Pesta Yesus dipersembahkan di kenisah, 2 Februari 2012

Ibr 2: 14-18  +  Mzm 24  +  Luk 2: 22-40
 
 
 
 
 
Lectio :
Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka. Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
 
 
 
Meditatio :
'Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah'.
Inilah aturan yang tersurat dalam hukum Taurat Musa. Yusuf dan Maria sebagai orang-orang Yahudi sungguh-sungguh mentaatinya. Maka mereka membawa Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkanNya kepada Tuhan; walau tidak harus diajaknya, kedua orangtua tetap membawa Yesus ke Yerusalem, sebagai tanda bakti secara penuh. 'Kuduskanlah bagiKu semua anak sulung, semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel, Akulah yang empunya mereka. Aku telah membawa kalian ke negeri orang Kanaan, seperti yang telah dijanjikanNya dengan sumpah kepadamu dan kepada nenek moyangmu, dan negeri itu telah diberikanNya kepadamu' (Kel 13: 2.11). Persembahan Yesus di keneisah adalah antisipasi sempurna bahwa memang Dialah yang akan dikurbankan sebagai persembahan pelunas dosa seluruh umat manusia, yang tentunya lebih agung dan mulia daripada kurban paskah Israel di saat pembuangan dari Mesir.
Pesembahan korban,  yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, sebagaimana tersurat juga dalam hokum Taurat, adalah persembahan orang miskin, sebuah persembahan pentahiran atau pengudusan seorang ibu yang baru saja melahirkan. Inilah aturan hokum Taurat, aturan yang jahat! Sebuah aturan yang meremehkan kaum perempuan, aturan yang memandang seorang perempuan yang melahirkan itu beraada dalam keadaan tidak bersih, maka harus disucikan dan dikuduskan. Itulah dunia patriakhal yang egois!
Apakah perlu Yesus dipersembahkan sebagaimana tersurat dalam hokum Tuhan? Bukankah Dia sang Empunya kehidupan, dan Pewaris takhta kemuliaan kekal?  Yusuf dan Maria perlu mempersembahkan Yesus di kenisah, karena memang mereka adalah keluarga Nazaret yang taat akan hokum Taurat. Mereka mempersembahkan kepada Tuhan Allah, karena mereka memperoleh anugerah indah dalam hidup mereka, yakni sang buah hati keluarga. Mereka bersyukur kepada Tuhan atas kepercayaan yang dilimpahkanNya kepada mereka, atas kasih karunia Allah yang mereka nikmati. Yesus perlu dipersembahkan, karena bukankah Allah menjadi Manusia dengan maksud hendak  merasakan sendiri pengalaman manusia dalam berjuang mengejar kehidupan? Yesus menjadi Manusia. dan dengan berani merundukkan diri pada waktu yang mengalir dalam ruang, dan sekaligus berdiri pada kedua kaki yang berpijak pada ruang yang diselimuti oleh waktu dan pelbagai aturan budaya kehidupan. Yesus dipersembahkan oleh kedua orangtuaNya, karena memang betapa solidernya Allah akan hidup manusia.
Itulah inkarnasi Allah. Itulah tindakan yang sengaja hendak dilakukan dan dirasakan Yesus dengan menjadi Manusia. Itulah kemauan Allah! Surat kepada umat Ibrani dalam bacaan pertama merefleksikaannya: 'Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai'.
Simeon,  seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel, menyambut Anak itu dan menatangNya sambil memuji Allah, katanya: 'sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umatMu, Israel'.  Simeon mengatakan kebenaran. Yang dibopongnya, bukanlah sembarang Bayi, Dia adalah keselamatan, terang dan kemuliaan bagi umat Israel.
Apakah kedua orangtua Yesus mengerti apa yang disampaikan Simeon?  Bapa  serta ibuNya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.  Kiranya 'Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya' (Luk 2: 19). Tanpa banyak bicara lagi, Simeon memberkati mereka. Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
Allah mau merundukkan diri. Kita pun harus demikian!
.
 
Oratio :
 
Yesus, Engkau menjadi Manusia sama dengan kami, kecuali dalam dosa, karena memang Engkau hendak mengalami sendiri betapa beratnya perjuangan hidup untuk mengejar kesempurnaan. Engkau menjadi Manusia, karena Engkau mencintai kami. Yesus, kami mau belajar daripadaMu: bagaimana kami dapat menikmati hidup ini dengan penuh syukur, bukan dengan mencari-cari kegiatan yang luar biasa dan mengagetkan, melainkan dalam hal-hal sederhana dan  melakukan tugas-tugas yang memang menjadi kewajiban kami sehari-hari. Amin.
 
 
Contemplatio :
          'Sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu'.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening