Jumat Masa Biasa III , 27 Januari 2012

2Sam 11: 1-10  +  Mzm 51  +  Mrk 4: 26-34
 
 
 
 
Lectio :
Pada saat itu Yesus berkata kepada mereka semua: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba."
Kata-Nya lagi: "Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya."
Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.
 
 
 
Meditatio :
'Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena itu, marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun'.
Kerajaan Allah adalah kasih karunia Allah kepada umatNya, yang memang harus diusahakan oleh mereka untuk menikmatiNya. Pernyataan Paulus ini (Rom 14: 17.19) menguatkan dan membenarkan penyataan Yesus yang kita dengar dalam Injil hari ini, bahwasannya: 'Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba'. Manusia tak mampu mengamatinya secara inderawi dalam perhitungan waktu; setiap orang harus berani menantinya dengan sabar. Itulah perumpamaan dalam menantikan kehadiranNya. Setiap orang tidak mampu memaksakan keinginan dirinya agar orang lain, terlebih orangtua, suami atau isterinya, bahkan anak-anaknya sendiri, untuk segera menikmati pertobatan, sebagaimana dirinya sendiri mengalami. Kita hanya mampu mendukung dengan doa-doa dan pewartaan kasih bagi mereka, agar rahmat pertobatan segera mereka nikmati. Kita tidak mampu memaksa Allah untuk membuat orang bertobat ala Paulus.
Kesabaran dan kesetiaan menanti proses tertanamnya benih-benih Kerajaan Allah dalam diri seseorang akan sungguh-sungguh menghasilkan banyak buah; terlebih kita harus mengerjakan semua itu bukan dalam hal-hal hebat dan menggemparkan banyak orang, melainkan dalam hal-hal sederhana dan remeh, dan kurang diperhatikan banyak orang, tak ubahnya kita menanam biji sesawi. 'Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi, tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya'.
Kesabaran dan kesetiaan inilah yang harus kita latih hari demi hari guna datangNya Kerajaan Allah. Kesabaran dan kesetiaan mendatangkan keselamatan, minimal membentengi kita dari kuasa dosa yang terus-menerus memburu kita. Seseorang yang sabar dan setia kepada Allah dan juga akan kehadiranNya tidak mungkin jatuh dalam dosa. Kesetiaan Daud luntur, raja yang lupa-daratan. membuat dia jatuh dalam dosa dan bahkan membinasakan orang lain guna menutupi dosa dan kesalahannya. Kuasa dan kemapanan melemahkan sang raja. Itulah cerita dalam bacaan pertama tadi.
Aku ingin sabar dan setia.
 
 
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, Engkau mengemukakan kepada kami keindahan KerajaanMu, yang tampil dalam hal-hala sederhana, yang memungkinkan setiap orang untuk menikmatiNya; bukan dalam hal yang menggetarkan dan menakutkan. Yesus, ajarilah kami untuk menikmati kehadiranMu yang menyelamatkan. Buatlah kami orang-orang yang sabar dan setia, ya Tuhan.
 
 
Contemplatio :
Aku ingin sabar dan setia.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening