Rabu Masa Biasa V, 8 Februari 2012

1Raj 10: 1-10  +  Mzm 37  +  Mrk 7: 14-23
 
 
 
 
 
Lectio :
Pada suatu kali Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya." [Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!]
Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Maka jawab-Nya: "Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.
Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."
 
 
Meditatio :
'Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya'.
Najis. Seseorang yang najis adalah seseorang yang tidak bersih. Tidak bersih terhadap siapa? Terhadap dirinya sendiri? Bagaimana mungkin kita bisa menghindari diri kita sendiri, bagaimana mungkin seseorang menghindari dirinya sendiri? Berbeda memang dengan sikap dan tidakan menahan diri atau menyangkal diri. Nyatanya, orang harus berani menerima dirinya sendiri kalau memang dirinya tidak bersih, najis. Terhadap orang lain? Orang lain yang akan menyingkiri temannya yang dianggap najis dan tidak bersih itu. Inilah kelemahan sikap social kita manusia; dan memang inilah yang sering terjadi di antara kita. Kita membatasi dan bahkan menolak seseorang yang kita anggap dan memang nyatanya tidak bersih atau najis. Banyak orang menghindarinya karena mereka takut tertular ketidakbersihannya itu. Terhadap Tuhan? Benarkah Tuhan itu menghindari dan menolak umatNya yang najis? Hanya sebatas itukah keagungan dan kemuliaan Tuhan? Keagungan dan kemuliaanNya hanya ditentukan oleh manusia ciptaanNya. Apakah najis itu hanya pengertian buatan manusia melulu, dan memang bukan kehendak Tuhan?
'Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?', tegas Yesus. Apakah ketidakbersihan saya terhadap orang lain, dan terlebih kepada Tuhan, ditentukan oleh makanan? Apakah makanan yang saya nikmati itu lebih agung dan mulia daripada diri saya? Memang hak azasi orang lain  dan hak priviligi Tuhan untuk menghindari dan menolak saya, tetapi apakah hanya karena makanan? Tidak adakah sesuatu yang baik dalam diri saya? Jawaban Yesus memberi kepastian dan kelegaan: segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya.  Najis seseorang tidak ditentukan oleh makanan. Semua makanan halal.
Sebaliknya, yang membuat seseorang tidak bersih atau najis, baik terhadap dirinya sendiri, orang lain dan terlebih pada Tuhan Allah adalah apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, tegas Yesus. 'Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang'.
Adakah seorang pribadi terus-menerus ingin selalu berkanjang dalam kejahatan, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan? Tentunya orang tidak ingin tenggelam dalam dosa dan kejahatan melulu, dia sungguh-sungguh terbelenggu oleh dosa dan kejahatannya; dan secara kodrati dia pasti ingin terbebas dari kungkungan itu. Adakah orang yang merasa bangga mempunyai teman selalu terlibat dalam tindak kejahatan, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kesombongan, kebebalan; apakah dia akan memamerkan temannya ke sahabat-sahabatnya yang lain tentang keberadaan temannya itu? Kiranya malahan secara diam-diam dia pun akan meninggalkan temannya itu. Adakah Tuhan Allah juga berdiam diri bila ada umatNya yang tenggelam dalam percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan? Apakah Tuhan membiarkan umatNya tidak selamat? Lain hal, bila memang orang itu secara sengaja memilih aneka kejahatan itu hanya untuk memuaskan diri, karena memang orang yang tenggelam dalam percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan,  itu selalu menyembunyikan diri dari Tuhan.
Kiranya kondisi tubuh kita sendiri yang akan membatasi seseorang yang bebas makan segala jenis makanan dan minuman. Kiranya setiap orang harus berani jaga body untuk tampil sehat terhadap dirinya sendiri dan orang lain yang ada di sekitarnya.
 
 
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus,  Engkau memberi kesempatan setiap orang untuk menikmati hasil ciptaanMu, sebab yang membuat najis kami adalah segala kemampuan jahat yang kami miliki, dan bukannya makanan dan minuman yang boleh kami nikmati.  ya Tuhan, ajarilah kami untuk berani bersyukur kepadaMu, tetapi terlebih bantulah kami agar kami berani mengendalikan diri sesuai dengan kehendakMu. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening