Sabtu Masa Biasa II, 21 Januari 2012

2Sam 1: 1-4  +  Mzm 80 +  Mrk 3: 20-21
 
 
 
 
Lectio :
Setelah memanggil keduabelas muridNya, Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluargaNya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.
 
 
 
 
Meditatio :
Inilah kehidupan!
Itulah komentar saya pribadi berkaitan Injil hari ini. Yang ideal berbeda dengan yang real. Cita-cita berbeda dengan kenyataan. Yang diharapkan tidak selalu terpenuhi semuanya. Dua hari berturut-turut kita mendengarkan kehebatan Yesus, yang didengar banyak orang dan bahkan mereka  terpesona dan terkagum-kagum kepadaNya.  Saking banyaknya orang datang 'makan pun mereka tidak dapat'. Yesus beserta para murid yang menyertaiNya tidak mampu melarang mereka untuk datang. Ramainya orang-orang yang datang meminta pelayanan seringkali membuat kita tidak mampu mengendalikan diri. Orang harus berani menyisihkan waktu untuk berani meninggalkan mereka demi kepentingan mereka. Tidak ubahnya sebuah pisau, bila dibiarkan terus tanpa pernah diasah, dia tidak akan tajam lagi, dan tidak ada orang lain yang akan menggunakannya. Sebuah teko pun harus diisi agar dapat tetap mampu menuangkan air ke dalam gelas-gelas.
'Waktu kaum keluargaNya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi'. Inilah kehidupan? Siapakah keluarga yang dimaksudkan? Apakah Yusuf dan Maria? Apakah sepupu dan kaum kerabatNya? Kabar apa yang mereka dengar tentang Yesus, sehingga kesimpulannya begitu keras bahwa: 'Ia tidak waras lagi'. Semuanya ini bisa terjadi, karena mereka, kaum keluarga, tidak mendengarkan sendiri; mereka hanya mengandalkan apa kata orang tentang Yesus. Mereka tidak mau mendengarkan langsung apa yang dikatakan Yesus. Ada baiknya kita tidak berhenti dan tidak cepat puas dengan aneka kotbah dan renungan tentang Yesus atau pun aneka kesaksian banyak orang tentang Yesus. Untuk mengenal Yesus secara tepat dan benar adalah berani mendengarkan Yesus sendiri yang menyampaikan sabda dan kehendakNya.
Mereka datang hendak mengambil Dia; apakah karena mereka merasa dipermalukan oleh Yesus? Apakah kita juga merasa malu di hadapan banyak orang karena Yesus? Apakah gara-gara nama Yesus kita pernah banyak mendapatkan kesulitan? Gara-gara mengikuti Yesus kita menjadi bahan pembicaraan banyak orang, terutama keluarga kita sendiri? Kiranya janganlah kita takut dan gentar. 'Barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataanKu di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan BapaNya, diiringi malaikat-malaikat kudus' (Mrk 8: 38). Kita tunjukkan iman kepercayaan kita.
Mereka datang hendak mengambil Dia, karena apakah Yesus kurang menaruh perhatian kepada kaum kerabatNya? Perhatian Yesus hanya lebih banyak pada bidang rohani, dan tidak ada tanda-tanda bergerak dalam bidang politik, yang memang diharapkan banyak orang sebagai pahlawan yang membebaskan bangsa dari penjajahan?   'Aku datang bukan untuk kaum kerabatKu, melainkan orang berdosa' (bdk, Mrk 2: 17), tegas Yesus; dan terang-terangan pula Dia mengajak para muridNya untuk tidak tenggelam dalam komunitas, di mana mereka tinggal; mereka harus berani pergi ke luar sebagaimana kehendak Bapa yang mengutusNya. KataNya: 'marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang' (Mrk 1: 38).
Mereka datang hendak mengambil Dia, karena ada kekuatiran dalam diri kerabat-kerabat Yesus? Adanya kekuatiran berarti adanya ketidakpercayaan atau kekurangpercayaan keluarga terhadap Yesus dan tugas perutusanNya. Apakah ini akibat kurang adanya kasih di antara mereka? 'Kasih menutupi segala segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu' (1Kor 13: 7). Kasih mereka terhadap Yesus seharusnya lebih besar daripada kasih Daud, ketika mendengar Saul dan Yonathan anaknya mati. 'Daud memegang pakaiannya dan mengoyakkannya; dan semua orang yang bersama-sama dengan dia berbuat demikian juga; mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat TUHAN dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang'. Mereka bertindak demikian, karena ada kasih terhadap 'Saul dan Yonatan, anaknya, dan kaum Israel, umat TUHAN yang telah gugur oleh pedang'. Kaum keluarga Yesus seharusnya mampu bertindak lebih dari tindakan Daud dan orang-orang Israel, sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama tadi. Kedekatan dengan Yesus memang bukanlah disebabkan oleh hubungan kekeluargaan, melainkan karena kepercayaan dan kasih.
Kita pun diangkat menjadi saudara dan saudari Yesus hanya karena kasih Allah dan karena kita mau melaksanakan kehendak Bapa di surge (Mrk 3: 35). Kasih kita hendaknya mengatasi segala.
 
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, Engkau banyak berbuat baik dan mewartakan sabda dan kehendak Bapa di surge, tetapi Engkau mendapatkan sambutan yang tidak mengenakkan. Semoga pengalamanMu ini menjadi bekal bagi kami dalam berbuat baik dan berbagi kasih terhadap sesame untuk tidak mengharapkan imbalan kasih dari mereka.
Ya Tuhan Bapa di surge, semoga Engkau melimpahkan juga rahmat kesatuan dan persatuan kepada seluruh umat kristiani. Semoga berkat sabdaMu, kami semua, GerejaMu yang satu dan kudus, semakin mampu menjadi sakramen keselamatan bagi dunia. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Aku datang bukan untuk kaum kerabatKu, melainkan orang berdosa' (bdk, Mrk 2: 17)
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening