Kamis Masa Biasa II, 19 Januari 2012

1Sam 18: 6-9  +  Mzm 56 +  Mrk 3: 7-12
 
 
 
 
Lectio :
Pada suatu kali Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya.
Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: "Engkaulah Anak Allah." Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.
 
 
 
 
Meditatio :
Kasih Allah yang mahakuasa itu menyatukan.
Menyatukan, karena banyak orang dari pelbagai daerah yang beraneragam budaya mau menyatukan diri mengikuti Kristus Tuhan.  Itulah Injil hari ini. Sering kita dengar mereka orang-orang dari Galilea, dari Yudea, dan dari Yerusalem, dan Yesus pun sering mengunjungi mereka; tidaklah demikian dengan mereka orang-orang dari wilayah Idumea, seberang Yordan, dan Tirus dan Sidon, mereka ini adalah orang-orang yang diklasifikasi sebagai yang tidak mengenal Allah. Namun, sebagaimana dikatakan Injil hari ini,  semua orang datang berkumpul di pinggir danau untuk mendengarkan sang Guru, karena 'mereka mendengar segala yang dilakukanNya'. Kuasa Allah yang ditampakkan Yesus menyatukan banyak orang dari segenap bangsa. Bahkan tak dapat disangkal, mereka 'orang-orang yang berlawanan' dengan Dia, karena kuasa roh kegelapan yang menguasai mereka, mau datang kepadaNya. Mereka, roh-roh jahat di saat melihat Dia, jatuh tersungkur di hadapanNya dan berteriak: 'Engkaulah Anak Allah'; mereka bukannya mengakui Dia, melainkan hanya karena mereka mengetahui siapakah Orang yang mereka hadapi itu.
Bacaan pertama juga menyatakan demikian, kasih menyatukan Daud dan Yonathan, walau mereka berdua berbeda kedudukan. Sifat-sifat insane memang tak jarang memisahkan satu dengan lainnya, hal itulah yang muncul dalam benak Saul, ketika mendengarkan pujian dan sorak-sorai bangsanya sendiri, pikirnya: 'kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itu pun jatuh kepadanya'. Namun dalam kasih dan ingatan akan segala kebaikan yang dapat dilakukan sesama, semuanya itu bisa didamaikan; Yonathan berkata kepada ayahnya: 'janganlah raja berbuat dosa terhadap Daud, hambanya, sebab ia tidak berbuat dosa terhadapmu; bukankah apa yang diperbuatnya sangat baik bagimu! Ia telah mempertaruhkan nyawanya dan telah mengalahkan orang Filistin itu, dan TUHAN telah memberikan kemenangan yang besar kepada seluruh Israel. Engkau sudah melihatnya dan bersukacita karenanya. Mengapa engkau hendak berbuat dosa terhadap darah orang yang tidak bersalah dengan membunuh Daud tanpa alasan?', dan hati Saul pun luluh, lalu berkata: 'demi TUHAN yang hidup, ia tidak akan dibunuh'.
Kita pun adalah orang-orang yang berbeda satu dengan lainnya. Namun kita adalah satu dalam GerejaNya, karena kasih Kristus yang memanggil dan menyatukan kita. Gereja pun malahan mengundang dan mengundang seluruh umat kristiani untuk semakin menyatukan hati dan budinya, sebagaimana dikehendaki Kristus dalam doaNya: 'ya Bapa, Aku berdoa, supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau; Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku' (Yoh 17: 20-23).
          Kalau ada banyak komunitas di antara kita, marilah kita semakin berani menampilkan spiritualitas dan kharisma yang kita miliki, karena memang semuanya itu dikerjakan oelh Roh yang satu dan sama (1Kor 12: 11) demi pengembangan Gereja umat Allah  (1Kor 12: 7), dan bukannya menikmatinya demi kepentingan diri sendiri, dan tegas-tegas malahan secara sengaja tidak mau membutuhkan sesame lagi, karena memang telah merasa memiliki kharisma ilahi. Walau semuanya itu dinikmatinya, tegas Paulus, tetapi tanpa adanya kasih, maka semuanya akan terasa sia-sia dan tidak mendatangkan keselamatan (1Kor 13: 1-3). Paulus mengingatkan kita! Dia adalah seorang yang mempunyai pengalaman hidup dalam mengenal Allah dan sesamanya.
          Kehebatan Saul atau pun Daud dalam membangun bangsa Israel memang tidak dapat disangkal; mereka berperan dalam jamannya. Kiranya selimut kasih yang ditebarkan Allah melalui Yonathan mendatangkan berkat istimewa bagi Israel, milik Allah. Berkat kasih Allah, kita tentunya tidak kalah dengan Saul dan Daud dalam pengalaman hidup. Kasih itu menyatukan.
 
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus Kristus, banyak orang berduyun-duyun datang kepadaMu, karena mereka hendak mendengarkan sabda dan kehendakMu, dan segala yang pernah Engkau perbuat bagi umatMu. Kasih karuniaMu menyatukan semua orang. Semoga kasih karuniaMu itulah yang juga semakin menyatukan kami sebagai GerejaMu, dan semoga segala pemberianMu itu mengajak untuk berbagi kasih dengan sesame.
Ya Tuhan Bapa di surge, semoga Engkau melimpahkan juga rahmat kesatuan dan persatuan kepada seluruh umat kristiani. Semoga berkat sabdaMu, kami semua, GerejaMu yang satu dan kudus, semakin mampu menjadi sakramen keselamatan bagi dunia. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Kasih Allah itu menyatukan.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening