Kamis Masa Biasa V, 9 Februari 2012

1Raj 11: 4-13  +  Mzm 106  +  Mrk 7: 24-30
 
 
 
 
 
Lectio :
Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya.  Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya.
Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."
Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.
 
 
Meditatio :
'Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian' (Mrk 4: 21).
Demikian pernyataan Yesus yang datang membawa cahaya baru; ke mana saja Dia pergi, banyak orang mengetahuiNya, karena memang Dia menyinarkan kemuliaan dan keagungan; demikian juga ketika bersama para muridNya, 'Dia pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatanganNya tidak dapat dirahasiakan'. Sang Cahaya terbit, datanglah banyak orang kepadaNya menikmati cahaya yang memberikan kehidupan.
'Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing'.
Sebuah jawaban yang kiranya cukup pahit dan tidak mengenakkan yang disampaikan Yesus kepada seorang ibu, seorang perempuan Yunani Siro-Fenisia, yang memohon kepadaNya untuk mengusir setan dari anaknya. Bukan soal mau atau tidak, jawaban yang diberikan Yesus kepada perempuan itu, melainkan sebuah penolakan. karena memang dia seorang asing yang tidak mendapatkan jatah, sebagaimana dinikmati oleh Israel umat pilihan; umat pilhan Allah adalah sasaran pertama karya penyelamatan Allah, dan kalau memang membutuhkan sungguh, tunggulah giliran nanti, 'biarlah anak-anak kenyang dahulu'.
'Benar, Tuhan; tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak', jawab perempuan itu. Rendah hati kali perempuan ini, tetapi sekaligus tampil sebagai seorang pemberani; dia bertindak demikian karena dia berani bersandar pada Yesus sang Empunya kehidupan, dia tetap percaya dan percaya, sembari berharap untuk beroleh kesembuhan bagi anaknya; dia merindukan kesembuhan bagi sang buah hatinya walau harus menunggu giliran.
'Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu', jawab Yesus. Betapa bahagianya sang perempuan Siro Fenesia ini, dia hanya mampu dan siap hanya mendapatkan remah-remah yang dijatuhkan oleh anak-anak, tetapi sebaliknya dia malahan mendapatkan roti yang masih utuh, sekarang juga mendapatkan dan boleh menikmatinya. Suatu kasih karunia yang begitu indah yang diterima perempuan ini, dia meminta sedikit tetapi beroleh secara melimpah daripadaNya; tidak jauh berbeda dengan Zakheus yang hanya ingin melihat, malahan diberi kesempatan tinggal bersamaNya (Luk 19: 1-10). Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar. Ia beroleh kasih karunia Allah, karena memang dia telah berkata-kata dengan iman.
Ketidakberdayaan diri membuat seseorang berkata-kata dengan iman. Itulah pengalaman perempuan Siro Fenesia tadi; lebih dari itu, kemapanan dan segala karuniaNya, kalau kita berani jujur, semuanya itu diberikan untuk membuat orang agar semakin mendekatkan diri kepadaNya. Bila dalam duka saja seseorang mampu mendekatkan diri kepada Tuhan, tentunya bila dalam suka, maka dia seharusnya semakin terpaut kepadaNya dan bahkan berani membagikannya kepada orang lain yang ada di sekitarnya. Nama Yesus, Anak Daud, yang semakin termasyur dan dikenal di mana-mana boleh dinikmati oleh setiap orang yang menjumpaiNya, termasuk dia yang mendapat urutan nomer belakang ini, sekedar remah-remah, malahan mendapatkan roti istimewa bagi anaknya. Tidaklah demikian dengan Salomo, anak Daud, yang lupa daratan dan berbalik kepada allah-allah lain dan  tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN, sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama tadi.
            Iman kita pasti lebih hebat daripada perempuan Siro Fenesia itu, ada baiknya kita buktikan dalam perjalanan hidup ini.
 
 
 
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus,  kami bersyukur kepadaMu atas segala karunia yang telah Engkau berikan kepada kami. Semoga kami siap membagikannya kepada orang lain, sebagai rasa terima kasih kami kepadaMu, demikian juga dalam pergaulan kami dengan sesame, kami akan selalu berkata-kata dalam iman dan kasih.
Yesus tumbuhkembangkanlah iman kami kepadaMu. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Tuhan, anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak'.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening