Senin Masa Biasa VI, 13 Februari 2012


Yak 1: 1-11  +  Mzm 119  +  Mrk 8: 11-13
 
 
 
 
 
Lectio :
Suatu hari datanglah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda." Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang.
 
 
Meditatio :
'Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda'.
Penegasan Yesus kepada orang-orang Farisi yang mencobai Dia. Mereka tidak mendapatkan hasil apa-apa. Terlalu nekad mereka mencobai Yesus; tiada guna. Penegasan Yesus ini juga menjawabi keinginan teman-teman yang mengatakan: seandainya Yesus hidup bersama kita sekarang ini, atau kita hidup bersama Yesus pada jaman dahulu pasti kita menikmati segala yang indah, bukankah kita adalah orang-orang yang percaya kepadaNya. Seandainya kita percaya seperti para muridNya, tentulah kita menikmatinya. Seandainya kita pun bersikap seperti orang-orang Farisi, kemungkinan besar bisa terjadi pada diri kita, Yesus pun akan berkata kepada kita: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda', kita tidak mendapatkan apa-apa daripadaNya, malulah kita; atau pun seandainya kita tidak diijinkan terus mengikutiNya, 'pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu' (Mrk 5: 19). Apa yang dapat kita buat? Kita harus realis. Kita hidup sekarang dan di sini.
Mereka mencobai Yesus, karena mereka jahat. Mereka menolak keselamatan dari Tuhan.
Mereka mencobai Yesus karena pengenalan mereka amat terbatas. Pada waktu itu mereka hanya mengenal dan menerima kasih karunia hanya sebatas mukjizat-mukjizatNya.  Mereka belum menikmati karunia yang terindah dan termulia, yakni kematian dan kebangkitan dari alam maut, rahmat karunia penebusan ilahi.  Tidaklah demikian kita orang-orang yang percaya kepadaNya. Kita melihat, merasakan dan menikmati tanda agung dan mulia itu, yang diberikan kepada kita semenjak kita ambil bagian dalam pembaptisan, dan selalu kita perbaharui dalam tubuh dan darahNya. Kini persoalan kita bukanlah meminta tanda daripadaNya, melainkan bagaimana menikmati tanda agung mulia yang diberikan kepada kita. Sebab menikmati tanda agung dan mulia itu berarti ambil bagian secara aktif dalam kematian dan kebangkitanNya, dan bahkan menjadikannya sebagai andalan hidup kita.
Hari ini Yakobus dalam bacaan pertama mengajak, pertama, agar kita semakin sabar dan setia dalam kepercayaan akan tanda agung  itu, walau menghadapi aneka tantangan dan kesulitan. Katanya: 'saudara-saudariku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan; dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun'. Sebab memang menikmati tanda yang agung dan mulia itu tidaklah berarti lepas bebas dari perbagai persoalan hidup sehari-hari. Sebaliknya, kita diminta menunjukkan sejauhmana kepercayaan akan tanda agung dan mulia itu menjadi kekuatan hidup kita.
Kedua, kita tunjukkan kebersandaran kita kepada Tuhan Yesus yang telah mati dan bangkit itu dengan selalu beranu memohon dan memohon bantuanNya. 'Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan, sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya'. Tuhanlah perisai dan harapan hidup kita. Dialah perlindungan kita, dan hanya padaNyalah kita berharap.
Hal inilah juga yang kita renungkan kemarin dalam renungan hari Minggu, sebagaimana dialami seorang yang mengidap sakit kusta, yang begitu berani nrombol kerumunan dan batasan-batasan social yang ada, yang mengikat dan mengekang dirinya; dia berani maju ke depan karena percaya bahwa Yesus mau melakukan yang baik bagi dirinya. Dia memohon hikmat dari Tuhan Yesus untuk menghadapi persoalan hidupnya. Dia merasa tidak berdaya lalu menyandarkan diri kepada Tuhan Yesus.
Bersama kita bisa!    
Bisa apa?  Bisa bersikap dan bertindak seperti orang kusta itu.  Ada kemauan ada jalan!
 
 
 
 
Oratio :
 
Ya Yesus, Engkau mengijinkan kami menikmati tanda agung dan mulia daripadaMu, yakni rahmat dan karya penebusanMu. Ajarilah kami ya Yesus untuk menikmatinya, yakni dengan berbalik dan terus memandang tanda agung itu setiap kali kami menanggapi  aneka persoalan hidup ini, sebab bila kami menghitung-hitung diri kami, apalah kami ini. Yesus bantulah kami selalu, amin.
 
Contemplatio :
          Hendaklah ia meminta dalam iman, dan sama sekali janganlah bimbang;  sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
 
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening