Selasa Masa Biasa II, 17 Januari 2012

1Sam 16: 1-13  +  Mzm 89 +  Mrk 2: 23-28
 
 
 
 
Lectio :
Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepadaNya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" JawabNya kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu -- yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam -- dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?"
Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."
 
 
 
 
Meditatio :
'Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?'.
Teguran orang-orang Farisi kepada Yesus, ketika pada hari Sabat murid-muridNya dengan enaknya memetik bulir gandum. Jawab Yesus kepada mereka: 'belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu, yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam, dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?'. Sejauhmana memang peraturan-peraturan hari Sabat, kita tidak mengetahuinya; tetapi  adakah memang aturan begitu detail, sebagaimana disebutkan orang-orang Farisi, yang  membuat orang tidak berkutik sama sekali. Contohnya seperti yang kita dengar hari ini: mungkin yang dimaksudkan supaya tidak bekerja kebun di hari Sabat, tetapi kalau hanya sekedar lewat dan memetik gandum apakah memang tidak diperbolehkan? atau sekedar mengangkat tilam (Yoh 5: 10) untuk meringkasnya juga tidak diperbolehkan?
Terjadinya pemahaman seperti itu sepertinya karena lemahnya orang-orang Farisi dalam menegerti keberadaan suatu peraturan atau kewajiban agama, sebagaimana digariskan oleh Musa.  Tepatlah yang dikatakan Yesus bahwa 'hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat'. Hari Sabat dikondisikan oleh Musa agar umat Israel berani memberi waktu, tenaga dan perhatian kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan. Allah hendaknya tidak diabaikan dalam perjalanan hidup sehari-hari. Hari Sabat ditata sedemikian rupa agar hari yang indah dan mulia itu (Kej 2: 2-3; Kel 16: 23) dikhususkan bagi Tuhan. Dengan demikian, hari Sabat ditata demi umat beriman agar mereka mempunyai kesempatan yang baik untuk mengabdi Tuhan. 'Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat'.
Tidak ubahnya dengan sahabat-sahabat mempelai laki-laki, yang tidak mungkin berpuasa selama sang mempelai ada bersama mereka; demikian juga bagi umat kesayanganNya, segala yang ditata dalam hari Sabat tidak begitu berarti bila mereka berada bersama Anak Manusia, sebab 'Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat'. Bukannya Anak Manusia meniadakan hari Sabat, tetapi bagaimana kita masih memerlukan hal-hal lain, bila memang sudah menemukan Mutiara indah nan berharga, malahan 'akan pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu' (Mat 13: 46). Sesungguhnya segala yang dilakukan para murid akan mendapat teguran keras dari Anak Manusia, bila memang berlawanan dan bertentangan dengan kehendak Dia sang Empunya kehidupan.
Kebersamaan dengan sang Mempelai laki-laki, Anak Manusia, mensyaratkan seseorang telah mampu mengkondisikan diri sesuai dengan kehendakNya: mampu mengendalikan diri (berpuasa) dan mampu melakukan sesuatu yang tidak bertentangan dengan kehendakNya (memetik gandum), dan bukan pada soal berpuasa atau tidak memetik gandum; sebab sebaliknya, bisa saja seseorang berpuasa atau tidak memetik gandum pada hari Sabat, tetapi dia tidak ada bersama Yesus. Apa yang nampak indah dan mulia dalam pandangan mata insane tidaklah selalu berkenan di hadapan Tuhan, sebagaimana disitir dalam bacaan pertama tadi ketika Samuel memandang Eliab: 'sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapiNya', tetapi sahut Tuhan kepadanya: 'janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati'.
Adakah hari Minggu kita gunakan sebagaimana mestinya? Adakah kesempatan itu kita gunakan merayakan kebangkitan Yesus yang menyelamatkan seluruh umat manusia? Bukankah berkat kematian dan kebangkitanNya kita beroleh selamat? Apakah hari Minggu untuk kita atau kita untuk hari Minggu? Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Minggu, sebab memang Dia bangkit dari alam maut pada hari Minggu, hari milik Tuhan (dominggo). Ada bersama Anak Manusia menyelamatkan kita.
 
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, ada bersama Engkau membuat kami ada dalam pantauanMu, ada dalam kasihMu, dan Engkau membebaskan kami dari kuasa dosa, karena kami ada dalam kendaliMu sendiri. Kami mohon, ya Tuhan Yesus, semoga kami ada bersama Engkau selalu; dan di tengah-tengah kesibukan dan kerja kami sehari-hari, kami ingin tetap bersama Engkau.  Amin.
 
 
Contemplatio :
          Anak Manusia itu Tuhan atas hari Sabat.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening