Jumat Masa Biasa V, 10 Februari 2012

1Raj 11: 29-32  +  Mzm 81  +  Mrk 7: 31-37
 
 
 
 
 
Lectio :
Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.
Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."
 
 
Meditatio :
'Efata!'
Terbukalah, kata Yesus kepada orang yang tuli dan yang gagap. Menarik kali cara Yesus menyembuhkan orang itu. 'Ia memasukkan jariNya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: terbukalah!'. Kenapa Yesus memakai gaya ritual semacam itu? Apakah tidak cukup bagi Yesus hanya dengan mengatakan terbukalah? Apakah Yesus juga ingin bergaya sebagai seorang tabib dengan aneka banyak rumusan? Apakah Yesus mengikuti rumusan umum, sebagaimana dipraktekkan tabib-tabib di daerah Sidon dan Tirus ini?  Namun tak dapat disangkal karunia indah diterima orang gagap dan tuli itu; saat itu pula 'terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik'.
Entah mengapa Yesus memakai rumusan ritual semacam itu. Kiranya sabda Yesus 'terbukalah' itulah kekuatan ilahi dan menentukan dalam proses penyembuhan itu, bukan ritualnya. Sabda dan kehendak Tuhan Allah yang menyelamatkan, dan bukan yang lain! Kalau Yesus hanya ingin bergaya, sepertinya bukanlah kemauanNya; sebab bila hal itu menjadi kemauanNya, maka 'Dia tidak akan berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga', bukankah itu berkebalikan dengan orang-orang yang memang hanya mencari nama.
'Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikanNya mendengar, yang bisu dijadikanNya berkata-kata', seru orang-orang yang takjub dan tercengang kepadaNya. Semua orang dapat menikmati kemuliaan dan keagunganNya. Jaman yang berbeda, kasih karunia yang kita miliki lebih agung dan mulia daripada orang-orang sejamanNya, karena memang kita boleh menikmati rahmat dan mukjizat terindah dan termulia, yakni kebangkitanNya; tapi tak boleh disangkal, de facto, kekaguman kita kepada Tuhan tak jarang sejauh Tuhan memberikan mukjizat dan mukjizat. Tanpa mukjizat yang kecil-kecil itu kita tidak terperangah memandang Tuhan Yesus; hanya karena mukjizat kita sering baru memandang Tuhan, malahan tak jarang kita beranggapan semuanya itu karena hasil usaha diri sendiri; tak ubahnya seorang anak kecil yang sudah diberi permen di tangannya, baru bisa tertawa ria.
Kiranya juga menjadi pemahaman kita bersama bahwasannya seringkali kepahitan hidup itu sebagai akibat dari dosa dan perlawanan kepada Allah, atau karena kesalahan kita dalam menentukan sebuah pilihan. Adanya kandungan kolesterol dan asam urat yang tinggi dalam tubuh seseorang sepertinya dibiarkan Tuhan terjadi pada diri seseorang, yang memang teledor dalam menikmati makanan. Israel, sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama, terpaksa terkoyak menjadi beberapa bagian karena resiko pilihan Salomo, yang berpihak kepada allah-allah lain, dan sepertinya Allah menghendaki. 'Sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari tangan Salomo dan akan memberikan kepadamu sepuluh suku, tetapi satu suku akan tetap padanya oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem, kota yang Kupilih itu dari segala suku Israel'.
 
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, ada banyak hal indah yang telah kami terima daripadaMu, dan bahkan Engkau membuat segala-galanya indah adanya. Kiranya kami tidak berhenti pada aneka pemberian-pemberianMu itu, melainkan semakin berani mendekatkan diri kepadaMu, sang Empunya keheidupan; dan juga berani berbagi kasih dengan sesame kami, terlebih mereka yang menderita.
Santa Skolastika doakanlah kami. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Efata!
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening