Senin Khusus Adven IV

19 Desember 2011
Hak 13: 2-7  +  Mzm 71  +  Luk 1: 5-25
 
 
 
Lectio :
Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.
Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ. Sementara itu seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan.
Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya".
Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya." Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya."
Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran, bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia tetap bisu. Ketika selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke rumah.
Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya: "Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang."
 
 
 
 
Meditatio :
'Ada seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya'.
Suatu kenyataan hidup yang dialami oleh orang-orang yang berusaha hidup layak di hadapan Tuhan; dan memang mereka layak dan pantas di hadapan Tuhan Allah. Namun kiranya yang sulit kita mengerti adalah bahwasannya mereka berdua adalah orang yang benar di hadapanNya, tetapi Tuhan Allah tidak mengaruniakan anak bagi mereka. Anak, yang sering kita sebut sebagai anugerah Tuhan, tidak mereka nikmati. Apakah mereka tidak mendapatkan perhatian dari Tuhan? Sepertinya tidak ada rumusan bahwa orang yang benar di hadapan Tuhan itu harus menerima banyak anugerahNya. Sebaliknya, orang yang hidup suci dan kudus di hadapanNya pun tidak lepas dari hokum alam. Kalau musim hujan, tebaran air pun tetap mampu menghantam mereka.
Ada baiknya kita tidak pernah menuntut apa-apa kepada Tuhan, kalau kita sudah berusaha untuk menuruti kehendakNya.
'Zakharia terkejut dan menjadi takut'.
Itulah realitas hidup. Itulah pengalaman Zakharia, ketika melihat dengan mata kepala sendiri seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat Yang agung dan mulia memang membuat seseorang gentar dan merunduk di hadapanNya; dan memang di hadapan Allah semua orang tidak berdaya, sebaliknya orang yang sadar akan ketidakberdayaan dirinyalah yang mampu berdiri di hadapan Tuhan.
'Jangan takut, hai Zakharia', tegas malaikat itu berkata kepadanya, 'sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagiNya'.
Ternyata anugerah yang diterima Zakharia begitu besar. Sang buah hati yang akan lahir di tengah keluarga mereka begitu agung. Anak yang akan lahir di tengah mereka tidak saja menjadi tanda sukacita bagi keluarga, malahan bagi banyak orang, 'ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka'.
'Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya'.
Tanya Zakharia kepada malaikat itu. Zakharia ingin tahu dan sepertinya ingin mendapatkan jaminan: bagaimana semuanya itu akan terjadi. Kalau Maria, sebagaimana kita renungkan kemarin, dengan bertanya: 'bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami', dia meminta penjelasan karena apa yang disampaikan malaikat itu di luar kemampuan dirinya, sedangkan Zakharia terang-terangan meminta bukti dari Tuhan bahwa semuanya itu akan terjadi pada dirinya.
'Akulah Gabriel yang melayani Allah', jawab malaikat itu kepadanya, 'dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya'.
Permintaan Zakharia dikabulkan oleh Tuhan. Permintaan seseorang yang tidak percaya mendapatkan perhatian dari Tuhan. Aneh tapi nyata! Malahan banyak orang tahu bahwa Zakharia memang mendapatkan sesuatu anugerah dari Tuhan, sebab 'orang banyak yang menanti-nantikannya menjadi heran, bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci; dan ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata, maka mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci'.  
'Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang', seru Elizabeth ketika melihat dirinya telah mengandung di usianya yang sudah lanjut. Hanya saja sepertinya dia tidak tahu rencana Allah dari semula. Dia tidak tahu: siapakah bayi yang dikandung itu. Dia hanya bahwa dirinya sedang mengandung seorang bayi yang mampu 'menghapuskan aib hidupnya di depan banyak orang'.
Zakharia meminta bukti bahwa rencana Tuhan hendak terjadi pada diri isterinya. Elizabeth mengalami rencana Tuhan terjadi dalam dirinya semata hanya dilihatnya sebagai kepuasan diri dari aib yang dialaminya. Tidaklah demikian dengan Maria yang berani menerima rencana Tuhan apa adanya. Dia siap menerima kehendak Tuhan, sebab 'aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanMu', tegas Maria.
          Merayakan Natal pun kiranya perlu bersikap seperti Maria. Sebab Natal kelahiran Yesus sungguh-sungguh akan hadir dalam diri kita, dalam keluarga kita, kalau memang kita berani berserah diri sebagaimana diteladankan Maria. Sebab kehadiran Yesus dalam kandungan Maria telah diawali dalam kehadiran Yesus dalam hati Maria.
 
 
 
 
Oratio :
 
Yesus  Kristus, buatlah kami ini semakin berani berpasrah dalam menanggapi sabdaMu. Apapun yang Engkau kehendaki pada diri kami, terjadilah. Pakailah aku ya Yesus, bentuklah aku. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanMu itu'.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening