Selasa Prapaskah I 28 Februari 2012


Yes 55: 10-11  +  Mzm 34 +  Mat 6: 7-15
 
 
 
 
 
Lectio :
Kata Yesus kepada para muridNya: " dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.
Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."
 
 
 
Meditatio :
'Janganlah kamu bertele-tele dalam doa-doamu seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepadaNya'.
Orang yang bertele-tele dalam doa menandakan dia tidak mengerti dan tidak yakin akan apa yang dimohonkan dan dipajatkan kepada Tuhan. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia memang tidak siap berdoa. Dia tidak berdoa dengan hati. Atau sebaliknya, dia merasa pandai dan hendak membius Tuhan dengan kata-kata manis. Kalau tidak kena satu, ya lainnya moga-moga dikabulkan, maka dia omong sana-sini. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Dia mengira Tuhan itu Orang yang bodoh!  Atau memang seperti orang yang tidak mengenal Allah, yang  memang bingung, doa-doa dan permohonannya hendak diarahkan dan ditujukan kepada siapa. Dia hanya mengenal dirinya sendiri.
Kiranya pengenalan pemazmur akan Tuhan Allah yang mahakuasa juga menjadi pengenalan kita, bukankah  Bapa mengetahui apa yang kita perlukan, sebelum kita minta kepadaNya. Katanya,  'TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tanganMu ke atasku. Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya'.
Karena itu berdoalah demikian, kata Yesus:
Bapa kami yang di sorga,
Dikuduskanlah namaMu,
datanglah KerajaanMu,
jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
Karena Engkaulah yang Empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.
Sebuah doa yang berisikan pengakuan dan pujian kepada Bapa di surge, karena memang Dialah sang Empunya kehidupan. Kita mohon kepadaNya, agar Bapa membuat  kita semakin hari semakin berani merundukkan diri di hadapanNya, biarkanlah KerajaanNya menguasai dan menjaga hidup kita, dan tidak ada yang lain, biarlah kita semakin diteguhkan dalam berbagi kasih, dan kita diteguhkan dengan rahmat dan rejekiNya setiap hari. Sebab kita semua adalah peziarah dalam mendaki GunungNya yang kudus.
Secara istimewa, sepertinya Bapa di surge memperhitungkan keberanian kita dalam berelasi kasih dengan sesame, terlebih dalam memaafkan dan mengampuni sesame, sebagaimana dikatakanNya tadi: 'jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga, tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu'. Istilah memperhitungkan kita pakai di sini, karena memang Allah sungguh-sungguh meminta agar kita berani mengampuni dan mengampuni sesame kita. Sebab sifat pengampun adalah sifat Allah sendiri, sifat yang meringankan jiwa bagi mereka yang mendapatkan pengampunan dan juga bagi mereka yang berani memberi pengampunan kepada sesama. Pengampunan membuka sekat-sekat kehidupan yang membatasi gerak seseorang mau melangkahkan diri.
Istilah memperhitungkan sekali lagi kita kenakan di sini karena memang kasih Allah bersifat abadi, sebagaimana kita renungkan dalam bacaan pertama tadi. 'Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firmanKu yang keluar dari mulutKu: ia tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya'. Demikian kita juga orang-orang yang dikasihiNya.
 
 
Oratio :
 
Yesus Kristus, Engkau sungguh baik. Buat lah kami mempunyai jiwa pengampun seperti Engkau sendiri.  Tuhan, ampunilah segala dosaku, Tuhan kasihani hambaMu ini. Aku sungguh menyesal atas segala dosaku. Tuhan kasihanilah kami.  Amin.
 
 
Contemplatio :
'Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami'.
 
 
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening