Selasa Masa Natal, 3 Januari 2012

1Yoh 2:29 – 3:36  +  Mzm 98  +  Yoh 1: 29-34
 
 
 
 
Lectio :
Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel."
Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."
 
 
 
 
Meditatio :
'Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia'.
Inilah kesaksian perjumpaan pertama Yohanes dan Yesus. Yohanes langsung menunjuk Yesus: Dialah 'Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia', sebab Dia datang 'ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya' (Yoh 3: 17). Secara istimewa pula Yohanes menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah, karena memang Dia akan menjadi kurban tebusan bagi seluruh umat manusia. Dia yang tidak berdosa menjadi kurban pelunas dosa bagi umat manusia, sehingga seluruh umatNya dapat menikmati keselamatan abadi, menjadi anak-anak Allah, putera-puteri Bapa di surga.  'Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku'; bahkan lebih dari itu, bukan saja sebelum Yohanes ada dan dilahirkan, malahan 'segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan' (Yoh 1: 3).
Dengan jujur pula Yohanes mengakui: 'aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel'. Yohanes tidak pernah berjumpa dari muka ke muka dengan sang anak Domba Allah, tetapi Yohanes sadar sungguh akan tugas perutusan yang diembannya, sebagaimana dikatakan dalam Injil: 'ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu' (Yoh 1: 6-8)
'Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atasNya'.
Inilah kesaksian kedua dalam perjumpaannya dengan Yesus. Yohanes merasa perlu mencatat dan merekam peristiwa itu secara khusus, karena memang dia harus memberi kesaksian bahwa Dia yang akan datang, yang membuka tali sandalNya saja, dia merasa tidak pantas, akan dijumpainya pada saat ini, yakni 'jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atasNya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus'. Dan sekarang aku telah melihatNya,  ya sekarang ini juga saya memberi kesaksian: 'Ia inilah Anak Allah'. Dia inilah Allah yang menjadi Manusia. Dia adalah Anak Allah, karena memang Dia adalah Allah yang menjadi Manusia dan menampakkan diri secara nyata. Allah kita sungguh-sungguh real, Dia bukan Allah yang fiktif!
'Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah'.
Pernyataan  Yohanes dalam bacaan pertama ini, hendaknya sungguh-sungguh menjadi keyakinan dan pegangan hidup kita. Kita adalah anak-anak Allah. Kalau kita sekarang masih harus makan dan minum, kerja dan istirahat, harus jaga body segala, bahkan sempat jatuh dalam dosa, itulah kenyataan hidup! Hidup yang masih dalam dunia. Dengan bahasanya sendiri, Yohanes menyatakan: 'sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diriNya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya'. Pernyataan ini secara sengaja mengajak kita: hendaknya janganlah kita hanya memikirkan keadaan sekarang saja, janganlah kita hanya meminta ini dan itu saja untuk hidup kita sekarang ini, atau bersyukur karena ini dan itu . Memang penting, tetapi hendaknya pengharapan kita akan akhir jaman semakin kita tumbuh-kembangkan dalam hidup ini. Bunda Gereja pun selalu mengingatkan: 'Wafat Kristus kita maklumkan, KebangkitanNya kita muliakan, KedatanganNya kita rindukan'.
Bukti kita adalah anak-anak Allah, pertama, Yohanes meminta kita agar selalu melakukan kebenaran, sebab Allah Tuhan kita Yesus Kristus itu sumber kebenaran. 'Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari padaNya'. Pengenalan kita akan Allah tetap mengandaikan penggunaan akal budi sehat, dan bukan sekedar pengenaan gelora emosi jiwa, yang seringkali hanya dikendalikan oleh rasa suka dan senang, enak dan memuaskan. Menjadi anak-anak Allah berarti bertumpu dan mentaati kehendak dan kemauan Allah, bukannya kemauan diri sendiri.
Kedua, berani mengevaluasi diri; bila kita jatuh dalam dosa, kita harus berani bangkit dan hidup kembali. 'Sebab setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. Setiap orang yang mengaku berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa; sebaliknya setiap orang yang berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia'.
 
 
 
 
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, dari kesaksian Yohanes, kami semakin mengenal siapakah Engkau. Semoga pengenalan kami kepadaMu, kami nikmati dalam hidup sehari-hari dan tidak berhenti pada akal budi. Malahan dengan pengetahuan yang kami miliki, kami semakin berani mendekatkan diri kepadaMu.  Semoga pengenalan  ini kami nikmati dalam hidup sehari-hari dan bukannya berhenti pada akal budi. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Wafat Kristus kita maklumkan, KebangkitanNya kita muliakan, KedatanganNya kita rindukan'.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening