan bagi karya perutusan mereka. Yohanes kiranya paham betul: mengapa Yesus sang Guru menyebut saudaranya ini sebagai Petrus dalam kebersamaan hidup. Dia, Simon, adalah orang yang dipilih secara istimewa oleh Yesus.
Di lain pihak, kesadaran Yohanes sebagai seorang murid lain yang dikasihiNya tidak membuat dia menuntut hak untuk disamakan;  Yohanes menyadari dirinya juga dikasihi dan mendapat perhatian dari Yesus, sang Guru.  Dirinya bukanlah Yohanes Petrus, melainkan Yohanes Boanerges (Mrk 3: 17).  Ketika Yohanes lebih dahulu sampai ke makam, karena memang mempunyai kemampuan lebih gesit, tetapi tidak mendahului saudara yang lebih dituakan di antara mereka. Yohanes sampai di tempat pertama, tetapi dia tidak mau menjadi pendahulu.
Datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Semuanya tertata rapi dan teratur, tidak ada tanda-tanda pengerusakan. Bukankah Dia Yesus baru saja ditinggikan (Yoh 12: 32) dan menarik semua orang datang kepadaNya, dan bukannya dikalahkan?  
'Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya'. Lihatlah, mengapa Yohanes baru percaya, setelah melihat makam untuk kedua kalinya? Mengapa kepercayaan tidak tumbuh dan berkembang  di waktu pertama kalinya dia melihat? Kiranya hendaknya semakin kita sadari bahwa iman kepercayaan juga mengalami proses pertumbuhan dalam diri seseorang. Tanpa menutup kemungkinan anugerah istimewa dari Allah, iman yang tiba-tiba menggelora dan muncul karena mukjizat akan tumbuh sebatas mukjizat yang ada.  Mengapa kepercayaan ini tidak muncul dan tumbuh dalam hati Simon Petrus, sebagai seseorang  yang dituakan dalam komunitas? Inilah kenyataan hidup.
Di masa Natal ini, kita diajak mengenal santo Yohanes, sang penginjil untuk semakin mengenal Yesus Kristus yang hadir di tengah-tengah kita. Pengalaman Yohanes dalam bergaul dengan Yesus, Firman Allah yang hidup inilah, yang disharingkan dalam Injil. 'Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup -- itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami'.
          Tujuan yang hendak disampaikan dalam pewartaannya ini adalah, Yohanes pun menuliskan dalam suratnya yang pertama itu: 'supaya sukacita kami menjadi sempurna'.  Yohanes berasa bersukacita, bukan semata dia telah mengenal sang Firman Allah yang hidup, namun terasa sempurna bila orang lain pun mengenal Dia. Perayaan Natal mengajak kita selalu untuk berani berbagi pengalaman hidup dalam mengenal Yesus
 
 
 
 
Oratio :
 
Yesus  Kristus, untuk mengenal Engkau semakin akrab, kami Engkau ajak untuk bergaul, memandang, mendengarkan dan berbicara denganMu.  Ajarilah kami ya Yesus untuk selalu berani bergaul dengan Engkau, dan menceritakan pengalaman ini kepada sesame kami, agar mereka pun menikmati sukacita ilahiMu. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Dia ada di tengah-tengah kita.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening