Minggu Masa Biasa II, 15 Januari 2012

1Sam 9:  1-4  +  Mzm 21 +  Mrk 2: 13-17
 
 
 
 
Lectio :
Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di suatu tempat pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!" Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?" Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.
Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."
 
 
 
 
Meditatio :
'Lihatlah Anak domba Allah!'.
Kata-kata inilah yang disampaikan Yohanes kepada kedua muridNya. Apakah maksudnya memang tidak terlalu jelas. Apakah sekedar menunjukkan atau memang Yohanes menyuruh kedua muridNya mengikuti Dia? Namun kalau Yohanes menyuruh mereka mengikutiNya, terasa janggal juga, mengapa dia tidak menjaga kesetiaan kedua muridnya: apakah Yohanes tidak memerlukan murid, apakah dia tidak memerlukan pengikut-pengikut  yang setia?
Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Yohanes pun membiarkan kedua muridnya mengikuti sang Anak Domba. Yohanes sadar sungguh bahwa 'Ia harus makin besar, tetapi dirinya harus makin kecil' (Yoh 3: 30). Yohanes benar-benar seorang yang rendah hati. Dia memang tidak mempunyai intense untuk mendirikan komunitas. Yohanes menyadari sungguh bahwa dirinya hanyalah suara yang berseru-seru di pada gurun: luruskanlah jalan bagi Tuhan (Mrk 1: 3).
'Apakah yang kamu cari?', tanya Yesus, ketika dilihatNya kedua orang itu mengikuti diriNya. 'Guru, di manakah Engkau tinggal?', sahut kedua murid. Mereka tidak meminta ijin terlebih dahulu: boleh-tidak mengikutiNya? Mereka juga tidak berkata: benarkah Engkau Anak Domba Allah? Mereka langsung ingin tinggal bersama dengan sang Anak Domba Allah!   Mengikuti Yesus berarti percaya kepada Dia, tinggal bersama dengan sang Anak Domba Allah. 'Marilah dan kamu akan melihatnya',  sahut Yesus.  Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.
Andreas, salah seorang dari kedua yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus, ketika bertemu dengan Simon, saudaranya, berkata: 'kami telah menemukan Mesias'.
Ketiga murid Yesus mengenal dan mengikutiNya, karena ditunjukkan oleh orang lain. Mereka tidak dipanggil oleh Yesus seperti yang dialami oleh Lewi: ikutlah Aku (Mrk 2: 14), sebagaimana yang kita renungkan kemarin, atau secara sengaja mereka datang sendiri menjumpai Yesus dan mendengarkan pengajaranNya (Mrk 2: 14). Mereka datang, karena diperkenalkan oleh orang lain. Orang-orang yang ada di sekitar mereka, yang memperkenalkan mereka kepada Yesus. Apakah kualitas pengenalan mereka berbeda? Mereka hanya berbeda dalam cara pengenalan kepada Yesus, tetapi tidak dapat disangkal: usaha pengenalan mereka tumbuh dan berkembang, karena memang mereka melihat sesuatu yang indah dalam diri sang Mesias, Anak Domba Allah.
Kiranya tidaklah perlu kita saling mempersoalkan bagaimana cara kita berkenalan dengan Yesus, bagaimana cara dan di mana kita menerima sakramen baptis, atau bagaimana cara dan mulai kapan kita menjadi anggota GerejaNya yang satu, kudus, katolik dan apostolic. Kiranya yang lebih penting sekarang ini adalah bagaimana kita menikmati tinggal bersama Yesus, sebagaimana dialami dan dinikmati oleh kedua murid tadi. Terlebih lagi, kita sudah menjadi milikNya, sebagaimana dikatakan dalam bacaan kedua, lebih dari yang dinikmati oleh ketiga murid tadi.
Berkat sabda dan sakramen baptis, kita telah dipersatukan dalam Yesus, dan kita telah  menjadi milikNya, 'Kamu bukan milik kamu sendiri, kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar oleh Kristus, dan bahkan tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah'. Tubuh kita saja adalah milik Kristus. Karena itu, tegas Paulus tadi, 'jauhkanlah dirimu dari percabulan, sebaliknya ikatkan dirimu pada Tuhan, agar menjadi satu roh dengan Dia'. Hanya Tuhan Allah sang Empunya kehidupan kita. Menikmati sabda dan sakramen-sakramenNya berarti kita hidup dan tinggal bersama Yesus, sang Anak Domba Allah.
Kepemilikan Allah atas diri kita akan semakin kita rasakan dan kita nikmati, kalau kita mengikuti apa yang menjadi kemauan sang Pemilik kehidupan ini. Kiranya sikap Samuel, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama, juga menjadi sikap hidup kita. 'Berbicaralah, TUHAN, sebab hambaMu ini mendengar', sebab memang aku datang hanya untuk melakukan kehendakMu.
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus Kristus, kami ingin mengikuti Engkau dan tinggal bersama Engkau, sebab kami semua telah menjadi milikMu, Engkau telah membeli kami dengan darah penebusanMu.
Buatlah kami semakin setia kepadaMu, ya Tuhan Yesus, dengan mendengarkan sabda dan kehendakMu. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Guru, di manakah Engkau tinggal?'.
 
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening