Selasa Masa Biasa V, 7 Februari 2012

1Raj 8: 22-30  +  Mzm 84  +  Mrk 7: 1-13
 
 
 
 
 
Lectio :
Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.
Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?" Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."
Yesus berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban -- yaitu persembahan kepada Allah --, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan."
 
 
 
Meditatio :
Ribet kali!
Komentar itulah yang dapat kita berikan kepada orang-orang Yahudi yang begitu sibuk dengan urusan-urusan tradisional. Tidak salah. Itu baik. Tetapi terlalu sibuk dengan urusan-urusan semacam itu, seperti: membasuh tangan, mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga; apalah faedahnya.. Lebih hebat lagi, yang mempersoalkan urusan semacam ini adalah orang-orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem! Mungkin bisa dipahami bila yang mempersoalkan semuanya itu adalah kita orang kampong dengan kemampuan intelek yang amat terbatas; namun terasa lucu dan perlu dipertanyakan bila yang mempersoalkan adalah orang-orang Farisi dan ahli Taurat, orang-orang cerdik pandai dan penyandang gelar kesarjanaan, dari kota Yerusalem metropolitan. Tak ubahnya sekarang ini masih banyak professor dan tokoh-tokoh masyarakat mau mengurus persoalan seputar membasuh tangan, mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga, padahal ada masalah hidup yang lebih mendasar dan penting, yang perlu mendapatkan perhatian serius.
'Mengapa murid-muridMu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?', inilah persoalannya.
Jawab Yesus kepada mereka: 'benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia'. Bagaimana seseorang dapat beribadah dengan khusuk dan sungguh-sungguh terbantu dalam berkomunikasi dengan Tuhan, bagaimana mencintai Tuhan dengan senap hati dan sepenuh jiwa dan bagaimana mengasihi sesame seperti diri sendiri, adalah aneka persoalan yang seharus menjadi perhatian dalam hidup ini tidaklah mendapatkan tekanan dalam hidup sehari-hari. Apakah kelayakan seseorang di hadapan Tuhan hanya sebatas dia membasuh tangan, mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga yang dimilikinya; dan dengan demikian juga otomatis menjadi orang yang baik dan bermoral dalam hidup bersama, bila mengurus aneka cawan itu?
'Sungguh pandai', tegas Yesus, secara sengaja dan benar-benar terprogramkan 'kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri'.  Sepertinya mereka mencari urusan yang lebih mudah.  Contoh: 'Musa telah berkata: hormatilah ayahmu dan ibumu!  siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati'. Menghormati orangtua adalah kewajiban. 'Namun kamu berkata: kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban, yaitu persembahan kepada Allah, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya'. Kurban persembahan lebih penting daripada kehidupan dan keselamatan kedua orangtuanya; atau sebaliknya seringkali waktu meninggalnya sang orangtua dirayakan secara meriah dan kuburannya pun dibuat megah, tetapi ketika mereka hidup di usianya yang sudah lanjut: sapaan dan senyum kasih sedikit pun tidak diberikannya. 'Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu', tegas Yesus. Mempersembahkan korban lebih menarik daripada memberi perhatian kepada kedua orang tuanya, apalagi disaat persembahan itu diadakan, dia mendapatkan pujian dan hormat dari tetangga kanan dan kirinya. Banyak orang seringkali tidak mau memberi yang terbaik bagi sesamanya.
'Ya TUHAN, Allah Israel!', seru Salomo kepada Tuhan Allah, 'tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hambaMu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapanMu; tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini'.
          Sebuah seruan kepercayaan Salomo akan keagungan dan kemuliaan Tuhan Allah. Dia sungguh agung dan mulia, tiada tandingnya. Segala yang di dunia ini tidak tertandingi, semuanya fana. 'Benarkah Allah hendak diam di atas bumi?'; suatu hal yang sulit dimengerti. 'Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini'. Sekali lagi sebuah kesadaran diri akan keterbatasan diri sebagai manusia lemah, yang memang tidak ada diagungkan. Sikap inilah yang seharusnya tertanam kuat dalam diri orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, dan bukan sebaliknya. Memilih yang terbaik dalam hidup adalah sebuah pengalaman yang harus dilatih dan dibiasakan, sebagaimana dilakukan oleh Salomo dan bukan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.
          Kiranya jiwa Salomo juga menjadi jiwa kita dalam meniti panggilan hidup ini.
 
 
 
 
Oratio :
 
Ya Tuhan Yesus,  semoga kami semakin hari semakin berani belajar tentang kehidupan, hidup dengan bijak sebagai seorang pribadi.  Memberi perhatian secara proporsional dalam setiap peristiwa kehidupan ini. Yesus, limpahkanlah rahmat kebijaksanaanMu dalam diri kami masing-masing. Amin.
 
 
Contemplatio :
          Janganlah  mengesampingkan perintah Allah dengan memelihara adat istiadatmu sendiri.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening