Senin Masa Biasa II, 16 Januari 2012

1Sam 15: 16-23  +  Mzm 50 +  Mrk 2: 18-22
 
 
 
 
Lectio :
Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: "Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.
Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula."
 
 
 
 
Meditatio :
'Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-muridMu tidak?'.
Pertanyaan banyak orang yang ditujukan kepada Yesus amatlah wajar. Sebab bukankah puasa itu adalah kewajiban keagamaan bagi bangsa terpilih (Mat 6: 1.16). Pelanggaran dan penolakan terhadap kewajiban berpuasa bisa dilihat sebagai perlawanan terhadap kehendak Tuhan. Mau apa komunitas Yesus ini? Kali lalu Dia menghojat Allah, karena mengampuni orang berdosa dan bahkan bergaul akrab dengan mereka, orang-orang berdosa. Kini mereka makan dan minum, padahal saat inilah adalah kesempatan untuk berpuasa; pelbagai komunitas mewajibkan anggotanya melakukan puasa. 'Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-muridMu tidak?'.
'Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka?', jawab Yesus kepada mereka, 'selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa, tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa'. Sahabat-sahabat mempelai laki-laki memang tidak mungkin berpuasa, dan memang tidak perlu berpuasa, karena memang ada mempelai laki-laki bersama mereka. Dalam arti tertentu, mereka sahabat-sahabat itu dalam kendali sang mempelai laki-laki, kebersamaan mereka dengan mempelai laki-laki membebaskan mereka dari aturan main keseharian, karena memang mereka ada bersama sang mempelai. Ada bersama Yesus, sang Empunya kehidupan membebaskan kita dari aturan kewajiban puasa. Sebaliknya, ketidak-ada bersama-an kita dengan Yesus, yakni ketika mempelai itu diambil dari tengah-tengah kita, pada waktu itulah kita harus berpuasa', kita harus mampu mengendalikan diri dan mengutamakan sabda dan kehendakNya. Puasa adalah pengendalian diri dari segala kecenderungan insane, yang memang bisa membuat setiap orang gila makan, gila harta, gila kuasa, gila hormat, asal gila dan sungguh gila, puasa bukannya sebatas tidak makan atau minum.
Adakah waktunya mempelai itu akan diambil?. Ada! Segala sesuatu ada waktunya (Pengk 3: 1). Ada waktu untuk ini dan itu, ada waktu bertindak atau berdiam, mati pun ada waktunya. Kita tidak bisa menghindarinya, tetapi kita diminta bijak menanggapinya. 'Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang, tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula'.
'Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu'. Inilah peristiwa yang diceritakan dalam bacaan pertama. Saul tidak mampu mengendalikan diri dalam melihat kenikmatan dunia. Sayang kalau dibuang dan dibinasakan; sayang kalau tidak digunakan dan dimanfaatkan. Pada saat itulah seharusnya Saul harus mampu berpuasa. Saat itulah masa puasa yang sebenarnya. Ketidakmampuan Saul mengendalikan diri mendatangkan murka Allah. SabdaNya:  'Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja'.
          Kapan kita berpuasa? Tidak cukup di waktu masa Prapaskah! Di saat kita tidak ada bersama Yesus, di saat dunia begitu mempesona dan menggairahkan kita, saat itulah kita harus mengendalikan diri, saat itulah kita harus berpuasa. Berpuasa bukan soal makan atau tidak, bukan soal waktu; ada waktu untuk berpuasa memang sebagai kesempatan berlatih. Berpuasa adalah berusaha mengatasi dunia dan tidak dikuasai oleh dunia. Berpuasa adalah salah satu usaha untuk tidak 'menjadi serupa dengan dunia' (Rom 12: 2).
 
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus, ada bersama Engkau membuat kami ada dalam pantauanMu, ada dalam kasihMu, dan Engkau membebaskan kami dari kuasa dosa, karena kami ada dalam kendaliMu sendiri. Kami mohon, ya Tuhan Yesus, semoga kami ada bersama Engkau selalu dan menyadari kehadiranMu di tengah-tengah kesibukan dan kerja kami sehari-hari.  Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang sang Mempelai itu bersama mereka?'.
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening