Minggu Masa Biasa V, 5 Februari 2012

Ayb 7: 1-7  +  1Kor 9: 16-23  +  Mrk 1: 29-39
 
 
 
 
 
Lectio :
Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka.
Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang." Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.
 
 
Meditatio :
'Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya, demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan'.
 
Itulah keluhan Ayub, gambaran seorang yang dirundung duka atas sakit yang menimpa dirinya, dan lebih dari itu segala kemapanan hidup yang dinikmatinya menjadi petaka bagi diri dan keluarganya. Gejolak bathin, kegelisahan diri dan penyesalan hidup akan sering muncul pada diri orang yang sakit dan menderita. 'Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari. Berenga dan abu menutupi tubuhku, kulitku menjadi keras, lalu pecah. Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan. Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas; mataku tidak akan lagi melihat yang baik'.
Apa yang dapat kita buat?
Mendoakan mereka dan memberi penghiburan, melemparkan senyum damai dan sapaan penuh kasih. Itulah yang harus kita perbuat bagi mereka dan jangan yang lain, apalagi menginterview mereka atas sakit yang dideritanya. Pengetahuan kita yang amat terbatas tentang aneka gangguan kesehatan hendaknya tidak kita jadikan modal dalam komunikasi dengan mereka yang sakit. Ada baiknya kita memberi doa dan penghiburan, yang akan memberikan peneguhan bagi mereka dalam memanggul salib yang begitu berat. Bila mereka bercerita kita menjadi seorang pendengar yang baik, yang menaruh empati yang sedalm-dalamnya kepada mereka. Hati yang mendengarkan  meringankan beban mereka yang sakit dan menderita.
Yesus sang Empunya kehidupan, yang banyak tahu akan problema kehidupan umatNya, tidak bertanya kepada mereka yang sakit. Terhadap 'ibu mertua Simon yang terbaring karena sakit demam, Ia hanya pergi mengunjungi, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia'. Yesus tidak banyak bicara dan bertanya-tanya kepada mereka, orang-orang yang menderita bermacam-macam penyakit; Yesus pun tidak memberi kesaksian kepada mereka, malahan 'Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia'. Yesus hanya memberikan apa yang dimilikiNya, dan yang diperlukan secara mendesak oleh mereka yang sakit. Sebab memang sang Anak Manusia datang, bukan bertujuan untuk mengadakan pelbagai mukjizat. 'Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang', tegas Yesus kepada para muridNya ketika mereka mengajakNya kembali ke rumah mereka. Yesus datang untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah; dan memang inilah inti pewartaanNya, sebagaimana kita renungkan 2 minggu yang lalu, 'waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!' (Mrk 1: 15).
Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.
Apakah kita wajib mengunjungi mereka yang sakit?
Yesus meletakkan perhatian kepada mereka yang sakit dalam kerangka pewartaan Injil Kerajaan Allah, demikian pula kita yang memang terpanggil untuk mewartakan sabda Allah. Kita wujudkan pewartaan Injil keselamatan itu dengan berani berbagi kasih kepada mereka yang sakit dan menderita.
'Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil', inilah semangat Paulus dalam mewartakan Injil Allah, sebagaimana kita renungkan dalam bacaan kedua tadi; dan Paulus juga mewujudkannya secara istimewa bagi mereka yang lemah dan sakit dengan mengatakan: 'bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah; bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka'. Mendoakan mereka yang sakit dan memberi penghiburan, melemparkan senyum damai dan sapaan penuh kasih adalah pewartaan kabar keselamatan dan sekaligus mengikutsertakan mereka dalam karya penyelamatan yang dibawa Yesus.
Setiap kali kita mengunjungi mereka yang sakit, hendaknya kita berseru: 'segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya'.
 
 
 
 
Oratio :
 
Yesus, Engkau menyembuhkan banyak orang yang sakit dan membersihkan mereka dari kuasa kegelapan, karena memang Engkau hendak mengajak mereka dalam karya keselamatanMu. Ajarilah kami ya Yesus, untuk berani berbagi kasih dengan semua orang, khususnya mereka yang sakit dan menderita, agar kami mampu semakin merasakan kehadiranMu dalam diri mereka. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang',
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening