Hari Raya Santo Yusuf, 19 Maret 2012


2Sam 7: 12-16  +  Rom 4: 13-22  +  Mat 1: 16.18-21.24

 

 

 

 

Lectio :

Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."

 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

 

 

Meditatio :

'Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus'.

Adalah sebuah pernyataan yang memberi penegasan bahwa Yesus adalah seorang Israel, keturunan Daud. Dia hendak melanjutkan sejarah Israel sebagai bangsa terpilih, keturunan dari para bapa bangsa: Abraham, Ishak dan Yakub, serta raja Daud, saat Israel mengalami masa kejayaannya. Penyataan ini sekaligus hendak menyatakan bahwa memang Yesuslah yang akan merehab seluruh keturunan Israel untuk kembali menikmati kasih Allah, sebagai bangsa yang dikasihiNya, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama tadi: 'Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanKu, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya'.

'Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu,  sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka'.

Perintah inilah yang harus dilakukan oleh Yusuf. Pertama, karena memang dia sedang menghadapi pengalaman yang pahit dan tidak bisa diterima nalar, dan harus berhadapan dengan pengalaman susila. Dia berhadapan dengan Maria, perempuan tunangannya, yang ternyata sudah mengandung, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Apakah dia harus menerima kenyataan semacam ini? Menerima Maria berarti menyetujui perbuatan Maria, yang mengakibatkan dia harus  mengandung sebelum mereka menerima peneguhan perkawinan. Lebih baik aku harus meninggalkan dia! Namun supaya tidak tercemarkan namanya di muka umum, Yusuf bermaksud menceraikan Maria dengan diam-diam. Sebuah sikap kerendahanhati, yang tidak mau mencari menangnya sendiri. 'Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu' (1Kor 13: 7). Ada cinta dalam diri Yusuf.

Kedua, 'Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu'. Yusuf diminta untuk menerima Maria sebagai isterinya. Jangan takut, Allah akan membentengi dirinya dalam menerima keberadaan Maria. Yusuf diminta tidak kuatir dan gelisah  menerima Maria, terlebih menanggapi komentar social yang akan diterimanya. 'Sebab Anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka'. Inilah alasan mengapa Yusuf diminta tidak takut menerima Maria, yang tidak lain dan tidak bukan berarti menerima Anak yang dikandung dari Roh Kudus itu. Anak itu adalah Yesus, Allah yang menyelamatkan, Dia datang hendak membebaskan umat manusia dari belenggu dosa. Sebutan anak Daud, tentunya juga akan dinikmati oleh Anak yang dikandung Maria, karena keberaniannya menerima Maria sebagai isteri; menerima Anak yang dikandung Maria sebagai Anaknya sendiri

'Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya'. Sebuah tindakan yang benar-benar luhur dan mulia. Dia menerima Maria yang ternyata sudah mengandung itu, karena permintaan Tuhan Allah. Dia menerima kemauan Tuhan; apa yang Tuhan kehendaki, dia laksanakan! Yusuf memang tidak berkata 'aku ni hamba Tuhan, terjadilah padakau menurut sabdaMu' (Luk 1: 38), sebagaimana dikatakan Maria, tetapi dia sungguh-sungguh pendengar dan pelaksana sabda (Yak 1: 22). Dia melaksanakan kehendak Tuhan tanpa harus berkata-kata.

Apakah Yusuf orang yang bodoh, yang begitu mudahnya menerima kemauan Tuhan? Apakah dia tidak menggunakan akal budinya untuk bertanya dan bertanya? Apakah dia tidak berpikir tentang resiko yang akan diterimanya? Bodoh kali kau, mungkin teriakan itulah yang akan dilontarkan oleh orang-orang yang dimintai tanggapan atau nasehat oleh Yusuf. Yusuf tidak melakukan semuanya itu. Yusuf pasti mengalami pergolakan bathin! Yusuf pasti merasakan gejolak jiwa! Namun bagi Yusuf kemauan Tuhan memang harus lebih diutamakan dibanding pertimbangan insani. Yusuf sungguh-sungguh orang beriman!

Iman Yusuf inilah yang juga dihayati oleh Abraham, seperti yang dikatakan dalam bacaan kedua tadi. 'Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman. Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham'.

Apa yang dapat kita perbuat dengan pesta syukur bersama santo Yusuf pada hari ini?

            Sebagaimana Yusuf, seorang yang mengandalkan iman kepercayaan dalam berhadapan dengan hidup, demikian hendaknya kita. 'Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa'.

            Kita malahan harus semakin berani percaya dan berharap kepada Tuhan Allah, karena bukannya kita tidak mempunyai landasar dasar untuk berharap, sebagaimana dialami Abraham dan Yusuf, malahan sebaliknya, kematian dan kebangkitan Kristus, yang memberikan rahmat penebusan inilah dasar dan harapan kita.  Iman kepercayaan kita seharusnya lebih kuat disbanding Yusuf.

 

Oratio :

 

Ya Tuhan Yesus, di hari raya Santo Yusuf ini, kami Engkau ingatkan sungguh-sungguh  akan iman kepercayaan kami. Kami memang mudah mengadalkan kekuatan diri, kami egois, kami sombong, kami merasa diri baik dan benar , kami merasa lebih tahu dari banyak orang.

Yesus, semoga keberanian Yusuf dalam menerima Engkau, juga menjadi sikap hidup kami dalam berhadapan dengan realitas hidup ini. Amin.

 

Contemplatio :

           'Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu'.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening